Siapapun yang membaca dan mengkaji Al-Quran dengan baik pasti tahu dan sadar sepenuhnya bahwa Agama pamungkas...
...yang telah ditetapkan oleh Allah untuk menjadi pegangan utama dan sandaran asas bagi kehidupan, adalah Islam. Diakui ataupun tidak
Siapapun tahu dan sadar bahwa segala aturan dan segala larangan yang berada dalam syariat Islam, dengan begitu elegan dan seimbang
serta begitu cantik mengatur segala bentuk interaksi yang terjadi di alam semesta ini
Aturan main dalam kehidupan agar segalanya berjalan lurus, tak ada ketimpangan
& tentu agar tak terjadi kekacauan sistem hukum alam yang berujung pada rusaknya semesta & kehancuran ummat manusia, dalam berbagai skala
Siapapun juga tahu bahwa tata aturan dalam Islam -dengan bentuk fisiknya yang sederhana dan tak rumit- mencakup dengan komprehensif...
dan sempurna sekaligus presisi yang tak meleset atas seluruh hukum dan seluruh norma kehidupan dan hak asasi kemanusiaan.
Sistem sempurna dari Yang Maha Sempurna yang secara otomatis menarik siapapun yang mempunyai pikiran jernih dan hati bersih...
...untuk berpegang teguh terhadap sistem yang menjamin ketenangan dan kebahagiaan hidup itu.
Artinya, jika seseorang itu semakin tercerahkan hatinya, luas cara pandangnya, tertata bagus mindset-nya, lapang dadanya...
...maka ketergantungannya kepada syariat ini akan semakin kuat
karena dia tahu dengan pasti keindahan dan rahasia agung di balik Syariat yang elegan ini.
Tentu dengan catatan jika syariat elegan ini dijalankan sesuai tatanan yang telah ditetapkan oleh syariat itu sendiri
tidak asal berteriak “syariat” terlebih dengan emosi tak terkontrol dan kepentingan terselubung yang tak terpuji
...atau diperalat dengan sangat lugu oleh pihak yang ingin mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.
Bukti nyata yang tercatat oleh tinta emas sejarah akan keagungan dan keindahan sistem syariat Islam ini adalah ...
...apa yang telah dirasakan oleh Bangsa Arab pada 14 abad yang lalu.
Masa ratusan tahun saat mereka berkubang dalam lumpur ke-jahiliyah-an,terjebak dalam hukum rimba peradaban & kemunduran moral yang parah
Hanya dalam tempo sejenak saja mereka keluar dari era serba gelap itu tepat saat mereka mulai mengenal Islam
Secara frontal Bangsa yang hampir tak lagi berbentuk itu, sebab Islam, seketika keluar dari pekatnya kebodohan menuju cahaya ilmu.
Yang asalnya tercerai berai oleh fanatisme kesukuan yang tak masuk akal, menjadi bersatu padu tanpa memandang keunggulan antar suku
Bangsa yang asalnya tak ada yang mendengar keberadaannya, tiba-tiba terkenal sebagai penakluk sebagai pembaharu di seluruh penjuru dunia
bangsa yang sebelum memiliki cara berpikir kolot dan kaku, berubah jadi bangsa yang memiliki cara berpikir cemerlang dan brilian.
Bangsa yang selalu hidup dalam ketakutan sebab keterceraiberaian itu menjadi bangsa besar bersatu yang hidup aman,
yang asalnya saling bermusuhan menjadi saling menyayangi, yang asalnya lemah, menjadi kuat, yang asalnya terhina, menjadi mulia
yang asalnya secara ekonomi sangat miskin mendadak menjadi bangsa yang kaya raya,
yang asalnya peradabannya sangat terbelakang, tiba-tiba tampil memimpin peradaban dunia.
Dan itu tak hanya dirasakan oleh Arab saja, hampir semua bangsa yang mengenal Islam yang disampaikan dengan bijak dan benar...
selalu mengalami perubahan frontal yg sangat positif itu & selalu berjangka waktu kesejahteraan yg cukup lama dari generasi ke generasi.
