Suatu hari seseorang yg terlihat sangat bersih sekali penampilannya, datang kepada Nabi, tak satupun sahabat Nabi di situ yg mengenalnya
Dia datang begitu saja ke majlis dan langsung duduk tepat di hadapan Nabi
Orang itu lantas membuka percakapan dan bertanya beberapa hal pada Nabi. Pertanyaan pertama, "Jelaskan kepadaku apa itu Islam."
Oleh Nabi dijawab bahwa Islam itu kamu menyatakan dua kalimat syahadat, shalat 5 waktu, puasa ramadhan, berzakat, dan haji jika mampu
Orang asing tadi bertanya lagi kepada Nabi, "Jelaskan kepadaku apa itu Iman."
Nabi menjelaskan bahwa Iman adalah percaya keberadaan Allah, keberadaan para Malaikat, percaya kepada Kitab2 Suci-Nya, para Nabinya
Percaya akan kedatangan hari terakhir, juga percaya akan takdir baik ataupun takdir buruk."
Puas dengan jawaban Nabi soal Islam dan Iman, orang tadi meminta penjelasan kepada beliau tentang apa itu Ihsan.
Nabi menjelaskan bahwa Ihsan itu seseorang menyembah Allah seolah dia melihat-Nya, melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya
Tapi berhubung dia tidak bisa melihat-Nya, maka yakinkan diri bahwa Allah Melihatnya, sehingga tetap melakukan segala dg sebaik-baiknya
Orang asing tadi lalu melempar pertanyaan agak rumit, dia bertanya, kapan tepatnya datangnya hari akhir yang dimaksud pada Iman tadi
Nabi menjawab dengan cukup diplomatis, bahwa yang ditanya dan yang bertanya sama-sama tidak tahu kapan pastinya kiamat tiba
Pada akhir diskusi, orang asing tadi sempat bertanya-tanya kepada Nabi tentang tanda-tanda umum datangnya kiamat dan dijawab oleh beliau
Keesokan harinya, Nabi bertanya kepada para sahabatnya, "Kalian tahu tidak, siapa orang asing yg datang kepadaku kemarin?"
Tak satupun sahabat beliau yg tahu. Oleh Nabi diberitahukan bahwa yg datang itu Jibril, untuk mengajarkan AGAMA kalian...
Rentetan kultwit di atas cukup terkenal dengan istilah Hadits Jibril, terdapat dalam Ensiklopedi Hadits Shahih Muslim
Dari hadits di atas sangat bisa dipahami bahwa Agama yang dibawa Nabi dan diajarkan pada kita sangat mencakup semua sisi kehidupan
Artinya, agama ini terdiri dari 4 rangkaian sangat penting; Islam, Iman, Ihsan dan pemahaman akan tanda-tanda spesifik datangnya kiamat
Pada perkembangan ilmiah selanjutnya, pembahasan soal "Islam" secara khusus dibahas panjang lebar dan detail dalam ilmu Fiqih
Sedangkan "Iman" dibahas dengan luas sekali di kategori ilmu Tauhid dan Aqidah
Adapun tanda kiamat banyak dibahas di ilmu-ilmu yang berhubungan dengan sejarah dan fenomena alam serta kehidupan
Sedangkan Ihsan, salah satu pokok penting agama dibahas secara luas sekali di ilmu Akhlaq dan Tasawwuf
Selama ini, banyak sekali kita menemukan orang mengalami kesalahan dalam memahami tasawwuf, sering mereka mengiranya sebagai ilmu sesat
Tentu saja itu terjadi sebab salah informasi dan salah opini. Padahal Tasawwuf adalah bagian dari Ihsan.
Maknanya, Tasawwuf adalah ilmu yang berbicara tentang bagaimana cara membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah dengan baik
Tasawwuf juga adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana tatacara berinteraksi sosial yg baik antar sesama makhluk ciptaan Allah
Tasawwuf tak lebih daripada itu. Maka orang yang keburu menjudge tasawwuf itu sesat, adalah orang yg belum mengerti substansi tasawwuf
Bahayanya, saat seseorang mencegah orang lain untuk mempelajari tasawwuf, artinya dia mencegah orang mempelajari kesempurnaan agamanya!
Sebab secara tanpa sadar dia mencegah orang lain untuk belajar moral, mendekat diri pada Allah.. menghalanginya dari Ihsan.
Otomatis jika seseorang tidak bisa Ihsan, tidak tahu apa itu Ihsan yg dipelajari detail di Tasawwuf, dia belum mengerti agamanya sendiri
Karena jika hanya berislam dan beriman saja, tanpa berihsan, seseorang tidak akan pernah sampai pada kesempurnaan dalam beragama
Akhir kultwit, ambillah agama ini dari ahlinya, bukan asal ambil dari informasi salah yang tidak jelas sumber dan jluntrungnya...
Tampilkan postingan dengan label kisah - hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah - hikmah. Tampilkan semua postingan
17 Sep 2014
28 Des 2013
Kisah Bilal Bin Rabah Sang Pengumandang Adzan Khusus Rasulullah
Cukup banyak kisah kesetiaan persahabatan yg kita baca dan kita dengar. Hampir semuanya selalu mengharukan dan membuat dada sesak
Kisah2 ini pun banyak juga dari para sahabat Nabi, bagaimana kesetiaan mereka pada Nabi dan bagaimana nostalgia mereka sepeninggal Nabi.
Salah satunya adalah kisah Bilal bin Rabah, salah satu tokoh dan pembesar sahabat yg semasa Nabi berposisi sbagai mu-addzin khusus beliau
Semasa Nabi hidup, dan sejak disyariatkannya Adzan sebagai tanda masuknya waktu Shalat, Bilal menjabat posisi tetap itu, adzan 5 waktu.
Dan itu berlangsung sampai Nabi kembali ke hadirat Allah. Setelah itu Bilal tidak mau lagi mengumandangkan Adzan, sebab pasti bersedih.
Posisinya pun diganti orang lain. Itupun setiap adzan Bilal selalu mengenang wajah sosok yg telah mengangkat martabatnya begitu tinggi
Pernah khalifah Abu Bakr memintanya untuk mengumandangkan adzan kembali. Akan tetapi Bilal menolak. Abu Bakr pun sempat mendesaknya.
