Bisa dibilang, bahwa kesalahan umum yg banyak dialami bangsa ini adl terlalu cepat bereaksi atas suatu informasi tanpa cek kevalidannya
Sehingga akhirnya yg terjadi tentu saja kekacauan (jika informasinya negatif) dan kekaguman berlebihan (jika informasinya positif).
Kalau positif sih mending, keadaan pasti aman terkendali. Kalau negatif? Pasti yg trjadi adl fitnah bahkan bisa berlarut & berkepanjangan
Padahal arahan syariah semestinya saat kita menerima suatu informasi, apapun itu, kita jangan seketika itu berkomentar. Apalagi reaksi
Kita harus memastikan validitas kabar itu, dari mana, siapa yg bawa, agar kita tidak terjebak pada hal2 yg nantinya membuat sesal saja
Kaidah kehidupan terbesar dan paling dasar soal itu adalah tentu saja Al-Qur'an 49:6
Bahwa jika ada suatu informasi datang kepadamu, pastikan kebenarannya terlebih dahulu.Siapapun yg bawa. Apalagi kalau yg bawa orang fasiq
Kekacauan dan pertengkaran yg sering kita lihat di sosmed juga dunia nyata saat ini adalah disebabkan cepatnya respon dan reaksi itu
Belum lagi memang di sana ada pihak yg ingin memancing keributan dg sengaja mensetting kekacauan itu (faudho khollaqoh).
Padahal segala kekacauan jika tidak jelas mana yg benar dan mana yg salah, dua kelompok saling tuding, itu artinya terjadi fitnah.
Dan sikap terbaik kita saat terjadi fitnah (sebagaimana yg diajarkan syariah) adalah menepi.. Cukup jadi penonton.
Karena fitnah itu tidak pandang bulu, memakan siapa saja, yg paling sholeh dan yg paling preman sekaligus
Dalam peribahasa Arab dikatakan bahwa "Al-khobar kal ghubar", berita/informasi itu seperti debu.
Nah filosofinya, jika debu itu tertiup angin dan masuk mata, maka pasti membuat kelilipan, atau masuk hidung pasti membuat alergi
Artinya, kabar/informasi yg tidak jelas itu pasti mengganggu.
Dalam suatu hadits dikatakan bahwa kehancuran ummat ini ada pada 3 hal: meributkan takdir, fanatisme buta dan ...
. ... Tidak memastikan kebenaran dalam memforward suatu informasi/berita (adamut tatsabbut fir riwayah)
Sebab ketiga hal tadi sangat jelas sekali ujungnya menimbulkan pertikaian. Masih untung kalau cuma adu mulut, kalau bunuh2an?
Maka tentu dalam hal ini yg kita harus hati2 dalam bersikap adalah media. Apalagi jika sudah bersangkut paut dengan politik.
Ada jg hal lain yg kita mesti ekstra hati2, infotainment. Terutama jika topik beritanya adl perselingkuhan. Usahakan jaga mulut di sini.
Karena jika tidak berhati2, justru seseorang bisa terjebak dlm beberapa dosa besar sekaligus. Tanpa ia sadari. Tahu2 rekening dosa penuh
Pertama, ghibah (nggosip). Oke mungkin kita berdalih tdk terlibat pembicaraan on air. Tapi dg mendengar saja sudah tercatat dosa.
Kedua, yg rawan, jika perselingkuhan itu gosipnya mengarah ke perzinahan, sementara pemirsa langsung menjudge dan mengolok2 pelaku
Kalaupun bener zina, apa hak dia mengolok pelaku zina itu? Bahkan Nabi mewarning, jika seseorang mengolok saudaranya yg melakukan dosa..
..maka dia tidak akan mati sampai melakukan dosa itu sendiri. Nah kan? Hukum karma yg seram.
Dan kalau ternyata dia tidak terbukti zina, maka si komentator ini terjebak dalam Qodhf, menuduh orang yg tidak zina dg berzina.
Dan Qodhf sendiri adalah satu di antara 7 daftar dosa besar yang menghancurkan pelaku sekaligus seluruh amalnya.
Dalam hukum pidana syariah, semestinya orang yg melakukan Qodhf ini digebug 80x
Jika dipikir2, banyak bencana dan kekacauan yg dialami bangsa kita ini bisa jadi dari dosa kolektif semacam ini.
Bersumber dari ketiadaan ricek atas akurasi suatu informasi. Apalagi kalau informasinya sengaja dipotong sana-sini. Pemlintiran berita.
Bagi yg mempelajari Fiqh Tahawwulat (ilmu syariaj yg mempelajari dan menganalisa tanda2 zaman), fenomena ini masuk kategori..
.. Alamat Qiyamah Sughro, atau tanda umum dekatnya hari kehancuran. Istilahnya "al-Lakhbathoh fil i'lam", kekacauan informasi.
Akhirnya, sikap terpenting yg harus kita lakukan dalam keseharian kita adalah memastikan terlebih dulu kebenaran suatu informasi.
Pelajari baik2 satu persatu, jangan cepat merespon atau bereaksi sementara objek/informasi yg kita terima tak sepenuhnya dipahami.
Akhir twit, kata temanku, "berita2 tu ndak ada yg bener, hoax semua,yg bener cuma berita olahraga doang, 1-0 ya 1-0, nggak mungkin 10-0"
1 Feb 2014
Membahas Soal Ijma, Jumhur Dan Pendapat Mayoritas
Beberapa kali dalam kultwitku aku membahas suatu topik sembari menyebut kata "Mayoritas".
Semisal suara mayoritas (voice majority, Jumhur) kala membahas madzhab fiqih, atau kelompok mayoritas (assawad al-a'dzom) soal tasawwuf
Yg membuatku sedikit terkejut adalah pernyataan bahwa "mayoritas belum tentu benar", atau "suara mayoritas tidak mewakili kebenaran".
Kalimat ini, bisa jadi benar. Namun bagi pemerhati bahasa,kalimat ini masih sangat nisbi sekali,jadi harus dijelaskan mayoritas yg gmana?
Sebelumnya yg harus tweep ketahui, jika aku sebut kata mayoritas (yg aku nukilkan dari referensi2 valid), maka harus dipaham bahwa...
...mayoritas di sini adalah mayoritas ummat ini secara global sedunia, bukan mayoritas di suatu negara saja, atau mayoritas ummat lain.
Maka kata "mayoritas belum tentu benar", atau "suara mayoritas (ummat islam sedunia) belum tentu benar", jika digunakan sbagai argumen..
... Untuk menyalahkan mayoritas dalam ummat ini (secara global), maka tentu saja salah dan tidak benar.
Karena suara mayoritas ummat ini telah mendapatkan jaminan perlindungan dari syariat (hasonah/ishmah syar'iyyah)
Dan itu terdapat dalam Qur'an 4:115 dan hadits Nabi yg berbunyi "laa tajtami'u ummati ala dholalah". (HR. Tirmidzy).
Bahwa mayoritas ummatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan. Di hadits lain ada tambahan, Yadullah ma'al jamaah..
Bahwa perlindungan dan rahmat Allah terdapat dalam kebersamaan. Makanya di hadits lain Nabi bilang "alaikum bis sawad al-a'dzom".
Arti bebasnya, ikut kelompok mayoritas dalam ummat ini, jangan yg minoritas, dilempar ke neraka nanti (man syaddza syuddza fin nar)
Maka jika ada kelompok minoritas (yg kecenderungannya selalu membuat pecah, suka geger, suka menyalahkan), apapun jenis minoritas itu..
..menggunakan argumen "mayoritas belum tentu benar", untuk menyalahkan kelompok mayoritas dalam ummat ini...
...artinya dia melakukan kesalahan dalam beberapa hal sekaligus; pertama dia menabrak ayat dan hadits yg menjamin suara mayoritas ummat
Kedua, jelas sekali bahwa banyak hadits2 dan ayat penting yg tidak dipahami dg baik olehnya (gitu ngajaknya kembali ke qur'an & sunnah)
Ketiga, sangat jelas dia tidak paham Ushul fiqh (khususnya bab Ijma'), dan jelas sekali dia tidak paham ilmu Fiqh Tahawwulat
Maka tentu saja jika argumen itu digunakan untuk menjegal dalil2 mayoritas, sejak awal telah tertolak secara ilmiah.
Sayangnya argumen2 palsu ini (termasuk argumen "ini tidak dilakukan Nabi") begitu gencar diracunkan pada tatacara berpikir ummat.
Akhirnya tentu yg timbul adalah perpecahan dan kekacauan, belum lagi dalil salah tempat yg mereka pakai semisal hadits "Ghuroba' "..
Gimana tweeps? Sangat teknis sekali ya? Tapi ini harus dipahami dg baik sebab banyak hal2 pemicu keraguan yg saat ini ditebar di mana2
Maka perisai dan senjata ilmu adalah segalanya. Atau kalau tidak punya, ikuti saja ulama2/kyai tua di tempatmu..
Mereka itu dari generasi yg masih belum ada kekacaubalauan informasi seperti saat ini. Meski dibilang jadul, paling selamat ikut mereka.
Moga mencerahkan... Selamat malam..
Semisal suara mayoritas (voice majority, Jumhur) kala membahas madzhab fiqih, atau kelompok mayoritas (assawad al-a'dzom) soal tasawwuf
Yg membuatku sedikit terkejut adalah pernyataan bahwa "mayoritas belum tentu benar", atau "suara mayoritas tidak mewakili kebenaran".