Dan jika direnungi cukup dalam, alangkah Maha Besarnya Allah yang telah menetapkan syariat pamungkas ini untuk manusia dan kemanusiaan
dan jika diterapkan sesuai tatanannya maka pasti kejayaan dan keagungan yang pasti teraih, serta kewibawaan tiada banding
Tentu saja kita tak hanya mengenang sejarah masa lampau kedigdayaan kaum muslimin dengan penerapan syariat Islam selama itu
tak hanya mengenang bagaimana tangguhnya militer kaum muslimin di mata dunia kala itu...
..luasnya wilayah kekuasaan kaum muslimin yang memanjang dari lepas pantai Mauritania sampai pantai selatan pulau Jawa..
munculnya banyak ilmuwan yg bahkan menjadi rujukan utama peradaban Barat, mulai dari seni, teknologi, politik sampai sastra
juga banyak menciptakan dasar-dasar penemuan yang sangat berguna sekali untuk kemanusiaan dan semesta
Tak hanya itu, belum lagi para Ulama yang berkecimpung khusus dalam ilmu-ilmu syariat, pena mereka ditaati
tetak ujung pedang mereka ditakuti, bendera mereka berkibar gagah di atas seluruh bendera bangsa apapun di muka bumi ini
yang bernaung di bawahnya keadilan dan kedamaian
Setelah sebelum kedatangan Rasulullah mereka berada dalam kondisi yang mengenaskan dan sangat memprihatinkan
sebab berkubang dalam lumpur maut kejahiliyahan tadi.
Tentu kita tak hanya sibuk mengenang-mengenang saja, namun mencari jalan yg tepat & bijak bagaimana bisa kembali menghidupkan kenangan2
dan bagaimana cara para pendahulu kita mencapai kejayaan itu
..tak hanya asal melihat kesuksesan tetapi menutup mata terhadap jalan terjal menuju kesuksesan itu.
Menemukan kembali cara yang telah ditemukan para penyeru iman itu, bagaimana cara mereka melihat hidup ini dari semua sisi pandang
(tak hanya satu sudut, masih ditambah egoisme lagi), lalu bagaimana mengatur kehidupan dengan perspektif semua sudut tadi
agar bisa dengan mudah menemukan celah untuk dibenahi, terlihat yang bengkok untuk diluruskan,
mengganti yg jelek dengan yang baik, menghilangkan kemalasan dengan banyaknya aktivitas ukhrowi/duniawi yg selalu terkoneksi ke ukhrowi
mengganti malapetaka kehidupan dengan kebahagiaan, menghilangkan permusuhan dengan persaudaraan yang saling menasehati
menghapus kemunduran dengan kebangkitan, menambal perpecahan dengan kesemangatan dan keseriusan, membangun keagungan dengan kepemimpinan
Cara yang membuat para pendahulu kita menjadi ummat terbaik yang dimunculkan untuk kemanusiaan...
mengajak kepada kebaikan dan mencegah terhadap segala jenis keburukan sekaligus keimanan sempurna pada Allah
Tentu sj mreka tak menginginkan semua itu kecuali hanya 1 hal saja, murni mncari ridho Allah. Bukan karena orientasi posisi atau materi.
Semua itu mereka raih sebab anugerah Agama ini serta tahu dengan baik bagaimana rahasia hakikat agama ini yang jernih
dan pondasinya yang kokoh yang tak ada celah kebatilan apapun. Tidak dari depan juga tidak dari belakang
Juga sebab anugerah berpegang teguhnya mereka pada tata aturan Qur’an dan Sunnah yang sebenarnya dan sesuai ilmunya
kebersatuan mereka dalam ukhuwwah di jalan Allah, mengabaikan segala jenis perbedaan yang berpotensi memecahbelah
serta tidak terjebak dalam perdebatan kontraproduktif yang selalu menumbuhkan bibit permusuhan dan kebencian
Maka di antara hal yang diperlukan oleh kaum muslimin saat ini, khususnya para juru dakwahnya adalah
merenungi dalam-dalam sekaligus mempraktekkan QS. Ali Imron 103 dalam dakwah dan interaksi sosial mereka
Karena ayat ini adl ayat pondasi dakwah Islamiyyah,bahkan intisarinya. Jika memang ingin kembali meraih kejayaan2 masa lalu itu kembali.