Bilal pun bertanya kepada Abu Bakr perihal peristiwa pedih kala kaum muslim masih hidup tertindas di Mekkah di awal2 masa risalah.
Kala Bilal mengalami deraan siksaan hebat dari majikannya sebab dia memeluk Islam. Dan Abu Bakr yg membebaskannya dg menebus Bilal
Saat itu juga Bilal tak lagi berstatus sebagai hamba sahaya karena Abu Bakr menebus dan memberinya hak manusia merdeka karena Allah.
Ketika didesak untuk adzan lagi, Bilal bertanya pada Abu Bakr apa motif dia saat menebusnya dulu? Karena Allah apa karena untuk Abu Bakr
Abu Bakr pun menjawab bahwa dia dulu menebusnya karena Allah. Bilal pun bilang, kalau begitu biarkan aku dg keinginanku, tidak adzan lgi
Abu Bakr pun membiarkannya dan tak lagi mendesaknya. Sampai beliau wafat dan khalifah digantikan oleh Umar bin Khattab.
Saat kepemimpinan Umar ini, Bilal memutuskan untuk ikut pasukan muslimin yg sedang melakukan ekspansi ke wilayah2 Romawi dan Persia
Dan Bilal memutuskan untuk menetap di salah satu kota yg berhasil dimerdekakan tentara muslim dari cengkeraman Romawi, Aleppo.
Bertahun-tahun Bilal di kota itu dengan tujuan menghabiskan masa tua & sisa hidupnya. Sampai suatu hari dia bermimpi jumpa sahabat lama
Telah lama sekali jg Bilal tak memimpikan Sang Sahabat yg total mengubah seluruh hidupnya dan menjadikannya begitu berarti. Rasulullah.
Namun dalam mimpi itu, sang sahabat menegurnya, "maa hadza-l jafa' Ya Bilal", mengapa kamu tidak mengunjungiku?
Seketika Bilal terperanjat bangun. Ya, cukup lama sudah dia meninggalkan Madinah, kerinduan pada Nabi mendadak begitu membuncah kali ini
Bilal pun mempersiapkan segalanya untuk melakukan perjalanan ke Madinah, mengunjungi sang sahabat, berziarah pada Nabi.
Sesampai Madinah, Bilal segera bergegas ke masjid dan menuju makam sang sahabat, bersimpuh dan menangis tersedu sedan. Meruahkan rindu
Saat itu, Bilal dihampiri oleh dua anak yg telah beranjak remaja, cucunda Nabi, Hasan dan Husain, Bilal pun menangis memeluk keduanya.
Salah satu dari cucunda Nabi berkata pada Bilal, "pamanda, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan? Kami rindu pada kakek kami".
Bilal terdiam, saat itu Khalifah Umar bertepatan sedang di masjid dan melihat adegan itu. Umar pun memohon Bilal untuk adzan.
Dengan berat hati Bilal bersedia, sebab dia tahu bahwa dia pasti akan bersedih luar biasa jika mengumandangkan adzan kembali.
Namun karena permintaan cucunda Nabi dan permohonan Umar akhirnya Bilal bersedia untuk mengumandangkan adzan, sekali itu saja.
Bilal pun naik menara, dan saat dia berteriak "Allahu Akbar, Allahu Akbar", mendadak seluruh aktivitas kota Madinah terhenti, semua diam
Seluruhnya tercekat, hari2 indah semasa Nabi yg telah lama berlalu seolah hari itu kembali lagi,seisi kota terdiam bernostalgia, deja vu
Saat Bilal mengumandangkan "Asyhadu an laa ilaha ilallah", seisi kota berhamburan berlarian ke arah masjid, bahkan wanita2 dlm pingitan
Seluruhnya berkumpul di halaman masjid, seolah Nabi hidup kembali, rasa rindu pada Sang Junjungan membuncah luar biasa dalam dada mereka
Dan kala Bilal mengumandangkan "Asyhadu anna Muhammadan Rasulallah", seketika tangisan pecah, seluruhnya luruh dalam air mata.
Semuanya menangis tersedu sedan teringat Nabi, bahkan Umar yg paling keras. Bilal sendiri jatuh terduduk menangis sesenggukan.
Dan adzan itu, adzan nostalgia yg dikumandangkan Bilal itu, tidak pernah rampung, Bilal tak sanggup meneruskan Adzan nostalgia itu.
Sejarah mencatat, adzan nostalgia yang tidak selesai itu, adalah adzan terakhir yg dikumandangkan Bilal. Stelah itu dia tidak adzan lagi
Suatu gambaran cinta yang luar biasa. Tak diketemukan dalam sejarah apapun kekuatan cinta antara Rasulullah dan sahabat2nya.
Ya Allah... Tumbuhkan dalam hati kami rasa cinta yang luar biasa itu kepada Sang Junjungan yg kami sayangi...
Allahumma amboi indahnya... Allahumma amboi syahdunya... Allahumma amboi rindunya... Shallallah alaika Ya Sayyidi Ya Rasulallah :'(
Kisah2 ini pun banyak juga dari para sahabat Nabi, bagaimana kesetiaan mereka pada Nabi dan bagaimana nostalgia mereka sepeninggal Nabi.
Salah satunya adalah kisah Bilal bin Rabah, salah satu tokoh dan pembesar sahabat yg semasa Nabi berposisi sbagai mu-addzin khusus beliau
Semasa Nabi hidup, dan sejak disyariatkannya Adzan sebagai tanda masuknya waktu Shalat, Bilal menjabat posisi tetap itu, adzan 5 waktu.
Dan itu berlangsung sampai Nabi kembali ke hadirat Allah. Setelah itu Bilal tidak mau lagi mengumandangkan Adzan, sebab pasti bersedih.
Posisinya pun diganti orang lain. Itupun setiap adzan Bilal selalu mengenang wajah sosok yg telah mengangkat martabatnya begitu tinggi
Pernah khalifah Abu Bakr memintanya untuk mengumandangkan adzan kembali. Akan tetapi Bilal menolak. Abu Bakr pun sempat mendesaknya.
Bilal pun bertanya kepada Abu Bakr perihal peristiwa pedih kala kaum muslim masih hidup tertindas di Mekkah di awal2 masa risalah.