Kalimat ini, bisa jadi benar. Namun bagi pemerhati bahasa,kalimat ini masih sangat nisbi sekali,jadi harus dijelaskan mayoritas yg gmana?
Sebelumnya yg harus tweep ketahui, jika aku sebut kata mayoritas (yg aku nukilkan dari referensi2 valid), maka harus dipaham bahwa...
...mayoritas di sini adalah mayoritas ummat ini secara global sedunia, bukan mayoritas di suatu negara saja, atau mayoritas ummat lain.
Maka kata "mayoritas belum tentu benar", atau "suara mayoritas (ummat islam sedunia) belum tentu benar", jika digunakan sbagai argumen..
... Untuk menyalahkan mayoritas dalam ummat ini (secara global), maka tentu saja salah dan tidak benar.
Karena suara mayoritas ummat ini telah mendapatkan jaminan perlindungan dari syariat (hasonah/ishmah syar'iyyah)
Dan itu terdapat dalam Qur'an 4:115 dan hadits Nabi yg berbunyi "laa tajtami'u ummati ala dholalah". (HR. Tirmidzy).
Bahwa mayoritas ummatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan. Di hadits lain ada tambahan, Yadullah ma'al jamaah..
Bahwa perlindungan dan rahmat Allah terdapat dalam kebersamaan. Makanya di hadits lain Nabi bilang "alaikum bis sawad al-a'dzom".
Arti bebasnya, ikut kelompok mayoritas dalam ummat ini, jangan yg minoritas, dilempar ke neraka nanti (man syaddza syuddza fin nar)
Maka jika ada kelompok minoritas (yg kecenderungannya selalu membuat pecah, suka geger, suka menyalahkan), apapun jenis minoritas itu..
..menggunakan argumen "mayoritas belum tentu benar", untuk menyalahkan kelompok mayoritas dalam ummat ini...
...artinya dia melakukan kesalahan dalam beberapa hal sekaligus; pertama dia menabrak ayat dan hadits yg menjamin suara mayoritas ummat
Kedua, jelas sekali bahwa banyak hadits2 dan ayat penting yg tidak dipahami dg baik olehnya (gitu ngajaknya kembali ke qur'an & sunnah)
Ketiga, sangat jelas dia tidak paham Ushul fiqh (khususnya bab Ijma'), dan jelas sekali dia tidak paham ilmu Fiqh Tahawwulat
Maka tentu saja jika argumen itu digunakan untuk menjegal dalil2 mayoritas, sejak awal telah tertolak secara ilmiah.
Sayangnya argumen2 palsu ini (termasuk argumen "ini tidak dilakukan Nabi") begitu gencar diracunkan pada tatacara berpikir ummat.
Akhirnya tentu yg timbul adalah perpecahan dan kekacauan, belum lagi dalil salah tempat yg mereka pakai semisal hadits "Ghuroba' "..
Gimana tweeps? Sangat teknis sekali ya? Tapi ini harus dipahami dg baik sebab banyak hal2 pemicu keraguan yg saat ini ditebar di mana2
Maka perisai dan senjata ilmu adalah segalanya. Atau kalau tidak punya, ikuti saja ulama2/kyai tua di tempatmu..
Mereka itu dari generasi yg masih belum ada kekacaubalauan informasi seperti saat ini. Meski dibilang jadul, paling selamat ikut mereka.
Moga mencerahkan... Selamat malam..
Mengenang Mbah Surip (Sebuah Dialog Imanjiner)
Suatu hari, pada Agustus 2009, seseorang tampak bersedih atas kematian seniman yang sedang naik daun, musiknya sedang booming di mana2
apalagi yang judulnya "Tak Gendong Ke Mana-Mana".
Namun kesedihan itu sedikit terusik ketika seseorang melihatnya dan mempertanyakan hal yang sedang disedihkannya itu.
"Kamu sedih ya atas matinya Mbah Surip?" Tanya orang yang baru datang tadi. "Iya." Jawabnya
"Bagaimana kamu bersedih atas orang yang hidupnya selalu berkubang dalam dosa, pergaulannya kayak gitu?" Kejar orang tadi.
Sejenak dia terdiam lalu menjawab, "Suatu hari saat Nabi sedang berbincang dg sahabatnya, tiba2 ada serombongan pengusung jenazah lewat..
. ..Nabi segera berdiri menghormati jenazah itu. Sementara para sahabat tetap duduk sambil bilang, "Ya Rasul, itu jenazahnya orang Yahudi."
Rasul membalas, "Bukannya dia manusia?". Nah, aku jawab pertanyaanmu, bukankah Mbah Surip juga manusia?"
" Kamu tahu nggak? Mereka itu, para artis itu, seniman itu, semuanya ke Neraka!" Kata orang tadi ketus.
" Hah? A'udzubillah, apakah kamu sudah berani berkata mendahului Allah? Apa kamu tidak tahu Rasul pernah bercerita...
. .. bahwa konon ada orang bilang: Demi Allah, Allah tidak akan Mengampuni orang itu!" Kemudian Allah Membalas: ...
" Siapa yang berani bersumpah mendahului-Ku bahwa aku tidak akan Memaafkan seseorang, maka -ketahui- bahwa Aku telah ampuni orang itu..
... dan Aku gugurkan semua pahala amalmu!". Hati-hati dengan kata-katamu yang bisa menggugurkan pahala amalmu sendiri."
"Bagaimana mungkin Allah Mengampuni orang seperti mereka yang sudah tersesat masih menyesatkan lagi?" Masih saja dia bersikukuh.
" Allah Mengampuni siapapun Yang dikehendaki-Nya, Dia Kuasa atas segala sesuatu, Dia Maha Pengampun Penyayang Pengasih...
. ... Melakukan apapun yang dikehendaki. Lagipula kamu apa tahu dan apa bersama dia saat dia terbaring sakit? Siapa tahu dia bertaubat...
... yang justru karena taubat itu dosanya diampuni Allah semua. Siapa tahu juga dia diam-diam punya perbuatan baik...
.. yang bisa menolongnya di alam baka sana. Kamu tahu kan bgaimana kisah seorang PSK yg dosanya diampuni Allah sbb mmberi minum anjing?"
"Ah, kamu ini, sudah, cukup, nanti semua orang bisa saja seenaknya bilang kalau mereka melakukan dosa dan Allah Maha Pengampun."
"Siapa yg bilang gitu,kita mesti mmbedakan antara interaksi seorang pendosa dg Tuhannya, & interaksi seorang pendosa dg manusia lainnya.
. .. Seorang pendosa sudah semestinya mencela dirinya sendiri dan menyesali perbuatannya sepanjang waktu,..
adapun sikap orang lain terhadap orang yang berbuat dosa adalah mengasihani, mendekati, memberi perhatian agar dia sadar dari salahnya..
.. Bukan malah mencelanya. Seperti halnya Nabi tetap berinteraksi sosial dengan orang-orang yang salah dan banyak dosa..
bukankah pernah datang pada beliau seorang pemabuk, lantas ada sahabat yang melaknatnya, apa yang dibilang Nabi?
"Jangan laknat dia, sesungguhnya dia Cinta Allah, Cinta Nabi-Nya". Nah bgaimana Nabi bisa bilang pemabuk itu Cinta Allah, Cinta beliau?
.. Coba renungkan, ambil hikmah dibalik sikap Nabi itu. Jangan hanya mencontoh beliau dalam soal merawat jenggot sama pakai jubah saja..
.. tapi contoh juga bagaimana kasih sayang beliau, akhlak beliau, dan bagaimana cara beliau berinteraksi dengan makhluk Allah." Urainya
" Loh, kamu menghina jenggot saya ya?" si pengkritik tadi nampaknya tersinggung dg kata jenggot
" Siapa yg hina jenggotmu? Jangan sampai kita menghina sunnah Nabi. Tapi aku bilang, semestinya kamu mengikuti Nabi dlm keseluruhannya..
... tidak cuma penampilan saja, jenggot, bawahan cingkrang, sehingga malah membuatmu lupa dari hal-hal batin".
" Memelihara jenggot itu wajib, bukan sunnah!" orang itu tampaknya marah, topiknya udah beralih.
" Mas, aku tahu ia wajib, dan meski seperti itu tema bahasan kita saat ini bukan jenggot, tapi lebih dari itu."..
"Kamu kira dalam syariat ini ada hal sekunder yang tidak penting ya?!" Orang tadi semakin muntab.
" Laa haula wa laa quwwata illa billah, kayaknya Mas ini memang nggak ingin diskusi ya? Maunya debat dan tengkar melulu...
.. Maaf, aku undur diri dulu, tampak jelas sekali perbedaan prioritas prinsip masing-masing dari kita. Sampai jumpa di waktu mendatang".
" Justru saya yang semestinya pamit, nggak pantas saya berbicara dengan orang berdagu plontos kayak kamu ini!" Balas orang tadi ketus.
"Oke, Jazakumullah." Dan percakapan itu berakhir begitu saja.
[ Dialog fiktif ] ... Ya Allah, ampuni seluruh kaum muslimin dan muslimat, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Penyayang ...
apalagi yang judulnya "Tak Gendong Ke Mana-Mana".