Tak terjebak dalam saling menyalahkan, mengolok, membid’ahkan, memfatwa-fatwakan haram
apalagi smpai mengkafirkan terhadap perbedaan kecil sekalipun, terlebih jika perbedaan itu ternyata hanya urusan duniawi smacam politik
politik dengan sistem yang sama sekali tak pernah ada untungnya untuk umumnya kaum muslimin kecuali hanya segelintir kelompok saja
Wallahu a'lam. Selamat menikmati akhir pekan dan bermalam minggu :)
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
30 Sep 2014
17 Sep 2014
Hadist Jibril (Empat Pilar Agama)
Suatu hari seseorang yg terlihat sangat bersih sekali penampilannya, datang kepada Nabi, tak satupun sahabat Nabi di situ yg mengenalnya
Dia datang begitu saja ke majlis dan langsung duduk tepat di hadapan Nabi
Orang itu lantas membuka percakapan dan bertanya beberapa hal pada Nabi. Pertanyaan pertama, "Jelaskan kepadaku apa itu Islam."
Oleh Nabi dijawab bahwa Islam itu kamu menyatakan dua kalimat syahadat, shalat 5 waktu, puasa ramadhan, berzakat, dan haji jika mampu
Orang asing tadi bertanya lagi kepada Nabi, "Jelaskan kepadaku apa itu Iman."
Nabi menjelaskan bahwa Iman adalah percaya keberadaan Allah, keberadaan para Malaikat, percaya kepada Kitab2 Suci-Nya, para Nabinya
Percaya akan kedatangan hari terakhir, juga percaya akan takdir baik ataupun takdir buruk."
Puas dengan jawaban Nabi soal Islam dan Iman, orang tadi meminta penjelasan kepada beliau tentang apa itu Ihsan.
Nabi menjelaskan bahwa Ihsan itu seseorang menyembah Allah seolah dia melihat-Nya, melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya
Tapi berhubung dia tidak bisa melihat-Nya, maka yakinkan diri bahwa Allah Melihatnya, sehingga tetap melakukan segala dg sebaik-baiknya
Orang asing tadi lalu melempar pertanyaan agak rumit, dia bertanya, kapan tepatnya datangnya hari akhir yang dimaksud pada Iman tadi
Nabi menjawab dengan cukup diplomatis, bahwa yang ditanya dan yang bertanya sama-sama tidak tahu kapan pastinya kiamat tiba
Pada akhir diskusi, orang asing tadi sempat bertanya-tanya kepada Nabi tentang tanda-tanda umum datangnya kiamat dan dijawab oleh beliau
Keesokan harinya, Nabi bertanya kepada para sahabatnya, "Kalian tahu tidak, siapa orang asing yg datang kepadaku kemarin?"
Tak satupun sahabat beliau yg tahu. Oleh Nabi diberitahukan bahwa yg datang itu Jibril, untuk mengajarkan AGAMA kalian...
Rentetan kultwit di atas cukup terkenal dengan istilah Hadits Jibril, terdapat dalam Ensiklopedi Hadits Shahih Muslim
Dari hadits di atas sangat bisa dipahami bahwa Agama yang dibawa Nabi dan diajarkan pada kita sangat mencakup semua sisi kehidupan
Artinya, agama ini terdiri dari 4 rangkaian sangat penting; Islam, Iman, Ihsan dan pemahaman akan tanda-tanda spesifik datangnya kiamat
Pada perkembangan ilmiah selanjutnya, pembahasan soal "Islam" secara khusus dibahas panjang lebar dan detail dalam ilmu Fiqih
Sedangkan "Iman" dibahas dengan luas sekali di kategori ilmu Tauhid dan Aqidah
Adapun tanda kiamat banyak dibahas di ilmu-ilmu yang berhubungan dengan sejarah dan fenomena alam serta kehidupan
Sedangkan Ihsan, salah satu pokok penting agama dibahas secara luas sekali di ilmu Akhlaq dan Tasawwuf
Selama ini, banyak sekali kita menemukan orang mengalami kesalahan dalam memahami tasawwuf, sering mereka mengiranya sebagai ilmu sesat
Tentu saja itu terjadi sebab salah informasi dan salah opini. Padahal Tasawwuf adalah bagian dari Ihsan.