Kala Bilal mengalami deraan siksaan hebat dari majikannya sebab dia memeluk Islam. Dan Abu Bakr yg membebaskannya dg menebus Bilal
Saat itu juga Bilal tak lagi berstatus sebagai hamba sahaya karena Abu Bakr menebus dan memberinya hak manusia merdeka karena Allah.
Ketika didesak untuk adzan lagi, Bilal bertanya pada Abu Bakr apa motif dia saat menebusnya dulu? Karena Allah apa karena untuk Abu Bakr
Abu Bakr pun menjawab bahwa dia dulu menebusnya karena Allah. Bilal pun bilang, kalau begitu biarkan aku dg keinginanku, tidak adzan lgi
Abu Bakr pun membiarkannya dan tak lagi mendesaknya. Sampai beliau wafat dan khalifah digantikan oleh Umar bin Khattab.
Saat kepemimpinan Umar ini, Bilal memutuskan untuk ikut pasukan muslimin yg sedang melakukan ekspansi ke wilayah2 Romawi dan Persia
Dan Bilal memutuskan untuk menetap di salah satu kota yg berhasil dimerdekakan tentara muslim dari cengkeraman Romawi, Aleppo.
Bertahun-tahun Bilal di kota itu dengan tujuan menghabiskan masa tua & sisa hidupnya. Sampai suatu hari dia bermimpi jumpa sahabat lama
Telah lama sekali jg Bilal tak memimpikan Sang Sahabat yg total mengubah seluruh hidupnya dan menjadikannya begitu berarti. Rasulullah.
Namun dalam mimpi itu, sang sahabat menegurnya, "maa hadza-l jafa' Ya Bilal", mengapa kamu tidak mengunjungiku?
Seketika Bilal terperanjat bangun. Ya, cukup lama sudah dia meninggalkan Madinah, kerinduan pada Nabi mendadak begitu membuncah kali ini
Bilal pun mempersiapkan segalanya untuk melakukan perjalanan ke Madinah, mengunjungi sang sahabat, berziarah pada Nabi.
Sesampai Madinah, Bilal segera bergegas ke masjid dan menuju makam sang sahabat, bersimpuh dan menangis tersedu sedan. Meruahkan rindu
Saat itu, Bilal dihampiri oleh dua anak yg telah beranjak remaja, cucunda Nabi, Hasan dan Husain, Bilal pun menangis memeluk keduanya.
Salah satu dari cucunda Nabi berkata pada Bilal, "pamanda, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan? Kami rindu pada kakek kami".
Bilal terdiam, saat itu Khalifah Umar bertepatan sedang di masjid dan melihat adegan itu. Umar pun memohon Bilal untuk adzan.
Dengan berat hati Bilal bersedia, sebab dia tahu bahwa dia pasti akan bersedih luar biasa jika mengumandangkan adzan kembali.
Namun karena permintaan cucunda Nabi dan permohonan Umar akhirnya Bilal bersedia untuk mengumandangkan adzan, sekali itu saja.
Bilal pun naik menara, dan saat dia berteriak "Allahu Akbar, Allahu Akbar", mendadak seluruh aktivitas kota Madinah terhenti, semua diam
Seluruhnya tercekat, hari2 indah semasa Nabi yg telah lama berlalu seolah hari itu kembali lagi,seisi kota terdiam bernostalgia, deja vu
Saat Bilal mengumandangkan "Asyhadu an laa ilaha ilallah", seisi kota berhamburan berlarian ke arah masjid, bahkan wanita2 dlm pingitan
Seluruhnya berkumpul di halaman masjid, seolah Nabi hidup kembali, rasa rindu pada Sang Junjungan membuncah luar biasa dalam dada mereka
Dan kala Bilal mengumandangkan "Asyhadu anna Muhammadan Rasulallah", seketika tangisan pecah, seluruhnya luruh dalam air mata.
Semuanya menangis tersedu sedan teringat Nabi, bahkan Umar yg paling keras. Bilal sendiri jatuh terduduk menangis sesenggukan.
Dan adzan itu, adzan nostalgia yg dikumandangkan Bilal itu, tidak pernah rampung, Bilal tak sanggup meneruskan Adzan nostalgia itu.
Sejarah mencatat, adzan nostalgia yang tidak selesai itu, adalah adzan terakhir yg dikumandangkan Bilal. Stelah itu dia tidak adzan lagi
Suatu gambaran cinta yang luar biasa. Tak diketemukan dalam sejarah apapun kekuatan cinta antara Rasulullah dan sahabat2nya.
Ya Allah... Tumbuhkan dalam hati kami rasa cinta yang luar biasa itu kepada Sang Junjungan yg kami sayangi...
Allahumma amboi indahnya... Allahumma amboi syahdunya... Allahumma amboi rindunya... Shallallah alaika Ya Sayyidi Ya Rasulallah :'(
Mengenang Syaikh Dhiya Assabuni
Sejenak aku ingin bernostalgia, mengenang tahun2 awal masa belajarku di Makkah (2004-2007).
Fokus utama pendidikan kami di tiga tahun pertama itu adalah lebih kepada pendalaman ilmu tatabahasa Arab.
Mulai Nahwu tingkat lanjutan (pasca Syarh Ibn Aqil), Balaghoh, & tentu saja Adab (sastra Arab). Mulai dr era Arab jahiliyyah smpai modern
Saat mempelajari sastra Arab, sangat banyak sekali pengetahuan yg aku dapatkan, terutama sejarah sastra Arab itu sendiri.
Bagaimana indahnya puisi2 Arab kuno (khususnya Mu'allaqot Asyaroh), kekuatan bahasa, dan kekuatan karakter puisi itu sendiri.
Yg sangat aku kenang, dan tak akan aku lupakan sekaligus aku banggakan, mentor sastraku di Makkah adalah penyair kaliber dunia.
Syaikh Dhiya-uddin Al-Sabouni, kakak kandung Ahli Tafsir Qur'an nomer satu dunia saat ini, Syaikh Muhammad Ali Al-Sabouni.