Namun kesedihan itu sedikit terusik ketika seseorang melihatnya dan mempertanyakan hal yang sedang disedihkannya itu.
"Kamu sedih ya atas matinya Mbah Surip?" Tanya orang yang baru datang tadi. "Iya." Jawabnya
"Bagaimana kamu bersedih atas orang yang hidupnya selalu berkubang dalam dosa, pergaulannya kayak gitu?" Kejar orang tadi.
Sejenak dia terdiam lalu menjawab, "Suatu hari saat Nabi sedang berbincang dg sahabatnya, tiba2 ada serombongan pengusung jenazah lewat..
. ..Nabi segera berdiri menghormati jenazah itu. Sementara para sahabat tetap duduk sambil bilang, "Ya Rasul, itu jenazahnya orang Yahudi."
Rasul membalas, "Bukannya dia manusia?". Nah, aku jawab pertanyaanmu, bukankah Mbah Surip juga manusia?"
" Kamu tahu nggak? Mereka itu, para artis itu, seniman itu, semuanya ke Neraka!" Kata orang tadi ketus.
" Hah? A'udzubillah, apakah kamu sudah berani berkata mendahului Allah? Apa kamu tidak tahu Rasul pernah bercerita...
. .. bahwa konon ada orang bilang: Demi Allah, Allah tidak akan Mengampuni orang itu!" Kemudian Allah Membalas: ...
" Siapa yang berani bersumpah mendahului-Ku bahwa aku tidak akan Memaafkan seseorang, maka -ketahui- bahwa Aku telah ampuni orang itu..
... dan Aku gugurkan semua pahala amalmu!". Hati-hati dengan kata-katamu yang bisa menggugurkan pahala amalmu sendiri."
"Bagaimana mungkin Allah Mengampuni orang seperti mereka yang sudah tersesat masih menyesatkan lagi?" Masih saja dia bersikukuh.
" Allah Mengampuni siapapun Yang dikehendaki-Nya, Dia Kuasa atas segala sesuatu, Dia Maha Pengampun Penyayang Pengasih...
. ... Melakukan apapun yang dikehendaki. Lagipula kamu apa tahu dan apa bersama dia saat dia terbaring sakit? Siapa tahu dia bertaubat...
... yang justru karena taubat itu dosanya diampuni Allah semua. Siapa tahu juga dia diam-diam punya perbuatan baik...
.. yang bisa menolongnya di alam baka sana. Kamu tahu kan bgaimana kisah seorang PSK yg dosanya diampuni Allah sbb mmberi minum anjing?"
"Ah, kamu ini, sudah, cukup, nanti semua orang bisa saja seenaknya bilang kalau mereka melakukan dosa dan Allah Maha Pengampun."
"Siapa yg bilang gitu,kita mesti mmbedakan antara interaksi seorang pendosa dg Tuhannya, & interaksi seorang pendosa dg manusia lainnya.
. .. Seorang pendosa sudah semestinya mencela dirinya sendiri dan menyesali perbuatannya sepanjang waktu,..
adapun sikap orang lain terhadap orang yang berbuat dosa adalah mengasihani, mendekati, memberi perhatian agar dia sadar dari salahnya..
.. Bukan malah mencelanya. Seperti halnya Nabi tetap berinteraksi sosial dengan orang-orang yang salah dan banyak dosa..
bukankah pernah datang pada beliau seorang pemabuk, lantas ada sahabat yang melaknatnya, apa yang dibilang Nabi?
"Jangan laknat dia, sesungguhnya dia Cinta Allah, Cinta Nabi-Nya". Nah bgaimana Nabi bisa bilang pemabuk itu Cinta Allah, Cinta beliau?
.. Coba renungkan, ambil hikmah dibalik sikap Nabi itu. Jangan hanya mencontoh beliau dalam soal merawat jenggot sama pakai jubah saja..
.. tapi contoh juga bagaimana kasih sayang beliau, akhlak beliau, dan bagaimana cara beliau berinteraksi dengan makhluk Allah." Urainya
" Loh, kamu menghina jenggot saya ya?" si pengkritik tadi nampaknya tersinggung dg kata jenggot
" Siapa yg hina jenggotmu? Jangan sampai kita menghina sunnah Nabi. Tapi aku bilang, semestinya kamu mengikuti Nabi dlm keseluruhannya..
... tidak cuma penampilan saja, jenggot, bawahan cingkrang, sehingga malah membuatmu lupa dari hal-hal batin".
" Memelihara jenggot itu wajib, bukan sunnah!" orang itu tampaknya marah, topiknya udah beralih.
" Mas, aku tahu ia wajib, dan meski seperti itu tema bahasan kita saat ini bukan jenggot, tapi lebih dari itu."..
"Kamu kira dalam syariat ini ada hal sekunder yang tidak penting ya?!" Orang tadi semakin muntab.
" Laa haula wa laa quwwata illa billah, kayaknya Mas ini memang nggak ingin diskusi ya? Maunya debat dan tengkar melulu...
.. Maaf, aku undur diri dulu, tampak jelas sekali perbedaan prioritas prinsip masing-masing dari kita. Sampai jumpa di waktu mendatang".
" Justru saya yang semestinya pamit, nggak pantas saya berbicara dengan orang berdagu plontos kayak kamu ini!" Balas orang tadi ketus.
"Oke, Jazakumullah." Dan percakapan itu berakhir begitu saja.
[ Dialog fiktif ] ... Ya Allah, ampuni seluruh kaum muslimin dan muslimat, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Penyayang ...
Menyayangkan Sempitnya Pandangan Soal Tasawwuf
Memang kalau bicara fiqh terus, otak bisa kaku... Dan hawanya memang panas... Maka mengimbangi fiqh dg tasawwuf adalah suatu kepastian
Hanya sayang sebab gencarnya informasi salah dari pengacau2 itu hingga banyak sekali saat ini orang mngalami kesalahan dlm memahami tasawwuf
Dikiranya tasawwuf adalah ajaran sesat, gara2 membaca tulisan dari tukang2 ngarang yg bahkan pengertian global tasawwuf sendiri tdk mengerti
Itupun saat diberitahu begini lho sebenernya tasawwuf, dari sumber dan data yg valid, tetap bersikukuh mengingkari.
Maka jika sudah seperti itu (ketiadaan objektivitas) maka pemberian pemahaman apapun soal tasawwuf tak akan masuk ke otak beku orang itu
Sebenarnya inti permasalah itu satu, sebab pada dasarnya khilafnya itu khilaf syakli.. Lagi2 terbelenggu istilah.
Sementara orang yg masih mbulet di istilah, perumpamaannya kalau makan durian, nggak makan isinya, tapi makan kulitnya yg berduri itu
Ya tahu sendirilah bagaimana judgement kita kalau ada orang makan kulit, nggak makan isi... Kata edan itu udah paling sopan
Padalah trilogi aqidah-fiqih-tasawwuf (iman-islam-ihsan) itu sama sekali tidak bisa dipisah. Memisah salah satunya artinya ketimpangan agama
Agama ini cukup luas, melihatnya jangan seperti cara orang buta mengilustrasikan gajah. Harus benar2 lapang dada dan lapang otak..
Yg aku herankan dari mereka yg menyesatkan tasawwuf atau aqidah asy'ariyyah adalah satu hal saja.
Mereka tidak pernah bisa menjawab lugas kalau ditanya apa sih tasawwuf/aqidah asy'ariyyah itu? Hanya ndlongop seperti ikan mas koki
Bahkan mereka yg selalu berkoar ikut manhaj salaf atau apatah itu jika ditanya sebutkan 7 syarat manhaj salaf mereka pun gugup tidak tahu
Kalau persyaratan saja tidak tahu terus mengikut apanya? Sama saja dengan taqlid buta. Tak ada bedanya dg orang awam. Malah selamat awam
Luaskan cakrawala berpikir kita soal agama, maka kita akan bisa bernafas lega melihat segala jenis perbedaan baik dlm ideologi dan kehidupan
Yang pasti, dalam menanggapi perbedaan itu jangan marah2, jangan emosi dulu, masa' lupa dg hadits Nabi "Laa Taghdhob"? Jangan marah?
Maka memandang syariah ini jangan cuma dari satu dua dalil dan dalilnya itu2 saja sampai bosan, di kemanakan ribuan dalil yg lain?
Belum lagi kaidah palsu dan karangan tapi cukup menghancurkan persatuan, "ini tidak pernah dilakukan Nabi". Dalil2an yg sangat menyesatkan.
Problem laten yg dialami mereka sebenarnya ada pada hati, yaitu merasa paling baik dan paling benar.
Padahal perasaan ini (yg kerap tidak mereka sadari itu) adalah penyebab utama ditendangnya Iblis dari surga.
Jadi mereka tidak sadar jika dalam hati mereka tumbuh penyakit hati terfatal, anawiyyah dan tak sadar jika mereka mengekor jejak Iblis
Sementara obat menghilangkan penyakit anawiyyah itu hanya satu, sayang mereka tidak mau... Yaitu belajar tasawwuf.
Ingat.. Selama seseorang merasa baik (dalam hal apapun, apalagi agama), artinya dia tidak akan pernah sampai pada tujuan.