Maknanya, Tasawwuf adalah ilmu yang berbicara tentang bagaimana cara membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah dengan baik
Tasawwuf juga adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana tatacara berinteraksi sosial yg baik antar sesama makhluk ciptaan Allah
Tasawwuf tak lebih daripada itu. Maka orang yang keburu menjudge tasawwuf itu sesat, adalah orang yg belum mengerti substansi tasawwuf
Bahayanya, saat seseorang mencegah orang lain untuk mempelajari tasawwuf, artinya dia mencegah orang mempelajari kesempurnaan agamanya!
Sebab secara tanpa sadar dia mencegah orang lain untuk belajar moral, mendekat diri pada Allah.. menghalanginya dari Ihsan.
Otomatis jika seseorang tidak bisa Ihsan, tidak tahu apa itu Ihsan yg dipelajari detail di Tasawwuf, dia belum mengerti agamanya sendiri
Karena jika hanya berislam dan beriman saja, tanpa berihsan, seseorang tidak akan pernah sampai pada kesempurnaan dalam beragama
Akhir kultwit, ambillah agama ini dari ahlinya, bukan asal ambil dari informasi salah yang tidak jelas sumber dan jluntrungnya...
Dia datang begitu saja ke majlis dan langsung duduk tepat di hadapan Nabi
Orang itu lantas membuka percakapan dan bertanya beberapa hal pada Nabi. Pertanyaan pertama, "Jelaskan kepadaku apa itu Islam."
Oleh Nabi dijawab bahwa Islam itu kamu menyatakan dua kalimat syahadat, shalat 5 waktu, puasa ramadhan, berzakat, dan haji jika mampu
Orang asing tadi bertanya lagi kepada Nabi, "Jelaskan kepadaku apa itu Iman."
Nabi menjelaskan bahwa Iman adalah percaya keberadaan Allah, keberadaan para Malaikat, percaya kepada Kitab2 Suci-Nya, para Nabinya
Percaya akan kedatangan hari terakhir, juga percaya akan takdir baik ataupun takdir buruk."
Puas dengan jawaban Nabi soal Islam dan Iman, orang tadi meminta penjelasan kepada beliau tentang apa itu Ihsan.
Nabi menjelaskan bahwa Ihsan itu seseorang menyembah Allah seolah dia melihat-Nya, melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya
Tapi berhubung dia tidak bisa melihat-Nya, maka yakinkan diri bahwa Allah Melihatnya, sehingga tetap melakukan segala dg sebaik-baiknya
Orang asing tadi lalu melempar pertanyaan agak rumit, dia bertanya, kapan tepatnya datangnya hari akhir yang dimaksud pada Iman tadi
Nabi menjawab dengan cukup diplomatis, bahwa yang ditanya dan yang bertanya sama-sama tidak tahu kapan pastinya kiamat tiba
Pada akhir diskusi, orang asing tadi sempat bertanya-tanya kepada Nabi tentang tanda-tanda umum datangnya kiamat dan dijawab oleh beliau
Keesokan harinya, Nabi bertanya kepada para sahabatnya, "Kalian tahu tidak, siapa orang asing yg datang kepadaku kemarin?"
Tak satupun sahabat beliau yg tahu. Oleh Nabi diberitahukan bahwa yg datang itu Jibril, untuk mengajarkan AGAMA kalian...
Rentetan kultwit di atas cukup terkenal dengan istilah Hadits Jibril, terdapat dalam Ensiklopedi Hadits Shahih Muslim
Dari hadits di atas sangat bisa dipahami bahwa Agama yang dibawa Nabi dan diajarkan pada kita sangat mencakup semua sisi kehidupan
Artinya, agama ini terdiri dari 4 rangkaian sangat penting; Islam, Iman, Ihsan dan pemahaman akan tanda-tanda spesifik datangnya kiamat
Pada perkembangan ilmiah selanjutnya, pembahasan soal "Islam" secara khusus dibahas panjang lebar dan detail dalam ilmu Fiqih
Sedangkan "Iman" dibahas dengan luas sekali di kategori ilmu Tauhid dan Aqidah
Adapun tanda kiamat banyak dibahas di ilmu-ilmu yang berhubungan dengan sejarah dan fenomena alam serta kehidupan
Sedangkan Ihsan, salah satu pokok penting agama dibahas secara luas sekali di ilmu Akhlaq dan Tasawwuf
Selama ini, banyak sekali kita menemukan orang mengalami kesalahan dalam memahami tasawwuf, sering mereka mengiranya sebagai ilmu sesat
Tentu saja itu terjadi sebab salah informasi dan salah opini. Padahal Tasawwuf adalah bagian dari Ihsan.