Beliau, dengan usianya yg mendekati kepala 9, tetap energik dan semangat mengajar kami yg usianya jauh lebih muda, terpaut 70 tahun
Tak ada rasa bosan, dengan metode2 yg cukup mencengangkan bagi siapapun yg mempelajari sastra Arab yg punya tingkat kerumitan luar biasa
Yg selalu kuingat adl tiap masuk kelas beliau (dg suara tua yg bergetar) selalu berteriak: Qifa nabki min dzikro habibin wa manzili!
Dan kami sambung serentak... Bi siqthi-l liwa baina-d dakhuli wa haumali.. Setelah itu beliau mmberikan presentasi materi2nya dg elegan
Kehebatan syaikh Dhiya' adalah kepiawaian beliau memudahkan kaidah2 bahasa Arab yg rumit dg perumpamaan2 di sekitar kita.
Semisal I'rob, beliau mengarahkan kami untuk mengimajinasikannya dg gerobak. Atau Mabni dengan tembok kokoh yg tidak bergerak.
Sekitar 3 tahun kebersamaan kami dengan beliau meski kerap kali kami tercepuk-cepuk mengejar kesemangatan beliau.
Pernah kami bertanya perihal kesehatan dan ingatan beliau yg masih prima padahal usia menjelang 90.
Beliau hanya menjawab, hafidznaha fis sighor, hafidzatna fil kibar. Anggota tubuhku kujaga saat kecil, kini ia yg menjagaku saat aku tua
Lain dari itu, Syaikh Dhiya' bisa dikata sebagai sosok yg humoris. Saat kami mulai terlihat bosan, pasti beliau berkisah hal2 lucu..
Semisal kisah dokter yg mengoperasi pasiennya dan gunting operasinya tertinggal di perut pasien setelah bedahan dijahit.
Atau kisah2 lucu yg berhubung erat dg keunikan sastra Arab. Metode ampuh pengusir kepenatan kami dan kelelahan otak kami
Namun waktu terus berjalan. Syaikh Dhiya' semakin tua, fisiknya pun melemah meski tidak mengidap penyakit apapun.
Dan pihak Rusaifah melihat kondisi syaikh pun mengambil kebijakan untuk mengistirahatkan beliau. Sebab beliau telah dipapah saat brjalan
Meski seperti itu, beliau tetap semangat ingin mengajar kami, dan sesekali datang mengobati rindunya dg berkunjung ke asrama kami.
Setelah itu, tepatnya 3 tahun terakhir ini kami tak lagi melihat Syaikh Dhiya'. Beliau menghabiskan masa tuanya di kediamannya.
Meski seperti itu, karya2 terbaru beliau dalam sastra tetap bisa kami nikmati sebab beliau tidak berhenti menulis. Karyanya cukup banyak
Dan kemarin jumat, kami mendapat kabar mengejutkan, bahwa Syaikh Dhiya', mentor sastra kami, tutup usia setelah melewati hidup bahagia
Semalam aku,beserta rekan senior yg lain mengantar beliau ke tempat peristirahatan terakhirnya di Ma'la, Makkah, dekat makam S. Khadijah
Selamat jalan syaikh Dhiya', akan kami kenang engkau seumur hidup kami, terima kasih atas segalanya. Rahimakallah Ya Syaikh.
Terima kasih atas cintamu pada kami, kesemangatanmu di usiamu yg begitu tua adalah inspirasi abadi bagi kami..
Tips hidup bahagia itu sederhana; jangan banyak mengeluh. Sebab semakin seseorang itu sering mengeluh, maka dia akan semakin sumpek & susah
Setiap waktu itu indah bagi seseorang yg mampu mengoptimalkan kebahagiaan yg tersimpan rapi di dalam dirinya
Allah Ta'ala tdk Melihat seberapa banyak ibadahmu, seberapa lama sholatmu, seberapa gosong jidatmu.. Tapi seberapa ikhlas dan bersih hatimu
Hal terindah dalam sujud adalah, kita berbisik kepada bumi namun terdengar oleh Yang di atas sana.
Saat kita menghadap Allah nanti, yg jadi penentuan adalah bukan sebarapa banyak perbuatan baik kita. Tapi seberapa beningnya hati kita
Jika kita sadar sepenuhnya bahwa hidup ini sudah ada Yang Mengatur, maka kita tidak akan pernah terlalu sedih, juga tidak terlalu gembira
Fokus utama pendidikan kami di tiga tahun pertama itu adalah lebih kepada pendalaman ilmu tatabahasa Arab.
Mulai Nahwu tingkat lanjutan (pasca Syarh Ibn Aqil), Balaghoh, & tentu saja Adab (sastra Arab). Mulai dr era Arab jahiliyyah smpai modern
Saat mempelajari sastra Arab, sangat banyak sekali pengetahuan yg aku dapatkan, terutama sejarah sastra Arab itu sendiri.
Bagaimana indahnya puisi2 Arab kuno (khususnya Mu'allaqot Asyaroh), kekuatan bahasa, dan kekuatan karakter puisi itu sendiri.
Yg sangat aku kenang, dan tak akan aku lupakan sekaligus aku banggakan, mentor sastraku di Makkah adalah penyair kaliber dunia.
Syaikh Dhiya-uddin Al-Sabouni, kakak kandung Ahli Tafsir Qur'an nomer satu dunia saat ini, Syaikh Muhammad Ali Al-Sabouni.
Beliau, dengan usianya yg mendekati kepala 9, tetap energik dan semangat mengajar kami yg usianya jauh lebih muda, terpaut 70 tahun
Tak ada rasa bosan, dengan metode2 yg cukup mencengangkan bagi siapapun yg mempelajari sastra Arab yg punya tingkat kerumitan luar biasa
Yg selalu kuingat adl tiap masuk kelas beliau (dg suara tua yg bergetar) selalu berteriak: Qifa nabki min dzikro habibin wa manzili!
Dan kami sambung serentak... Bi siqthi-l liwa baina-d dakhuli wa haumali.. Setelah itu beliau mmberikan presentasi materi2nya dg elegan
Kehebatan syaikh Dhiya' adalah kepiawaian beliau memudahkan kaidah2 bahasa Arab yg rumit dg perumpamaan2 di sekitar kita.
Semisal I'rob, beliau mengarahkan kami untuk mengimajinasikannya dg gerobak. Atau Mabni dengan tembok kokoh yg tidak bergerak.