Atau sampai tapi dalam keadaan babak belur luluh lantak itupun setelah hancur2an. Sebab orang yg merasa baik hakikatnya terjebak kebodohan
Selamat malam, moga jadi renungan... Bersama saling mengingatkan untuk menjadi muslim yg baik.. Bukan menjadi muslim yg merasa baik
Sumber chirp di sini
Hanya sayang sebab gencarnya informasi salah dari pengacau2 itu hingga banyak sekali saat ini orang mngalami kesalahan dlm memahami tasawwuf
Dikiranya tasawwuf adalah ajaran sesat, gara2 membaca tulisan dari tukang2 ngarang yg bahkan pengertian global tasawwuf sendiri tdk mengerti
Itupun saat diberitahu begini lho sebenernya tasawwuf, dari sumber dan data yg valid, tetap bersikukuh mengingkari.
Maka jika sudah seperti itu (ketiadaan objektivitas) maka pemberian pemahaman apapun soal tasawwuf tak akan masuk ke otak beku orang itu
Sebenarnya inti permasalah itu satu, sebab pada dasarnya khilafnya itu khilaf syakli.. Lagi2 terbelenggu istilah.
Sementara orang yg masih mbulet di istilah, perumpamaannya kalau makan durian, nggak makan isinya, tapi makan kulitnya yg berduri itu
Ya tahu sendirilah bagaimana judgement kita kalau ada orang makan kulit, nggak makan isi... Kata edan itu udah paling sopan
Padalah trilogi aqidah-fiqih-tasawwuf (iman-islam-ihsan) itu sama sekali tidak bisa dipisah. Memisah salah satunya artinya ketimpangan agama
Agama ini cukup luas, melihatnya jangan seperti cara orang buta mengilustrasikan gajah. Harus benar2 lapang dada dan lapang otak..
Yg aku herankan dari mereka yg menyesatkan tasawwuf atau aqidah asy'ariyyah adalah satu hal saja.
Mereka tidak pernah bisa menjawab lugas kalau ditanya apa sih tasawwuf/aqidah asy'ariyyah itu? Hanya ndlongop seperti ikan mas koki
Bahkan mereka yg selalu berkoar ikut manhaj salaf atau apatah itu jika ditanya sebutkan 7 syarat manhaj salaf mereka pun gugup tidak tahu
Kalau persyaratan saja tidak tahu terus mengikut apanya? Sama saja dengan taqlid buta. Tak ada bedanya dg orang awam. Malah selamat awam
Luaskan cakrawala berpikir kita soal agama, maka kita akan bisa bernafas lega melihat segala jenis perbedaan baik dlm ideologi dan kehidupan
Yang pasti, dalam menanggapi perbedaan itu jangan marah2, jangan emosi dulu, masa' lupa dg hadits Nabi "Laa Taghdhob"? Jangan marah?
Maka memandang syariah ini jangan cuma dari satu dua dalil dan dalilnya itu2 saja sampai bosan, di kemanakan ribuan dalil yg lain?
Belum lagi kaidah palsu dan karangan tapi cukup menghancurkan persatuan, "ini tidak pernah dilakukan Nabi". Dalil2an yg sangat menyesatkan.
Problem laten yg dialami mereka sebenarnya ada pada hati, yaitu merasa paling baik dan paling benar.
Padahal perasaan ini (yg kerap tidak mereka sadari itu) adalah penyebab utama ditendangnya Iblis dari surga.
Jadi mereka tidak sadar jika dalam hati mereka tumbuh penyakit hati terfatal, anawiyyah dan tak sadar jika mereka mengekor jejak Iblis
Sementara obat menghilangkan penyakit anawiyyah itu hanya satu, sayang mereka tidak mau... Yaitu belajar tasawwuf.
Ingat.. Selama seseorang merasa baik (dalam hal apapun, apalagi agama), artinya dia tidak akan pernah sampai pada tujuan.
Atau sampai tapi dalam keadaan babak belur luluh lantak itupun setelah hancur2an. Sebab orang yg merasa baik hakikatnya terjebak kebodohan
Selamat malam, moga jadi renungan... Bersama saling mengingatkan untuk menjadi muslim yg baik.. Bukan menjadi muslim yg merasa baik
Sumber chirp di sini
Husnuddzon Dalam Interaksi Sosial
Kunci untuk interaksi sosial dg orang lain adalah husnuddzon dan perasaan tidak merasa lebih baik dari orang lain itu...
Dalam bersikap kepada sesama saudara muslim yg lain, berbaiksangka adalah segalanya, bahkan dalam keadaan dia melakukan dosa sekalipun.
Maka jangan langsung menyalahkan, siapa tahu dia khilaf, siapa tahu dia tidak mengerti, siapa tahu dia beranggapan berbeda... Dst
Karena jika seseorang begitu cepat menyalahkan yg lain, apalagi mencibir, mengoloknya, dia tidak akan mati sampai melakukan hal yg sama
Hal ini pernah dicontohkan Nabi saat ada orang jelas2 mengaku berzina, saat seperti itu Nabi masih berhusnuddzon; siapa tahu kamu mabok..
Lagi pula jika ada sesama muslim melakukan dosa, tugas kita adalah mengingatkannya dg baik2 (ingat, baik2). Bukan mengoloknya!
Masih banyak tatacara bersikap yg ternyata paling sederhana seperti ini pun kita banyak tidak tahu.. Akibat terpisahnya ummat dari Ihsan
Pahami baik2, tak ada ceritanya Nabi pernah mengolok atau mencibir orang yg berbuat dosa. Bahkan yg kafir pun didoakan baik oleh Nabi...
Kalau tidak mencontoh Nabi lantas kita ini mau mencontoh siapa? Jadilah muslim yg santun, low profile, keep smile.. Itu muslim sejati
Dalam bersikap kepada sesama saudara muslim yg lain, berbaiksangka adalah segalanya, bahkan dalam keadaan dia melakukan dosa sekalipun.
Maka jangan langsung menyalahkan, siapa tahu dia khilaf, siapa tahu dia tidak mengerti, siapa tahu dia beranggapan berbeda... Dst
Karena jika seseorang begitu cepat menyalahkan yg lain, apalagi mencibir, mengoloknya, dia tidak akan mati sampai melakukan hal yg sama
Hal ini pernah dicontohkan Nabi saat ada orang jelas2 mengaku berzina, saat seperti itu Nabi masih berhusnuddzon; siapa tahu kamu mabok..
Lagi pula jika ada sesama muslim melakukan dosa, tugas kita adalah mengingatkannya dg baik2 (ingat, baik2). Bukan mengoloknya!
Masih banyak tatacara bersikap yg ternyata paling sederhana seperti ini pun kita banyak tidak tahu.. Akibat terpisahnya ummat dari Ihsan
Pahami baik2, tak ada ceritanya Nabi pernah mengolok atau mencibir orang yg berbuat dosa. Bahkan yg kafir pun didoakan baik oleh Nabi...
Kalau tidak mencontoh Nabi lantas kita ini mau mencontoh siapa? Jadilah muslim yg santun, low profile, keep smile.. Itu muslim sejati
26 Jan 2014
Peta Perbedaan Antara Ahlus Sunnah & Syiah
Apa kabar teman semua? Lama tidak kultwit, berikut aku kultwitkan pada teman2 peta perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah, moga manfaat
Untuk ahlussunnah (baik itu kelompok mayoritas sufi atau minoritas salafi) aku beri kode (a), sedangkan syiah aku beri kode (b)...
(a). Dlm ahlussunnah, rukun Islam ada 5: syahadat, shalat, puasa, zakat & haji. Diambil dari aksiomatis dlm Qur'an & Hadits Shahih
(b) sedangkan syiah, rukun Islam jg 5: Shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah (keimaman Ali & 11 keturunannya) (al-kafi, juz 18)
Sebelumnya aku ingatkan terlebih dulu pd teman2, bahwa syiah di sini adl aliran yg berkembang di Indonesia saat ini, Itsna Asyariyyah
(a) Qur'an dlm Mushaf Utsmani adl kitab suci terakhir yg final, tdk mengalami interpolasi seperti kitab2 suci pendahulunya
(b) menurut syiah, Qur'an yg ada sekarang baru 1/3 dari yg orisinal, 2/3 masih di tangan Mahdi (alkafi juz I hal 634)
Tetapi secara fisik Qur'an resmi syiah seperti milik sunni (Mushaf Utsmani) tapi Utsman dikecam & dicerca bahkan dimurtadkan
(a) Sahabat Nabi bertingkat2; ada muhajirin, ansar, fath makkah, pasca fathu makkah. Kualitas memang beda2, tapi semuanya adil...