Maknanya, Tasawwuf adalah ilmu yang berbicara tentang bagaimana cara membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah dengan baik
Tasawwuf juga adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana tatacara berinteraksi sosial yg baik antar sesama makhluk ciptaan Allah
Tasawwuf tak lebih daripada itu. Maka orang yang keburu menjudge tasawwuf itu sesat, adalah orang yg belum mengerti substansi tasawwuf
Bahayanya, saat seseorang mencegah orang lain untuk mempelajari tasawwuf, artinya dia mencegah orang mempelajari kesempurnaan agamanya!
Sebab secara tanpa sadar dia mencegah orang lain untuk belajar moral, mendekat diri pada Allah.. menghalanginya dari Ihsan.
Otomatis jika seseorang tidak bisa Ihsan, tidak tahu apa itu Ihsan yg dipelajari detail di Tasawwuf, dia belum mengerti agamanya sendiri
Karena jika hanya berislam dan beriman saja, tanpa berihsan, seseorang tidak akan pernah sampai pada kesempurnaan dalam beragama
Akhir kultwit, ambillah agama ini dari ahlinya, bukan asal ambil dari informasi salah yang tidak jelas sumber dan jluntrungnya...
Cara Menyikapi Perbedaan Pendapat
Ada banyak pelajaran penting soal bagaimana cara kita bersikap dari hasil diskusi, rejoinder, perdebatan, tanggapan,dan reaksi soal khamr
Terjadi pro kontra yang hebat, diskusi ilmiah tinggi, dan masing-masing mengeluarkan argumen sesuai arah pandang yg diikuti.
Sebenarnya semuanya bisa menjadi positif jika di antara kita ummat Islam, meski berbeda pemikiran, bisa saling menghormati perbedaan
Namun yang aku pantau dari diskusi (atau entah twitwar) lebih banyak membuat kita saling berbenturan sebab lagi2 karena over dlm reaksi
Kultwitku ini tidak akan lagi mengungkit soal #Khamr atau #Miras, namun aku ingin kita merenungkan cara kita dalam bersikap
Sudahkah kita bisa inshof (proporsional), bisa moderat, bisa memandang permasalahan sesuai amanah ilmu dan yg diinginkan syariat?
Sudahkah juga kita bisa melihat dengan baik ikhtilaful madzahib, ikhtilaful aro', ikhtilaf wijhah nadhor tanpa melihat sosok?
Sudahkah kita bisa mempraktekkan kaidah "Lihatlah apa yg dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan"? Kaidah S.Ali bin Abi Thalib?
Karena reaksi2 atas diskusi dari tweeps moderat, fundamental, dan liberal kemarin benar2 menunjukkan bagaimana kualitas ilmiah kita
Aku pribadi melihat memang ada penyembunyian sengaja dan upaya menutup mata atas kebenaran dari saudara muslim beraliran kiri.
Padahal aku yakin sekali mereka tahu kaidah dan hukum yg sebenarnya, namun sikap intihal (pemlintiran) begitu halus dilakukan
Dari saudara muslim yg condong ke kanan, terlihat juga masih suka menggeneralisir (ta'mim) terhadap masalah, hingga timbul problem baru
Semisal ada beberapa poin dari saudara muslim kiri yg benar,tapi berhubung melihat orangnya, benci dulu, akhirnya kebenaran itu tertolak
Begitu juga saudara muslim yg kiri dalam memandang yg kanan, berhubung apriori dulu, maka segalanya dianggap terlalu keras dan intoleran
Ada juga permasalahan yg pada dasarnya murni furu'iyyah, tapi oleh saudara muslim yg kanan dikamuflase seolah itu masalah ushuliyyah.