Sekitar 3 tahun kebersamaan kami dengan beliau meski kerap kali kami tercepuk-cepuk mengejar kesemangatan beliau.
Pernah kami bertanya perihal kesehatan dan ingatan beliau yg masih prima padahal usia menjelang 90.
Beliau hanya menjawab, hafidznaha fis sighor, hafidzatna fil kibar. Anggota tubuhku kujaga saat kecil, kini ia yg menjagaku saat aku tua
Lain dari itu, Syaikh Dhiya' bisa dikata sebagai sosok yg humoris. Saat kami mulai terlihat bosan, pasti beliau berkisah hal2 lucu..
Semisal kisah dokter yg mengoperasi pasiennya dan gunting operasinya tertinggal di perut pasien setelah bedahan dijahit.
Atau kisah2 lucu yg berhubung erat dg keunikan sastra Arab. Metode ampuh pengusir kepenatan kami dan kelelahan otak kami
Namun waktu terus berjalan. Syaikh Dhiya' semakin tua, fisiknya pun melemah meski tidak mengidap penyakit apapun.
Dan pihak Rusaifah melihat kondisi syaikh pun mengambil kebijakan untuk mengistirahatkan beliau. Sebab beliau telah dipapah saat brjalan
Meski seperti itu, beliau tetap semangat ingin mengajar kami, dan sesekali datang mengobati rindunya dg berkunjung ke asrama kami.
Setelah itu, tepatnya 3 tahun terakhir ini kami tak lagi melihat Syaikh Dhiya'. Beliau menghabiskan masa tuanya di kediamannya.
Meski seperti itu, karya2 terbaru beliau dalam sastra tetap bisa kami nikmati sebab beliau tidak berhenti menulis. Karyanya cukup banyak
Dan kemarin jumat, kami mendapat kabar mengejutkan, bahwa Syaikh Dhiya', mentor sastra kami, tutup usia setelah melewati hidup bahagia
Semalam aku,beserta rekan senior yg lain mengantar beliau ke tempat peristirahatan terakhirnya di Ma'la, Makkah, dekat makam S. Khadijah
Selamat jalan syaikh Dhiya', akan kami kenang engkau seumur hidup kami, terima kasih atas segalanya. Rahimakallah Ya Syaikh.
Terima kasih atas cintamu pada kami, kesemangatanmu di usiamu yg begitu tua adalah inspirasi abadi bagi kami..
Tips hidup bahagia itu sederhana; jangan banyak mengeluh. Sebab semakin seseorang itu sering mengeluh, maka dia akan semakin sumpek & susah
Setiap waktu itu indah bagi seseorang yg mampu mengoptimalkan kebahagiaan yg tersimpan rapi di dalam dirinya
Allah Ta'ala tdk Melihat seberapa banyak ibadahmu, seberapa lama sholatmu, seberapa gosong jidatmu.. Tapi seberapa ikhlas dan bersih hatimu
Hal terindah dalam sujud adalah, kita berbisik kepada bumi namun terdengar oleh Yang di atas sana.
Saat kita menghadap Allah nanti, yg jadi penentuan adalah bukan sebarapa banyak perbuatan baik kita. Tapi seberapa beningnya hati kita
Jika kita sadar sepenuhnya bahwa hidup ini sudah ada Yang Mengatur, maka kita tidak akan pernah terlalu sedih, juga tidak terlalu gembira
26 Des 2013
Para Pejuang Agama Sesungguhnya Di Palestina
Jika mempelajari hadits2 perihal tanda zaman yg disampaikan oleh Nabi melalui isyarat2 dan simbol2, kita akan menemukan fakta2 menarik
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa salah satu dari empat pilar agama yg harus kita ketahui adalah ilmu2 tanda akhir zaman...
Jadi dalam beragama (ber-diin) yg baik adalah bukan sekedar tahu Islam, Iman. Tetapi juga Ihsan dan Ilmu tanda akhir zaman...
Yg aku katakan ini berdasar atas "Hadits Jibril" yg sangat terkenal itu dan sudah pernah aku kultwitkan » http://t.co/FJhtBKBMxD
Dalam berkembangan berikutnya, ilmu yg khusus mempelajari tanda2 masa ini dikenal dg istilah "fiqh tahawwulat"...
Seseorang yg mengetahui fiqh tahawwulat dg baik tahu apa yg harus dia lakukan dalam menghadapi zaman yg serba membingungkan ini...
Sekaligus dia tidak heran dg apa yg terjadi juga tahu apa yg harus dilakukan untuk menyelamatkan sekaligus menjalankan agamanya dg baik
Di antara tanda masa yg diisyaratkan Nabi adalah bahwa beliau mengatakan jika para pejuang agama yg sesungguhnya akan selalu ada
Para mujahid itu akan trs memperjuangkan tegaknya agama ini sesuai dg manhaj yg dibawa Nabi. Bukan manhaj2 klaim atau organisasi tertentu
Di sebagian riwayat yg shahih, di antara para Mujahid itu (dengan ideologi wasathi yg diajarkan Nabi itu) berkumpul di sekitar Palestina
Mereka akan terus berjuang dengan atau tanpa dukungan apapun, sampai janji2 Allah melalui Nabi-Nya akan terbukti suatu waktu nanti...
Bagi para saudara muslim yg begitu kompeten dengan nasib Palestina (dan Al-Aqsha), pernah kalian memperhatikan ideologi orang Palestina?
Jika ingin tahu bagaimana manhaj turun temurun dari era Nabi sampai sekarang,coba ketahui seperti apa ideologi dan Islam orang Palestina
Terlebih mereka yg tinggal di Jalur Gaza... Pejuang yg tak jemu2 terus berjuang demi kembalinya al-Quds walau media tak berpihak...
Catat baik2, di lapangan kalian tak akan menemukan orang berhaluan Syiah atau Salafi/Wahabi di kalangan pejuang Palestina
Para pejuang Palestina itu para Sunni asli yang tidak membutuhkan dukungan yg hanya berupa kata2 dan propaganda saja
Mereka juga bukan orang2 yg kerap berteriak2 membawa ideologi atau agama untuk kepentingan sesaat saja.