...dan SDM pilihan. Tapi sebagai manusia biasa mereka bisa berbuat salah (tidak ma'shum seperti Nabi)
(b) menurut syiah, seluruh sahabat Nabi itu murtad karena tidak mendukung Imamah Ali bin Abi Thalib sbg pengganti Nabi, hanya sisa 4 sj
..yaitu Abu Dzar, Salman alfarisi, Ammar bin Yasir dan Miqdad. Bagi syiah Ali & keturunannya ma'shum seperti Rosul
(a) bagi ahlussunnah, kitab hadits yg shahih dan jadi referensi utama dlm syariat adl Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
(b) bagi syiah, kitab hadits utamanya adl al-kafi, at-tahdzib, man laa yahdhuruhu alfaqih dan al-istibshar.. Beda referensi
Makanya kedua sulit ketemu dari titik penting ini. Itupun Ulama Syiah sering mengutip hadits2 Sunni untuk pembenaran keyakinan mereka
(a) bagi sunni, yg disebut hadits adl segala sesuatu yg disandarkan pada Rosul, baik ucapan, tindakan, akhlak & persetujuan diam beliau
(b) bagi syiah, hadits adl (sedikit) sabda Nabi, tetapi (banyak) perkataan/perbuatan para Imam (khususnya Imam Ja'far asShodiq)
Hadits imam 12 bagi syiah identik nilainya dg Hadits Rosul bahkan sama dg wahyu Allah (versi alkafi I/53)
(a) bagi ahlussunnah, Imamah bukanlah doktrin mutlak & keharusan. Tapi ini menyangkut kepentingan ummat. Tak ada nash qath'i soal itu
(b) bagi syiah, imamah adl konsep kepemimpinan mutlak berdasar nash ilahi & wasiat Nabi. Siapapun yg mati tdk berbaiat/iman ke imam 12
Maka ia dianggap mati dlm keadaan jahiliyyah (kafir)
(a) bagi Ahlussunnah, pengertian Ahlul Bayt adl Istri2 Nabi (Qs 33:33). Sdangkan putra putri Nabi otomatis masuk dlm ahlul bayt semuanya
(b) bagi syiah, ahlul bayt dikerucutkan hanya pada Fathimah, Ali, Hasan dan Husain. Istri2 Nabi dan yg lain dieliminasi
(a) bagi ahlussunnah, konflik Ali-Muawiyah adl persoalan politik, bukan pertentangan antara mukmin & kafir. Sbb Aqil, saudara Imam Ali..
...dlm konteks ini pro Muawiyah. Jika ini soal agama maka tentu Imam Ali angkat bicara secara serius, faktanya tidak ada hal itu
(b) bagi syiah, konflik Ali-Muawiyah adl pembangkangan terhadap nash keimaman Ali. Dan ini pertentangan antara Iman & kufur
(a) bagi ahlussunnah, Mut'ah hukumnya haram berdasar hadits Nabi yg diriwayatkan Imam Ali yg tak pernah mut'ah. Bukan pendapat Umar
(b) bagi syiah, mut'ah halal. Yg mengharamkan Umar. Kalau tidak diharamkan Umar (menurut mereka bukan Nabi yg melarang), maka...
...tidak ada orang berzina. Memberi kesan seakan Umar sebagai penetap hukum Syar'i
(a) bagi ahlussunnah, shalat 5 waktu waktunya terpisah2 5x dlm sehari. Jama' hanya diperkenankan dg alasan2 syar'i tertentu
(b) bagi Syiah, shalat 3 waktu: shubuh, Dzuhur-ashar dan maghrib-isya' 3 kali sehari (jama' sepanjang masa tanpa uzur apapun)
(a) bagi ahlussunnah, sujud dlm shalat di mana saja boleh asalkan memenuhi syarat kesucian
(b) bagi syiah, sujud di atas turba (kereweng tanah liat dari karbala). Argumentasinya di bawah dalil2 pendapat pribadi para Imam
(a) dlm ahlussunnah, tidak ada anjuran taqiyyah (sikap menyembunyikan keyakinan sementara) sbb dituntut harus berkata benar walau pahit
(b) bagi syiah, taqiyyah adl bagian dari agama yg dianjurkan kpda ummatnya dlm rangka adaptasi dg "lawan" (alkafi II/218)
Dan praktek taqiyyah ini oleh mereka acapkali digunakan untuk proses adaptasi dg Sunni
Dan benturan terbesar serta terfatal mereka adl sikap melaknat kepada 3 sosok raksasa dlm Islam, s. Abu Bakr, s. Umar dan s. Aisyah
Syiah dan Sunni bisa didekatkan, bisa didamaikan jika mereka mau tanazul untuk tidak lagi melaknat/menyalahkan Abu Bakr,Umar & Aisyah
Selama mereka masih melaknat/menyalah2kan tokoh2 besar yg diagungkan Sunni itu; maka SNSD hanya mimpi di siang bolong
Selamat malam, semoga menambah pengetahuan perihal peta umum perbedaan antara Ahlus Sunnah wal Jamaah & Syiah Rafidhah Itsna Asyariah
Untuk ahlussunnah (baik itu kelompok mayoritas sufi atau minoritas salafi) aku beri kode (a), sedangkan syiah aku beri kode (b)...
(a). Dlm ahlussunnah, rukun Islam ada 5: syahadat, shalat, puasa, zakat & haji. Diambil dari aksiomatis dlm Qur'an & Hadits Shahih
(b) sedangkan syiah, rukun Islam jg 5: Shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah (keimaman Ali & 11 keturunannya) (al-kafi, juz 18)
Sebelumnya aku ingatkan terlebih dulu pd teman2, bahwa syiah di sini adl aliran yg berkembang di Indonesia saat ini, Itsna Asyariyyah
(a) Qur'an dlm Mushaf Utsmani adl kitab suci terakhir yg final, tdk mengalami interpolasi seperti kitab2 suci pendahulunya
(b) menurut syiah, Qur'an yg ada sekarang baru 1/3 dari yg orisinal, 2/3 masih di tangan Mahdi (alkafi juz I hal 634)
Tetapi secara fisik Qur'an resmi syiah seperti milik sunni (Mushaf Utsmani) tapi Utsman dikecam & dicerca bahkan dimurtadkan
(a) Sahabat Nabi bertingkat2; ada muhajirin, ansar, fath makkah, pasca fathu makkah. Kualitas memang beda2, tapi semuanya adil...
...dan SDM pilihan. Tapi sebagai manusia biasa mereka bisa berbuat salah (tidak ma'shum seperti Nabi)
(b) menurut syiah, seluruh sahabat Nabi itu murtad karena tidak mendukung Imamah Ali bin Abi Thalib sbg pengganti Nabi, hanya sisa 4 sj
..yaitu Abu Dzar, Salman alfarisi, Ammar bin Yasir dan Miqdad. Bagi syiah Ali & keturunannya ma'shum seperti Rosul
(a) bagi ahlussunnah, kitab hadits yg shahih dan jadi referensi utama dlm syariat adl Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
(b) bagi syiah, kitab hadits utamanya adl al-kafi, at-tahdzib, man laa yahdhuruhu alfaqih dan al-istibshar.. Beda referensi
Makanya kedua sulit ketemu dari titik penting ini. Itupun Ulama Syiah sering mengutip hadits2 Sunni untuk pembenaran keyakinan mereka
(a) bagi sunni, yg disebut hadits adl segala sesuatu yg disandarkan pada Rosul, baik ucapan, tindakan, akhlak & persetujuan diam beliau
(b) bagi syiah, hadits adl (sedikit) sabda Nabi, tetapi (banyak) perkataan/perbuatan para Imam (khususnya Imam Ja'far asShodiq)
Hadits imam 12 bagi syiah identik nilainya dg Hadits Rosul bahkan sama dg wahyu Allah (versi alkafi I/53)
(a) bagi ahlussunnah, Imamah bukanlah doktrin mutlak & keharusan. Tapi ini menyangkut kepentingan ummat. Tak ada nash qath'i soal itu
(b) bagi syiah, imamah adl konsep kepemimpinan mutlak berdasar nash ilahi & wasiat Nabi. Siapapun yg mati tdk berbaiat/iman ke imam 12
Maka ia dianggap mati dlm keadaan jahiliyyah (kafir)
(a) bagi Ahlussunnah, pengertian Ahlul Bayt adl Istri2 Nabi (Qs 33:33). Sdangkan putra putri Nabi otomatis masuk dlm ahlul bayt semuanya
(b) bagi syiah, ahlul bayt dikerucutkan hanya pada Fathimah, Ali, Hasan dan Husain. Istri2 Nabi dan yg lain dieliminasi
(a) bagi ahlussunnah, konflik Ali-Muawiyah adl persoalan politik, bukan pertentangan antara mukmin & kafir. Sbb Aqil, saudara Imam Ali..
...dlm konteks ini pro Muawiyah. Jika ini soal agama maka tentu Imam Ali angkat bicara secara serius, faktanya tidak ada hal itu
(b) bagi syiah, konflik Ali-Muawiyah adl pembangkangan terhadap nash keimaman Ali. Dan ini pertentangan antara Iman & kufur
(a) bagi ahlussunnah, Mut'ah hukumnya haram berdasar hadits Nabi yg diriwayatkan Imam Ali yg tak pernah mut'ah. Bukan pendapat Umar
(b) bagi syiah, mut'ah halal. Yg mengharamkan Umar. Kalau tidak diharamkan Umar (menurut mereka bukan Nabi yg melarang), maka...