Akhirnya diskusi yg pada dasarnya bisa ditemukan,malah menjadi debat kusir dan saling membodohkan.Bukan sikap muslim yg baik dlm diskusi
Kita lupa dg sabda Nabi "Khudzil hikmah min ayyi syai-in khorojat"
Kita lupa dengan paradigma "Al-Muslim akhul muslim", malah terjadi sebaliknya, "al-muslim aduwwul muslim", aneh tapi nyata.
Kita mengaku agen dakwah tapi kita lupa fiqhud da'wah, "ud'u ila sabili robbika bil hikmah... wa jadilhum billati hiya ahsan".
Kita saling ingin mengubah keadaan menjadi lebih baik, tapi kita melupakan Ihsan. Yg akhirnya justru malah menimbulkan pertengkaran
Kita mengaku mengikuti salaf, tapi kita lupa (atau malah tidak tahu) bagaimana akhlak salaf dalam menanggapi perbedaan
Bahkan aku yakin banyak di antara kita yg belum tahu seperti apa manhaj salaf fi fahmin nushush baina annadhoriyyah wa at-tathbiq
Coba renungkan, andai Nabi masih ada dan melihat gaya diskusi kita, reaksi kita pada lawan bicara, apa beliau akan suka?
Kita masih perlu banyak belajar, bagaimana cara menyikapi perbedaan madzhab, dan perbedaan ideologi.
Lebih dari itu kita masih harus belajar bagaimana moral berbicara menghadapi orang yg tidak kita suka
Terpenting lagi adalah bagaimana menata hati kita saat berada dalam momentum genting seperti itu.
Sebab jika kita gagal menata hati dalam keadaan seperti itu, semisal merasa baik, merasa paling benar, itu artinya awal kehancuran kita
Sebab kita tidak sadar jika setan ternyata sukses menunggangi kita namun lewat jalan lain, lewat modus semangat dakwah salah niat
Semoga mencerahkan. Kita harus belajar lebih banyak lagi, sebab antara aksi dan reaksi ada satu jarak penting yg mesti kita perhatikan
dan jarak pendek antara aksi dan reaksi inilah yg menunjukkan kita ini muslim dengan kualitas apa.
Mari bersama belajar dan terus belajar menjadi muslim yang baik, bukan menjadi muslim yang MERASA baik. Bismillah
itu pasti, yg kanan jg @djasmia: tapi ust. Muslim kiri itu harus diluruskan bukan? Kasian sm yg awam seperti kami2 yg masih cetek ilmunya
Kita harus ingat sikap Imam As-Syafi'i dalam berdebat yg malah mengharap kebenaran dari pihak lawan
Kita juga harus ingat sikap beliau bahwa dalam diskusi dan debat adalah mencari kebenaran, meski kebenaran ada di pihak lawan
Karena jika diskusi didasari lebih dulu oleh gengsi dan merasa benar sendiri, artinya orang itu telah gagal dlm mencari kebenaran
Andai dia benar pun, maka kebenarannya itu alal hawa, bukan alal haq, tidak lillah, namun malah memuaskan setan dan nafsu
Aku forward kultwit ini juga kepada sahabatku fillah wa lillah, Ustadz @salimafillah ... memang ukhuwwah itu sejatinya indah
Terjadi pro kontra yang hebat, diskusi ilmiah tinggi, dan masing-masing mengeluarkan argumen sesuai arah pandang yg diikuti.
Sebenarnya semuanya bisa menjadi positif jika di antara kita ummat Islam, meski berbeda pemikiran, bisa saling menghormati perbedaan
Namun yang aku pantau dari diskusi (atau entah twitwar) lebih banyak membuat kita saling berbenturan sebab lagi2 karena over dlm reaksi
Kultwitku ini tidak akan lagi mengungkit soal #Khamr atau #Miras, namun aku ingin kita merenungkan cara kita dalam bersikap
Sudahkah kita bisa inshof (proporsional), bisa moderat, bisa memandang permasalahan sesuai amanah ilmu dan yg diinginkan syariat?