Fokus mereka adalah kembalinya al-Quds dan Al-Aqsha ke pangkuan kaum muslimin seluruhnya tanpa ada kepentingan2 apapun...
Coba perhatikan, apa ada dari golongan2 yg aku sebut tadi memberikan perhatian khusus atau mengarahkan simpatisannya untuk...
...memikirkan nasib Palestina? Kecuali hanya basa-basi saja dan mengganggapkan bukan permasalahan bersama (qodhiyyah kubro) lil muslimin
Walau sejatinya orang2 Palestina tidak membutuhkan semua itu dan mereka akan terus berjuang dengan kemandirian mereka... Tanpa lelah...
Suatu saat kita akan kembali meletakkan dahi kita untuk bersujud dengan tenang dan air mata berlinang di Masjid Al-Aqsha...
Mereka, orang2 Palestina itu, yg saat ini beritanya tenggelam, trs berjuang sekuat dan semampu mereka dg cinta yg membuncah pada Nabinya
Coba tanyakan pada orang Palestina khususnya yg tinggal di Gaza, bagi mereka motivasi perjuangan bersumber pada cinta kepada Nabi...
Cinta yg tak hanya sekedar ngaku2 melaksanakan sunnahnya saja. Tetapi juga cinta yg mendalam kepada pribadi Sang Junjungan
Cinta yg selalu gegap gempita dicurahkan terutama ketika bulan Maulid Nabi masuk. Itu fakta di Palestina...
Maka jika ingin tahu arti mujahid fi sabilillah yg sesuai dg apa yg dimaksud Nabi, maka lihat dan pelajari ideologi orang Palestina...
Ideologi Ahlus Sunnah sesungguhnya yg bukan cuma dimanhaj2kan apalagi sampai digunakan untuk menyalahkan dan merasa diri paling benar...
Semoga mencerahkan dan semoga Allah selalu Memberikan anugerah dan pertolongan-Nya kepada para pejuang2 sejati kita di Palestina, amin
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa salah satu dari empat pilar agama yg harus kita ketahui adalah ilmu2 tanda akhir zaman...
Jadi dalam beragama (ber-diin) yg baik adalah bukan sekedar tahu Islam, Iman. Tetapi juga Ihsan dan Ilmu tanda akhir zaman...
Yg aku katakan ini berdasar atas "Hadits Jibril" yg sangat terkenal itu dan sudah pernah aku kultwitkan » http://t.co/FJhtBKBMxD
Dalam berkembangan berikutnya, ilmu yg khusus mempelajari tanda2 masa ini dikenal dg istilah "fiqh tahawwulat"...
Seseorang yg mengetahui fiqh tahawwulat dg baik tahu apa yg harus dia lakukan dalam menghadapi zaman yg serba membingungkan ini...
Sekaligus dia tidak heran dg apa yg terjadi juga tahu apa yg harus dilakukan untuk menyelamatkan sekaligus menjalankan agamanya dg baik
Di antara tanda masa yg diisyaratkan Nabi adalah bahwa beliau mengatakan jika para pejuang agama yg sesungguhnya akan selalu ada
Para mujahid itu akan trs memperjuangkan tegaknya agama ini sesuai dg manhaj yg dibawa Nabi. Bukan manhaj2 klaim atau organisasi tertentu
Di sebagian riwayat yg shahih, di antara para Mujahid itu (dengan ideologi wasathi yg diajarkan Nabi itu) berkumpul di sekitar Palestina
Mereka akan terus berjuang dengan atau tanpa dukungan apapun, sampai janji2 Allah melalui Nabi-Nya akan terbukti suatu waktu nanti...
Bagi para saudara muslim yg begitu kompeten dengan nasib Palestina (dan Al-Aqsha), pernah kalian memperhatikan ideologi orang Palestina?
Jika ingin tahu bagaimana manhaj turun temurun dari era Nabi sampai sekarang,coba ketahui seperti apa ideologi dan Islam orang Palestina
Terlebih mereka yg tinggal di Jalur Gaza... Pejuang yg tak jemu2 terus berjuang demi kembalinya al-Quds walau media tak berpihak...
Catat baik2, di lapangan kalian tak akan menemukan orang berhaluan Syiah atau Salafi/Wahabi di kalangan pejuang Palestina
Para pejuang Palestina itu para Sunni asli yang tidak membutuhkan dukungan yg hanya berupa kata2 dan propaganda saja
Mereka juga bukan orang2 yg kerap berteriak2 membawa ideologi atau agama untuk kepentingan sesaat saja.
Fokus mereka adalah kembalinya al-Quds dan Al-Aqsha ke pangkuan kaum muslimin seluruhnya tanpa ada kepentingan2 apapun...
Coba perhatikan, apa ada dari golongan2 yg aku sebut tadi memberikan perhatian khusus atau mengarahkan simpatisannya untuk...
...memikirkan nasib Palestina? Kecuali hanya basa-basi saja dan mengganggapkan bukan permasalahan bersama (qodhiyyah kubro) lil muslimin
Walau sejatinya orang2 Palestina tidak membutuhkan semua itu dan mereka akan terus berjuang dengan kemandirian mereka... Tanpa lelah...
Suatu saat kita akan kembali meletakkan dahi kita untuk bersujud dengan tenang dan air mata berlinang di Masjid Al-Aqsha...
Mereka, orang2 Palestina itu, yg saat ini beritanya tenggelam, trs berjuang sekuat dan semampu mereka dg cinta yg membuncah pada Nabinya
Coba tanyakan pada orang Palestina khususnya yg tinggal di Gaza, bagi mereka motivasi perjuangan bersumber pada cinta kepada Nabi...
Cinta yg tak hanya sekedar ngaku2 melaksanakan sunnahnya saja. Tetapi juga cinta yg mendalam kepada pribadi Sang Junjungan
Cinta yg selalu gegap gempita dicurahkan terutama ketika bulan Maulid Nabi masuk. Itu fakta di Palestina...
Maka jika ingin tahu arti mujahid fi sabilillah yg sesuai dg apa yg dimaksud Nabi, maka lihat dan pelajari ideologi orang Palestina...
Ideologi Ahlus Sunnah sesungguhnya yg bukan cuma dimanhaj2kan apalagi sampai digunakan untuk menyalahkan dan merasa diri paling benar...