...tidak ada orang berzina. Memberi kesan seakan Umar sebagai penetap hukum Syar'i
(a) bagi ahlussunnah, shalat 5 waktu waktunya terpisah2 5x dlm sehari. Jama' hanya diperkenankan dg alasan2 syar'i tertentu
(b) bagi Syiah, shalat 3 waktu: shubuh, Dzuhur-ashar dan maghrib-isya' 3 kali sehari (jama' sepanjang masa tanpa uzur apapun)
(a) bagi ahlussunnah, sujud dlm shalat di mana saja boleh asalkan memenuhi syarat kesucian
(b) bagi syiah, sujud di atas turba (kereweng tanah liat dari karbala). Argumentasinya di bawah dalil2 pendapat pribadi para Imam
(a) dlm ahlussunnah, tidak ada anjuran taqiyyah (sikap menyembunyikan keyakinan sementara) sbb dituntut harus berkata benar walau pahit
(b) bagi syiah, taqiyyah adl bagian dari agama yg dianjurkan kpda ummatnya dlm rangka adaptasi dg "lawan" (alkafi II/218)
Dan praktek taqiyyah ini oleh mereka acapkali digunakan untuk proses adaptasi dg Sunni
Dan benturan terbesar serta terfatal mereka adl sikap melaknat kepada 3 sosok raksasa dlm Islam, s. Abu Bakr, s. Umar dan s. Aisyah
Syiah dan Sunni bisa didekatkan, bisa didamaikan jika mereka mau tanazul untuk tidak lagi melaknat/menyalahkan Abu Bakr,Umar & Aisyah
Selama mereka masih melaknat/menyalah2kan tokoh2 besar yg diagungkan Sunni itu; maka SNSD hanya mimpi di siang bolong
Selamat malam, semoga menambah pengetahuan perihal peta umum perbedaan antara Ahlus Sunnah wal Jamaah & Syiah Rafidhah Itsna Asyariah
Liberal, Salafi & Moderat; Mana Yang Lebih Cinta Nabi?
Merenungi tulisan Guru Besarku, bahwa salah 1 tanda aliran & ideologi yg melenceng adl penganutnya sangat sedikit membaca shalawat pada Nabi
Pemikiran yg terlalu ke kiri, atau yg terlalu ke kanan jika dipahami mendalam memang selalu ada sesuatu yg negatif terhadap Nabi. Cukup aneh
Pemikiran yg ke kiri, kerap mengkritisi kebijakan2 Nabi, dan pelan namun pasti selalu menyinggung pribadi Nabi... Tidak pasrah total
Pemikiran yg terlalu ke kanan pun begitu, meski ditutup2i dg berkoar baca sejarah Nabi, tapi selalu ada rasa alergi pada yg Cinta Nabi
Yg lebih aneh, belum pernah aku temukan orang2 pemikiran kiri dan kanan yg mimpi jumpa Nabi. Ekselensi ini hanya kutemukan di yg tengah2
Sosok2 Ulama dan Fuqoha besar sepanjang masa yg terkenal merangkap Wilayah (pangkat kewalian) pun hanya orang2 tengah (moderat) saja...
Belum pernah aku mendengar ada Wali dari liberal, atau Syiah, atau Salafi, atau yg lain. Tidak untuk masa modern, apalagi masa lalu..
Bagi mereka itu mungkin tidak penting (sebab memang tidak ada jatah mendapat keistimewaan yg di luar nalar itu)... Tapi itu cukup sbg bukti
Ibnu Taimiyyah, siapa yg tak mengakui kehebatan ilmiahnya... Tapi tak ada satupun Tokoh2 raksasa dlm Islam menyatakannya sebagai wali...
Na karena tak dapat jatah kewalian, dan agar dapat jatah wali, semisal orang2 salafi memaksa makna bahwa wali adl setiap orang mukmin...
Tapi kalau ditanya balik, apakah mukmin yg korupsi, berbuat banyak dosa besar... Juga disebut wali? Orang2 salafi itu hanya bisa gugup
Orang liberal... Bagi mereka dunia ini bukan dunia dlm mimpi, bukan cerita2 karomah, ndak ada semua itu... Ntah kalau diam2 meyakini...
Maka ukuran moderat tidaknya seseorang adl sangat mudah... Langsung lakukan tes seberapa besar cinta dan tunduk pasrah totalnya pada Nabi
Mencintai Nabi tidak cukup hanya dg klaim mengikuti sunnahnya, tapi juga cinta pribadinya, sekaligus keluarga & sahabatnya secara berimbang
Klaim cinta Nabi cukup dg hanya mengikut sunnahnya saja (tanpa cinta pribadinya) adl cinta palsu, pengakuan yg menipu...
Klaim cinta pribadi Nabi, tetapi saat yg sama tidak melakukan sunnah2nya juga klaim palsu... Meski masih sangat lumayan dari yg pertama
Maka cinta sejati pada Nabi adl; cinta pribadinya, mengikuti sunnah2nya, dan cinta keluarga (keturunannya) serta sahabat2nya dg seimbang
Cinta sejati pada Nabi jenis ini hanya ada pada mereka yg menempuh Manhaj Wasathi... Jalur moderat... Ayo mau ikut jalur mana kita sekarang?
Wali Allah akan selalu ada sepanjang masa, hanya bisa jadi saat ini banyak yg terahasiakan... Tak banyak yg terlihat...
Tanda ekselen wali2 Allah adl jika melihat wajahnya, hati serasa teduh; jika mendengar Namanya, cinta seketika menyeruak...
Dan jika mendengar nasihat2nya, selalu mendinginkan dan jauh dari permusuhan...
Pemikiran yg terlalu ke kiri, atau yg terlalu ke kanan jika dipahami mendalam memang selalu ada sesuatu yg negatif terhadap Nabi. Cukup aneh
Pemikiran yg ke kiri, kerap mengkritisi kebijakan2 Nabi, dan pelan namun pasti selalu menyinggung pribadi Nabi... Tidak pasrah total
Pemikiran yg terlalu ke kanan pun begitu, meski ditutup2i dg berkoar baca sejarah Nabi, tapi selalu ada rasa alergi pada yg Cinta Nabi
Yg lebih aneh, belum pernah aku temukan orang2 pemikiran kiri dan kanan yg mimpi jumpa Nabi. Ekselensi ini hanya kutemukan di yg tengah2
Sosok2 Ulama dan Fuqoha besar sepanjang masa yg terkenal merangkap Wilayah (pangkat kewalian) pun hanya orang2 tengah (moderat) saja...
Belum pernah aku mendengar ada Wali dari liberal, atau Syiah, atau Salafi, atau yg lain. Tidak untuk masa modern, apalagi masa lalu..
Bagi mereka itu mungkin tidak penting (sebab memang tidak ada jatah mendapat keistimewaan yg di luar nalar itu)... Tapi itu cukup sbg bukti
Ibnu Taimiyyah, siapa yg tak mengakui kehebatan ilmiahnya... Tapi tak ada satupun Tokoh2 raksasa dlm Islam menyatakannya sebagai wali...
Na karena tak dapat jatah kewalian, dan agar dapat jatah wali, semisal orang2 salafi memaksa makna bahwa wali adl setiap orang mukmin...
Tapi kalau ditanya balik, apakah mukmin yg korupsi, berbuat banyak dosa besar... Juga disebut wali? Orang2 salafi itu hanya bisa gugup
Orang liberal... Bagi mereka dunia ini bukan dunia dlm mimpi, bukan cerita2 karomah, ndak ada semua itu... Ntah kalau diam2 meyakini...
Maka ukuran moderat tidaknya seseorang adl sangat mudah... Langsung lakukan tes seberapa besar cinta dan tunduk pasrah totalnya pada Nabi
Mencintai Nabi tidak cukup hanya dg klaim mengikuti sunnahnya, tapi juga cinta pribadinya, sekaligus keluarga & sahabatnya secara berimbang
Klaim cinta Nabi cukup dg hanya mengikut sunnahnya saja (tanpa cinta pribadinya) adl cinta palsu, pengakuan yg menipu...
Klaim cinta pribadi Nabi, tetapi saat yg sama tidak melakukan sunnah2nya juga klaim palsu... Meski masih sangat lumayan dari yg pertama
Maka cinta sejati pada Nabi adl; cinta pribadinya, mengikuti sunnah2nya, dan cinta keluarga (keturunannya) serta sahabat2nya dg seimbang
Cinta sejati pada Nabi jenis ini hanya ada pada mereka yg menempuh Manhaj Wasathi... Jalur moderat... Ayo mau ikut jalur mana kita sekarang?
Wali Allah akan selalu ada sepanjang masa, hanya bisa jadi saat ini banyak yg terahasiakan... Tak banyak yg terlihat...
Tanda ekselen wali2 Allah adl jika melihat wajahnya, hati serasa teduh; jika mendengar Namanya, cinta seketika menyeruak...
Dan jika mendengar nasihat2nya, selalu mendinginkan dan jauh dari permusuhan...
Doa Nabi Adam -Alaihis Salam-
(Allahumma innaka ta'lamu sirri wa 'alaniyati, faqbal ma'dziroti)..Ya Allah, Engkau Maha Tahu isi hatiku & tindakan2ku,maka terima maafku
(Wa ta'lamu hajati fa`tini su`li).. Dan Maha Tahu apa kebutuhan2ku dan kemauan2ku, maka kabulkan permintaan2ku
(Wa Ta'lamu maa fi nafsi, faghfir lii dzunubi)... Dan Maha Tahu bisikan2 dalam jiwaku, maka ampuni dosa2ku
(Allahumma inni as-aluka imanan yubasyiru qolbi)... Ya Allah, aku mohon pada-Mu beri aku cahaya keimanan yang merengkuh hatiku
(Wa yaqinan shodiqon.. Hatta a'lama...).. Dan keyakinan yang benar, sehingga aku tahu...