Sudahkah juga kita bisa melihat dengan baik ikhtilaful madzahib, ikhtilaful aro', ikhtilaf wijhah nadhor tanpa melihat sosok?
Sudahkah kita bisa mempraktekkan kaidah "Lihatlah apa yg dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan"? Kaidah S.Ali bin Abi Thalib?
Karena reaksi2 atas diskusi dari tweeps moderat, fundamental, dan liberal kemarin benar2 menunjukkan bagaimana kualitas ilmiah kita
Aku pribadi melihat memang ada penyembunyian sengaja dan upaya menutup mata atas kebenaran dari saudara muslim beraliran kiri.
Padahal aku yakin sekali mereka tahu kaidah dan hukum yg sebenarnya, namun sikap intihal (pemlintiran) begitu halus dilakukan
Dari saudara muslim yg condong ke kanan, terlihat juga masih suka menggeneralisir (ta'mim) terhadap masalah, hingga timbul problem baru
Semisal ada beberapa poin dari saudara muslim kiri yg benar,tapi berhubung melihat orangnya, benci dulu, akhirnya kebenaran itu tertolak
Begitu juga saudara muslim yg kiri dalam memandang yg kanan, berhubung apriori dulu, maka segalanya dianggap terlalu keras dan intoleran
Ada juga permasalahan yg pada dasarnya murni furu'iyyah, tapi oleh saudara muslim yg kanan dikamuflase seolah itu masalah ushuliyyah.
Akhirnya diskusi yg pada dasarnya bisa ditemukan,malah menjadi debat kusir dan saling membodohkan.Bukan sikap muslim yg baik dlm diskusi
Kita lupa dg sabda Nabi "Khudzil hikmah min ayyi syai-in khorojat"
Kita lupa dengan paradigma "Al-Muslim akhul muslim", malah terjadi sebaliknya, "al-muslim aduwwul muslim", aneh tapi nyata.
Kita mengaku agen dakwah tapi kita lupa fiqhud da'wah, "ud'u ila sabili robbika bil hikmah... wa jadilhum billati hiya ahsan".
Kita saling ingin mengubah keadaan menjadi lebih baik, tapi kita melupakan Ihsan. Yg akhirnya justru malah menimbulkan pertengkaran
Kita mengaku mengikuti salaf, tapi kita lupa (atau malah tidak tahu) bagaimana akhlak salaf dalam menanggapi perbedaan
Bahkan aku yakin banyak di antara kita yg belum tahu seperti apa manhaj salaf fi fahmin nushush baina annadhoriyyah wa at-tathbiq
Coba renungkan, andai Nabi masih ada dan melihat gaya diskusi kita, reaksi kita pada lawan bicara, apa beliau akan suka?
Kita masih perlu banyak belajar, bagaimana cara menyikapi perbedaan madzhab, dan perbedaan ideologi.
Lebih dari itu kita masih harus belajar bagaimana moral berbicara menghadapi orang yg tidak kita suka
Terpenting lagi adalah bagaimana menata hati kita saat berada dalam momentum genting seperti itu.
Sebab jika kita gagal menata hati dalam keadaan seperti itu, semisal merasa baik, merasa paling benar, itu artinya awal kehancuran kita
Sebab kita tidak sadar jika setan ternyata sukses menunggangi kita namun lewat jalan lain, lewat modus semangat dakwah salah niat
Semoga mencerahkan. Kita harus belajar lebih banyak lagi, sebab antara aksi dan reaksi ada satu jarak penting yg mesti kita perhatikan
dan jarak pendek antara aksi dan reaksi inilah yg menunjukkan kita ini muslim dengan kualitas apa.