Semoga mencerahkan dan semoga Allah selalu Memberikan anugerah dan pertolongan-Nya kepada para pejuang2 sejati kita di Palestina, amin
23 Des 2013
Kebaikan Fir'aun
Mungkin sebagian teman dan sesepuh agak gerah dg twit2ku beberapa waktu terakhir ini, kok terasa begitu keras. Tidak seperti biasa...
Ya, mohon dimaklumi saja sebab siapapun selama dia itu manusia maka pasti memiliki dua (atau beberapa) sisi. Meski tingkatannya berbeda2
Tidak ada ceritanya manusia itu seluruh sifatnya lembut. Tidak ada juga manusia yg seluruh sifatnya kasar/keras. Pasti ada keduanya...
Hanya saja di antara kedua sifat yg bertentangan itu, mana yg lebih dominan dalam pribadi tiap2 manusia.
Oke, sebelum aku masuk pada hal yg ingin aku bicarakan, sedikit aku akan bercerita. Baru saja aku baca hadits menarik di Syu'abul Iman
Kita tak usah membicarakan bagaimana status hadits yg akan aku sampaikan, itu persoalan teknis. Yg penting adl pelajaran besarnya...
Hadits unik ini diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, salah satu pionir dalam dunia ilmu hadits.
Setiap orang Islam pasti tahu siapa sosok antagonis yg tersebut abadi dalam al-Qur'an dg segala kesombongan & kejumawaannya, Fir'aun...
Jika disebutkan kata Fir'aun, maka segera terlintas dalam benak kita segala predikat dan track record buruk. Ikon kejahatan dlm sejarah
Segala sepak terjang kesombongannya yg luar biasa terekam dlm al-Qur'an. Bagaimana jg cara Nabi Musa menghadapinya...
Hingga kematiannya yg tragis di telan oleh Laut Merah setelah laut itu terbelah oleh mukjizat pukulan tongkat Nabi Musa...
Hadits yg aku maksud tadi, berkenaan dg Fir'aun. Sebelum Nabi Musa diutus untuk menghadapi Fir'aun, beliau sempat bertanya kepada Allah
Bahwa kenapa Fir'aun dibiarkan hidup begitu lama dg sgala kesombongannya, perilakunya yg memperbudak bangsa Israel, bahkan mengaku Tuhan
Oleh Allah, Nabi Musa diberitahu, bahwa meski Fir'aun seperti itu, dia tetap mempunyai sisi yg lain, terutama kepada sesama bangsanya..
Bahwa Fir'aun, meski seperti itu, dia punya kebaikan perangai jika pada bangsanya dan tak mempersulit siapapun yg ingin menemuinya...
Maka oleh Allah, sisi kebaikan Fir'aun itu dibalas oleh-Nya dg usia panjang dan tak pernah mengalami sakit. Versi hadits itu, 400 tahun
Makanya oleh Allah, Nabi Musa & Harun diarahkan untuk bertutur kata yg baik meskipun tetap tajam, siapa tahu Fir'aun mau bertaubat
Fa qulaa lahu qoulan layyinan la'allahu yatadzakkaru aw yakhsya...Begitu di al-Qur'an, sebab Fir'aun jg tetap manusia yg punya sisi baik
Kayaknya yg mau aku kultwitkan perihal perbedaan ideologi nggak jadi deh... Besok aja Insya Allah... Sekarang intermezzo Fir'aun dulu...
Dan seperti yg terekam di al-Qur'an pula diceritakan bagaimana Fir'aun membesarkan Musa kecil dalam asuhannya dg penuh kasih sayang...
Meskipun kekejamannya pada rakyatnya (khususnya yg non koptik) sangat luar biasa. Bahkan dg kearoganannya dia mengaku tuhan...
Pelajaran moral apa yg bisa kita ambil? Bahwa mungkin kita tidak suka seseorang akan kekerasannya. Namun bagaimanapun jangan tutup mata
Jika bisa jadi dia punya sisi kebaikan yg lain. Begitu pula dg seseorang yg dominan bersifat baik, pasti ada sisi jelek yg tdk kita suka
Maka semisal kita respek dg seseorang sebab dia selalu bertutur kata sejuk, lalu tiba2 dlm satu tempo dia berubah tegas dan tajam...
...yg bahkan membuat kita sendiri gerah atau bahkan tidak suka, maka kita tidak perlu heran dg perubahan2 sejenak itu, namanya manusia
Mungkin hanya para Nabi saja yg tidak punya sisi menyebalkan sebab mereka punya kemampuan super tinggi mengontrol perilakunya...
Khususnya Nabi yg sangat kita cinta, Rasulullah S.a.w. Itupun mereka yg kebaikannya tak terilustrasi itu saja masih banyak yg benci..
Apalagi kita yg tidak pernah stabil antara sifat baik dan sifat buruk kita. Alhasil dg pelajaran2 semisal Fir'aun ini kita bisa belajar
Bagaimana bersikap ke sesama manusia, khususnya ke sesama muslim. Sbb banyak sekali di antara kita yg kerap merasa paling benar...
Kita juga tak perlu heran saat lihat orang marah2 dlm mengingatkan orang lain. Saat sekolah saja jika kita salah menjawab, dimarahi guru
Apalagi ini kesalahan level akidah misalkan. Cuma memang caranya saja yg perlu dimanajemen dg baik...
Karena pada dasarnya, semelenceng apapun pemikiran dan ideologi, ia tetap bermula dari satu titik kebenaran, hanya salah penafsiran saja
Dan dalam cara mengingatkan, cara menjewer, keras lembutnya tergantung level kesalahan. Hal yg sangat maklum sekali dlm dunia pendidikan
Bukan lantas misalkan perintah Allah pada Nabi Musa untuk menasihati dg lembut itu sebagai bentuk toleransi. Tak ada yg memaknai gt...
Karena toleransi itu hal, dan mengingatkan, menasihati juga hal yg lain. Tempatkanlah segala sesuatu pada tempatnya masing2...