(..annahu laa yushibunii illa maa katabtahu lii)... Bahwa tak akan menimpaku apapun kecuali yang telah Engkau Tuliskan buatku
(warridho bi maa qosamtahu lii)... Dan menerima dengan segala apa yang telah Engkau bagikan (dan Engkau berikan) untukku...
(Ya Dzal Jalali wal Ikrom)... Duhai Dzat Yang Maha Memiliki Keagungan, dan Yang Maha Memiliki Kemuliaan
Doa Nabi Adam -Alaihis Salam-
(Wa ta'lamu hajati fa`tini su`li).. Dan Maha Tahu apa kebutuhan2ku dan kemauan2ku, maka kabulkan permintaan2ku
(Wa Ta'lamu maa fi nafsi, faghfir lii dzunubi)... Dan Maha Tahu bisikan2 dalam jiwaku, maka ampuni dosa2ku
(Allahumma inni as-aluka imanan yubasyiru qolbi)... Ya Allah, aku mohon pada-Mu beri aku cahaya keimanan yang merengkuh hatiku
(Wa yaqinan shodiqon.. Hatta a'lama...).. Dan keyakinan yang benar, sehingga aku tahu...
(..annahu laa yushibunii illa maa katabtahu lii)... Bahwa tak akan menimpaku apapun kecuali yang telah Engkau Tuliskan buatku
(warridho bi maa qosamtahu lii)... Dan menerima dengan segala apa yang telah Engkau bagikan (dan Engkau berikan) untukku...
(Ya Dzal Jalali wal Ikrom)... Duhai Dzat Yang Maha Memiliki Keagungan, dan Yang Maha Memiliki Kemuliaan
Doa Nabi Adam -Alaihis Salam-
Sunat Pada Perempuan Dalam 4 Mahdzab
Di Mesir lebih ke adat sebenarnya @era_yu: Seruan kelompok wanita di Mesir agar sunat dihentikan http://t.co/Oa7OHum1h5 @awyyyyy
Tadi aku kebetulan lewat dengan salah satu sahabat yg hendak kultwit soal #sunatperempuan ... Cc @iffah_hannah
Dan alhasil setelah itu aku mendapat link yg berhubungan dg #sunatperempuan dalam Islam & female genital mutilation yg terjadi di Afrika
Sebenarnya ini permasalahan sederhana saja namun sepertinya oleh sebagian pihak yang menurutku lebay dibuat seolah2 wow gitu.
Dan seolah syariat merampas hak seksual wanita dengan #sunatperempuan itu. Padahal qodhiyyah (permasalahan)-nya nggak gitu2 amat
Lagipula #sunatperempuan ini sudah ada jauh sebelum Islam. Bukan hal yg baru disyariatkan oleh Islam. Syariat hanya mengarahkan.
Pun dalam istilah syariat, #sunatperempuan ini secara khusus bukan dinamakan "Khitan", tapi "Khofdh", atau dikerat sedikit.
Kalau khitan, prosesnya menghilangkan secara total kulit yg menutupi kepala penis pada anak laki2.
Sedangkan khafdh hanya mengerat sedikit klitoris yg terlihat di permukaan vagina anak perempuan. Jadi #sunatperempuan beda dg khitan
Tentu saja berbeda dg kasus female genital mutilation yg terjadi di beberapa suku pedalaman di Afrika yg bukan beragama Islam.
Perihal hukum #sunatperempuan terjadi perbedaan pendapat antara 4 madzhab. Tentu saja sebab pemahaman berbeda atas dalil seputar ini.
awyyyyy 10/Jun/2013 07:51:38 AM PDT
Mayoritas ulama' madzhab syafi'i dan hambali mewajibkan #sunatperempuan atas tekstual hadits yg diriwayatkan Abu Daud, "wakhtatin"
Dan dlm status hadits ini ada pembicaraan. Maka negara dg mayoritas madzhab syafi'i lumrah mlakukan #sunatperempuan pd anak wanita mreka
Adapun madzhab Maliki melihatnya sebagai sunnah sj, begitu jg madzhab hanafi, bagi mereka #sunatperempuan sekedar makrumah (seremonial)
Tentu saja bagi madzhab hanafi #sunatperempuan bukan sesuatu yg wajib, atas dasar hadits Nabi yg mengarahkan soal itu kpd Ummu Athiyyah
"idza khofadhti fa asyimmi", dan "asyimmi wa laa tunhiki". Jika melakukan #sunatperempuan kerat sedikit saja dan jangan dipotong habis
Perihal madzhab syafi'i yg mewajibkan (dan ada juga yg hanya menyatakannya sebagai sunnah mu-akkad) kemungkinan sebab Imam Syafi'i...
...tinggal di Mesir, dan bagi masyarakat Mesir sejak dahulu kala #sunatperempuan sudah merupakan bagian budaya mereka.
Perihal jika kedokteran sekarang melarang sebab ada sesuatu yg dipandang negatif, yg pasti tidak bertentangan dg syariat.
Karena jika melihat perbedaan yg terjadi antara empat madzhab lebih banyak yg menyatakan #sunatperempuan sbg hal yg sunnah, bukan wajib
Semoga mencerahkan dan yg pasti #sunatperempuan dalam Islam tidak merampas hak apapun dari kaum wanita.
Tadi aku kebetulan lewat dengan salah satu sahabat yg hendak kultwit soal #sunatperempuan ... Cc @iffah_hannah
Dan alhasil setelah itu aku mendapat link yg berhubungan dg #sunatperempuan dalam Islam & female genital mutilation yg terjadi di Afrika
Sebenarnya ini permasalahan sederhana saja namun sepertinya oleh sebagian pihak yang menurutku lebay dibuat seolah2 wow gitu.
Dan seolah syariat merampas hak seksual wanita dengan #sunatperempuan itu. Padahal qodhiyyah (permasalahan)-nya nggak gitu2 amat
Lagipula #sunatperempuan ini sudah ada jauh sebelum Islam. Bukan hal yg baru disyariatkan oleh Islam. Syariat hanya mengarahkan.
Pun dalam istilah syariat, #sunatperempuan ini secara khusus bukan dinamakan "Khitan", tapi "Khofdh", atau dikerat sedikit.
Kalau khitan, prosesnya menghilangkan secara total kulit yg menutupi kepala penis pada anak laki2.
Sedangkan khafdh hanya mengerat sedikit klitoris yg terlihat di permukaan vagina anak perempuan. Jadi #sunatperempuan beda dg khitan
Tentu saja berbeda dg kasus female genital mutilation yg terjadi di beberapa suku pedalaman di Afrika yg bukan beragama Islam.
Perihal hukum #sunatperempuan terjadi perbedaan pendapat antara 4 madzhab. Tentu saja sebab pemahaman berbeda atas dalil seputar ini.
awyyyyy 10/Jun/2013 07:51:38 AM PDT
Mayoritas ulama' madzhab syafi'i dan hambali mewajibkan #sunatperempuan atas tekstual hadits yg diriwayatkan Abu Daud, "wakhtatin"
Dan dlm status hadits ini ada pembicaraan. Maka negara dg mayoritas madzhab syafi'i lumrah mlakukan #sunatperempuan pd anak wanita mreka
Adapun madzhab Maliki melihatnya sebagai sunnah sj, begitu jg madzhab hanafi, bagi mereka #sunatperempuan sekedar makrumah (seremonial)
Tentu saja bagi madzhab hanafi #sunatperempuan bukan sesuatu yg wajib, atas dasar hadits Nabi yg mengarahkan soal itu kpd Ummu Athiyyah
"idza khofadhti fa asyimmi", dan "asyimmi wa laa tunhiki". Jika melakukan #sunatperempuan kerat sedikit saja dan jangan dipotong habis
Perihal madzhab syafi'i yg mewajibkan (dan ada juga yg hanya menyatakannya sebagai sunnah mu-akkad) kemungkinan sebab Imam Syafi'i...
...tinggal di Mesir, dan bagi masyarakat Mesir sejak dahulu kala #sunatperempuan sudah merupakan bagian budaya mereka.
Perihal jika kedokteran sekarang melarang sebab ada sesuatu yg dipandang negatif, yg pasti tidak bertentangan dg syariat.
Karena jika melihat perbedaan yg terjadi antara empat madzhab lebih banyak yg menyatakan #sunatperempuan sbg hal yg sunnah, bukan wajib
Semoga mencerahkan dan yg pasti #sunatperempuan dalam Islam tidak merampas hak apapun dari kaum wanita.
13 Jan 2014
Menyikapi "Kesalahan" Para Nabi
Sampai sejenak menjelang menulis kultwit ini aku masih kepikiran dg pertanyaan apakah Rasulullah pernah melakukan kesalahan?
Apalagi saat aku jawab "tidak" ada yg memberi negasi bahwa Nabi pernah melakukan "kesalahan" dg argumen QS. 80
Mana yg benar? Nabi (juga para Nabi yg lain) pernah melakukan kesalahan apa tidak pernah? Lalu bagaimana taujih atas QS. 80 itu?
Sebelum meneruskan twit, aku pernah kultwit bahwa dlm memposisikan Nabi adl sebagai qudwah, panutan, bukan miqyas, persamaan
(sila baca di sini http://t.co/AynEIdzXbh ), sebab menganalogikan diri dg para Nabi adl bentuk kekurangajaran yg menyendiri
Kita memang tidak bisa begitu saja menyalahkan orang awam yg berpikir bahwa Rasulullah (juga Nabi yg lain) pernah berbuat salah
Tapi kita bisa mengarahkan mereka agar tidak terus2an berpikiran bahwa para Nabi-pun jg melakukan kesalahan. Dan ini ranahnya adl Ihsan
Atau dzauq (kepekaan bertatakrama) khususnya kepada para Nabi, kelompok manusia terbaik pengajar dan penuntun kehidupan semesta
Jika kita pernah belajar Aqidatul Awam di masa kecil kita, ada 3 bait yg menjelaskan ekselensi2 khusus para Nabi
Dan bait ketiga adl ekselensi "ishmah", atau terjaganya para Nabi dari dosa dan kesalahan sejak mereka belum resmi diangkat sbgai Nabi
Dan Ishmah-nya para Nabi ini adl ideologi paling dasar dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Berpikiran Nabi tdk ma'shum bisa bahaya pd keimanan
Lantas bagaimana arahan perihal peristiwa2 yg secara lahiriah seolah para Nabi itu berbuat "kesalahan"?
Semisal kisah melanggarnya Nabi Adam dg makan buah larangan, kaburnya Nabi Yunus dari kepentingan dakwah, komplainnya Nabi Nuh...
...soal anaknya yg terbawa banjir raksasa, sikap Nabi Musa sampai disuruh berguru kehidupan lagi pada seseorang, atau kisah di QS. 80
...soal Nabi kita yg sempat merasa terganggu dg kehadiran seorang tuna netra saat beliau sedang mengajak tokoh Quraisy memeluk Islam
Atau Nabi Daud yg berpikiran ingin menikahi wanita yg ternyata telah jadi istri orang, atau Nabi Ibrahim yg mengaku sakit padahal tidak
Tentu saja para Nabi itu mendapat "teguran" langsung dari Allah. Nah apa arahan bagi kita melihat semua fakta dalam al-Qur'an itu?
Sebelumnya, ada dua hal yg harus kita pahami dg baik terlebih dahulu menyikapi "kesalahan" para Nabi ini...
Pertama, adl jangan pernah sekalipun menyamakan "kesalahan" mereka seperti kesalahan2 naif yg kerap kita perbuat
Kedua, kita harus tahu bahwa para Nabi ini pendidikan, tarbiyah dan penjagaannya langsung di Tangan Allah
Dan kita juga harus tahu Tugas Utama para Nabi, yaitu mengajarkan ummat manusia bagaimana menempuh kehidupan ini. Dan tentu saja...
. ...salah satunya adl bagaimana cara bersikap jika melakukan kesalahan. Dari sini kita harus melihat bahwa "kesalahan2" yg dilakukan...
...para Nabi itu adl sejenis adegan, maka tentu ketidaktepatan saat seseorang melihat pada titik "kesalahan"-nya...
Sebab fokus dan pesan yg disampaikan Allah melalui para Rosulnya itu adl bagaimana yg harus dilakukan jika mengalami kesalahan...
Artinya pada hakikatnya para Nabi itu tidak melakukan kesalahan, namun diadegankan melakukan kesalahan untuk memberikan pelajaran
Bukti lain dari itu adl pada suatu waktu Rasulullah shalat Ashar hanya dua rakaat saja. Tentu saja para Sahabat bertanya2...
Apa Rasul lupa? Atau salah? Atau syariat baru? Dan saat ada yg tanya, Rasul langsung menjawab, tidak salah juga tidak lupa...
Wa innama unassa li usyarri', bahwa aku dibuat lupa/dibuat salah untuk mensyariatkan ajaran baru lagi... Itu yg dikatakan Nabi
Dalam hadits sebab musabab disyariatkan sujud sahwi dalam sholat kala lalai/melakukan kesalahan dlm rukun
Pada akhirnya, kita harus dg baik belajar bertatakrama kepada para Nabi jika ingin benar & tepat dlm menjalankan syariat
Sebab ketidakadaan tatakrama pada Nabi efeknya sangat tidak baik tak hanya pada seorang muslim, namun manusia secara umum
Karena para Nabi dan Rasul (yg jumlahnya 124.000 itu) adl kelompok manusia terbaik pilihan Allah yg terjaga dari salah & dosa
Moga mencerahkan, menambah ilmu dan tahu bagaimana bertatakrama pada para Nabi khususnya Junjungan Nabi Muhammad S.a.w... Salam
Apalagi saat aku jawab "tidak" ada yg memberi negasi bahwa Nabi pernah melakukan "kesalahan" dg argumen QS. 80
Mana yg benar? Nabi (juga para Nabi yg lain) pernah melakukan kesalahan apa tidak pernah? Lalu bagaimana taujih atas QS. 80 itu?
Sebelum meneruskan twit, aku pernah kultwit bahwa dlm memposisikan Nabi adl sebagai qudwah, panutan, bukan miqyas, persamaan
(sila baca di sini http://t.co/AynEIdzXbh ), sebab menganalogikan diri dg para Nabi adl bentuk kekurangajaran yg menyendiri
Kita memang tidak bisa begitu saja menyalahkan orang awam yg berpikir bahwa Rasulullah (juga Nabi yg lain) pernah berbuat salah
Tapi kita bisa mengarahkan mereka agar tidak terus2an berpikiran bahwa para Nabi-pun jg melakukan kesalahan. Dan ini ranahnya adl Ihsan
Atau dzauq (kepekaan bertatakrama) khususnya kepada para Nabi, kelompok manusia terbaik pengajar dan penuntun kehidupan semesta
Jika kita pernah belajar Aqidatul Awam di masa kecil kita, ada 3 bait yg menjelaskan ekselensi2 khusus para Nabi
Dan bait ketiga adl ekselensi "ishmah", atau terjaganya para Nabi dari dosa dan kesalahan sejak mereka belum resmi diangkat sbgai Nabi
Dan Ishmah-nya para Nabi ini adl ideologi paling dasar dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Berpikiran Nabi tdk ma'shum bisa bahaya pd keimanan
Lantas bagaimana arahan perihal peristiwa2 yg secara lahiriah seolah para Nabi itu berbuat "kesalahan"?
Semisal kisah melanggarnya Nabi Adam dg makan buah larangan, kaburnya Nabi Yunus dari kepentingan dakwah, komplainnya Nabi Nuh...
...soal anaknya yg terbawa banjir raksasa, sikap Nabi Musa sampai disuruh berguru kehidupan lagi pada seseorang, atau kisah di QS. 80
...soal Nabi kita yg sempat merasa terganggu dg kehadiran seorang tuna netra saat beliau sedang mengajak tokoh Quraisy memeluk Islam
Atau Nabi Daud yg berpikiran ingin menikahi wanita yg ternyata telah jadi istri orang, atau Nabi Ibrahim yg mengaku sakit padahal tidak
Tentu saja para Nabi itu mendapat "teguran" langsung dari Allah. Nah apa arahan bagi kita melihat semua fakta dalam al-Qur'an itu?
Sebelumnya, ada dua hal yg harus kita pahami dg baik terlebih dahulu menyikapi "kesalahan" para Nabi ini...
Pertama, adl jangan pernah sekalipun menyamakan "kesalahan" mereka seperti kesalahan2 naif yg kerap kita perbuat
Kedua, kita harus tahu bahwa para Nabi ini pendidikan, tarbiyah dan penjagaannya langsung di Tangan Allah
Dan kita juga harus tahu Tugas Utama para Nabi, yaitu mengajarkan ummat manusia bagaimana menempuh kehidupan ini. Dan tentu saja...
. ...salah satunya adl bagaimana cara bersikap jika melakukan kesalahan. Dari sini kita harus melihat bahwa "kesalahan2" yg dilakukan...
...para Nabi itu adl sejenis adegan, maka tentu ketidaktepatan saat seseorang melihat pada titik "kesalahan"-nya...
Sebab fokus dan pesan yg disampaikan Allah melalui para Rosulnya itu adl bagaimana yg harus dilakukan jika mengalami kesalahan...
Artinya pada hakikatnya para Nabi itu tidak melakukan kesalahan, namun diadegankan melakukan kesalahan untuk memberikan pelajaran
Bukti lain dari itu adl pada suatu waktu Rasulullah shalat Ashar hanya dua rakaat saja. Tentu saja para Sahabat bertanya2...
Apa Rasul lupa? Atau salah? Atau syariat baru? Dan saat ada yg tanya, Rasul langsung menjawab, tidak salah juga tidak lupa...
Wa innama unassa li usyarri', bahwa aku dibuat lupa/dibuat salah untuk mensyariatkan ajaran baru lagi... Itu yg dikatakan Nabi
Dalam hadits sebab musabab disyariatkan sujud sahwi dalam sholat kala lalai/melakukan kesalahan dlm rukun
Pada akhirnya, kita harus dg baik belajar bertatakrama kepada para Nabi jika ingin benar & tepat dlm menjalankan syariat
Sebab ketidakadaan tatakrama pada Nabi efeknya sangat tidak baik tak hanya pada seorang muslim, namun manusia secara umum
Karena para Nabi dan Rasul (yg jumlahnya 124.000 itu) adl kelompok manusia terbaik pilihan Allah yg terjaga dari salah & dosa
Moga mencerahkan, menambah ilmu dan tahu bagaimana bertatakrama pada para Nabi khususnya Junjungan Nabi Muhammad S.a.w... Salam
Langganan:
Postingan (Atom)