Sebab seseorang (apalagi jika dia muslim) yg tidak pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya, artinya dia belum bijak dan jg belum adil
Dan kata lain belum bisa adil artinya seseorang itu masih pada wilayah dzalim... Perlu segera mengkoreksi diri untuk beranjak dari situ
Semoga mencerahkan dan semoga kita bisa terus menaikkan kualitas kepribadian kita dg belajar bersikap sesuai keharusan masing2
Ya, mohon dimaklumi saja sebab siapapun selama dia itu manusia maka pasti memiliki dua (atau beberapa) sisi. Meski tingkatannya berbeda2
Tidak ada ceritanya manusia itu seluruh sifatnya lembut. Tidak ada juga manusia yg seluruh sifatnya kasar/keras. Pasti ada keduanya...
Hanya saja di antara kedua sifat yg bertentangan itu, mana yg lebih dominan dalam pribadi tiap2 manusia.
Oke, sebelum aku masuk pada hal yg ingin aku bicarakan, sedikit aku akan bercerita. Baru saja aku baca hadits menarik di Syu'abul Iman
Kita tak usah membicarakan bagaimana status hadits yg akan aku sampaikan, itu persoalan teknis. Yg penting adl pelajaran besarnya...
Hadits unik ini diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, salah satu pionir dalam dunia ilmu hadits.
Setiap orang Islam pasti tahu siapa sosok antagonis yg tersebut abadi dalam al-Qur'an dg segala kesombongan & kejumawaannya, Fir'aun...
Jika disebutkan kata Fir'aun, maka segera terlintas dalam benak kita segala predikat dan track record buruk. Ikon kejahatan dlm sejarah
Segala sepak terjang kesombongannya yg luar biasa terekam dlm al-Qur'an. Bagaimana jg cara Nabi Musa menghadapinya...
Hingga kematiannya yg tragis di telan oleh Laut Merah setelah laut itu terbelah oleh mukjizat pukulan tongkat Nabi Musa...
Hadits yg aku maksud tadi, berkenaan dg Fir'aun. Sebelum Nabi Musa diutus untuk menghadapi Fir'aun, beliau sempat bertanya kepada Allah
Bahwa kenapa Fir'aun dibiarkan hidup begitu lama dg sgala kesombongannya, perilakunya yg memperbudak bangsa Israel, bahkan mengaku Tuhan
Oleh Allah, Nabi Musa diberitahu, bahwa meski Fir'aun seperti itu, dia tetap mempunyai sisi yg lain, terutama kepada sesama bangsanya..
Bahwa Fir'aun, meski seperti itu, dia punya kebaikan perangai jika pada bangsanya dan tak mempersulit siapapun yg ingin menemuinya...
Maka oleh Allah, sisi kebaikan Fir'aun itu dibalas oleh-Nya dg usia panjang dan tak pernah mengalami sakit. Versi hadits itu, 400 tahun
Makanya oleh Allah, Nabi Musa & Harun diarahkan untuk bertutur kata yg baik meskipun tetap tajam, siapa tahu Fir'aun mau bertaubat
Fa qulaa lahu qoulan layyinan la'allahu yatadzakkaru aw yakhsya...Begitu di al-Qur'an, sebab Fir'aun jg tetap manusia yg punya sisi baik
Kayaknya yg mau aku kultwitkan perihal perbedaan ideologi nggak jadi deh... Besok aja Insya Allah... Sekarang intermezzo Fir'aun dulu...
Dan seperti yg terekam di al-Qur'an pula diceritakan bagaimana Fir'aun membesarkan Musa kecil dalam asuhannya dg penuh kasih sayang...
Meskipun kekejamannya pada rakyatnya (khususnya yg non koptik) sangat luar biasa. Bahkan dg kearoganannya dia mengaku tuhan...
Pelajaran moral apa yg bisa kita ambil? Bahwa mungkin kita tidak suka seseorang akan kekerasannya. Namun bagaimanapun jangan tutup mata
Jika bisa jadi dia punya sisi kebaikan yg lain. Begitu pula dg seseorang yg dominan bersifat baik, pasti ada sisi jelek yg tdk kita suka
Maka semisal kita respek dg seseorang sebab dia selalu bertutur kata sejuk, lalu tiba2 dlm satu tempo dia berubah tegas dan tajam...
...yg bahkan membuat kita sendiri gerah atau bahkan tidak suka, maka kita tidak perlu heran dg perubahan2 sejenak itu, namanya manusia
Mungkin hanya para Nabi saja yg tidak punya sisi menyebalkan sebab mereka punya kemampuan super tinggi mengontrol perilakunya...
Khususnya Nabi yg sangat kita cinta, Rasulullah S.a.w. Itupun mereka yg kebaikannya tak terilustrasi itu saja masih banyak yg benci..
Apalagi kita yg tidak pernah stabil antara sifat baik dan sifat buruk kita. Alhasil dg pelajaran2 semisal Fir'aun ini kita bisa belajar
Bagaimana bersikap ke sesama manusia, khususnya ke sesama muslim. Sbb banyak sekali di antara kita yg kerap merasa paling benar...
Kita juga tak perlu heran saat lihat orang marah2 dlm mengingatkan orang lain. Saat sekolah saja jika kita salah menjawab, dimarahi guru
Apalagi ini kesalahan level akidah misalkan. Cuma memang caranya saja yg perlu dimanajemen dg baik...
Karena pada dasarnya, semelenceng apapun pemikiran dan ideologi, ia tetap bermula dari satu titik kebenaran, hanya salah penafsiran saja
Dan dalam cara mengingatkan, cara menjewer, keras lembutnya tergantung level kesalahan. Hal yg sangat maklum sekali dlm dunia pendidikan
Bukan lantas misalkan perintah Allah pada Nabi Musa untuk menasihati dg lembut itu sebagai bentuk toleransi. Tak ada yg memaknai gt...
Karena toleransi itu hal, dan mengingatkan, menasihati juga hal yg lain. Tempatkanlah segala sesuatu pada tempatnya masing2...
Sebab seseorang (apalagi jika dia muslim) yg tidak pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya, artinya dia belum bijak dan jg belum adil
Dan kata lain belum bisa adil artinya seseorang itu masih pada wilayah dzalim... Perlu segera mengkoreksi diri untuk beranjak dari situ
Semoga mencerahkan dan semoga kita bisa terus menaikkan kualitas kepribadian kita dg belajar bersikap sesuai keharusan masing2
Langganan:
Postingan (Atom)