Mari bersama belajar dan terus belajar menjadi muslim yang baik, bukan menjadi muslim yang MERASA baik. Bismillah
itu pasti, yg kanan jg @djasmia: tapi ust. Muslim kiri itu harus diluruskan bukan? Kasian sm yg awam seperti kami2 yg masih cetek ilmunya
Kita harus ingat sikap Imam As-Syafi'i dalam berdebat yg malah mengharap kebenaran dari pihak lawan
Kita juga harus ingat sikap beliau bahwa dalam diskusi dan debat adalah mencari kebenaran, meski kebenaran ada di pihak lawan
Karena jika diskusi didasari lebih dulu oleh gengsi dan merasa benar sendiri, artinya orang itu telah gagal dlm mencari kebenaran
Andai dia benar pun, maka kebenarannya itu alal hawa, bukan alal haq, tidak lillah, namun malah memuaskan setan dan nafsu
Aku forward kultwit ini juga kepada sahabatku fillah wa lillah, Ustadz @salimafillah ... memang ukhuwwah itu sejatinya indah
Jangan Pisahkan Dakwah Dengan Hikmah
Jangan pernah pisahkan dakwah dengan hikmah (kebijaksanaan), pasti kacau dan pasti gagal dakwah itu... ingat ini baik2 bagi para agen dakwah
pemisahan antara tarbiyah (pendidikan ruh/kepribadian) & ta'lim (transfer of knowledge) hanya menghasilkan generasi yg cerdas tp kurang ajar
pintu fitnah di Tanah Air kita tercinta sebenarnya bukan hanya telah terbuka lebar, namun malah telah lepas dari engselnya & pintunya patah
banyak orang semangat berdakwah (fenomena yg bagus) tapi sayang melupakan hikmah.. akhirnya jadi tidak bagus dan malah memuakkan
itu saja masih marah2 jika diingatkan soal dakwahnya yg tanpa hikmah... ketahuan tidak paham ayat dakwah, ud'u ila sabili Robbika bil hikmah
slogan "Nahnu du'at qobla kulli syai", harus disertai penanaman kesadaran hikmah di dalamnya.. tidak asal du'at2 saja
meski sekedar dakwah ngajak orang sholat saat adzan berkumandang juga tetap wajib dg hikmah.. tanpa hikmah dijamin dakwah bakal mentah
jadikan dakwah kita mampu merangkul siapapun... bukan dakwah namanya kalau caranya sambil ndengkul2... bakal kabur yg didakwahi
memisahkan dakwah dan hikmah artinya turut serta mempercepat laju roda kiamat... ingat ini baik2
banyak yg tak sadar bahwa sikap memisahkan dakwah dan hikmah adalah bagian "naqdhu qororil ilm wal i'tiqod" yg merupakan tanda kiamat
sebab pemisahan dakwah dan hikmah (sengaja atau tidak sengaja) artinya terang2an melakukan penentangan terhadap ayat dakwah itu sendiri
oke.. bagus lah semangat berdakwah, tapi isi dulu diri kita dengan ilmu, dengan adab (tata krama),dg dzauq (kepekaan) untuk modal dakwah itu
ajaklah siapapun kepada kebaikan, sebisamu, seukuran ilmumu, tapi pakailah cara mengajak yg bijak, yg baik dan menghargai, jangan lupa ini
dan saat mengajak kepada kebaikan jangan sekalipun terlintas perasaan bahwa diri kita baik dan yg kita ajak/ingatkan itu buruk.. salah fatal
maka inti utama sebelum dakwah, sesederhana apapun, meski mengajak sholat saat adzan tiba, adalah Tata Hati Tata Niat.. aktifkan ini..
semoga mencerahkan... selamat jadi agen dakwah yg baik dan dicintai siapapun... barakallah fikum :)
pemisahan antara tarbiyah (pendidikan ruh/kepribadian) & ta'lim (transfer of knowledge) hanya menghasilkan generasi yg cerdas tp kurang ajar
pintu fitnah di Tanah Air kita tercinta sebenarnya bukan hanya telah terbuka lebar, namun malah telah lepas dari engselnya & pintunya patah
banyak orang semangat berdakwah (fenomena yg bagus) tapi sayang melupakan hikmah.. akhirnya jadi tidak bagus dan malah memuakkan
itu saja masih marah2 jika diingatkan soal dakwahnya yg tanpa hikmah... ketahuan tidak paham ayat dakwah, ud'u ila sabili Robbika bil hikmah
slogan "Nahnu du'at qobla kulli syai", harus disertai penanaman kesadaran hikmah di dalamnya.. tidak asal du'at2 saja
meski sekedar dakwah ngajak orang sholat saat adzan berkumandang juga tetap wajib dg hikmah.. tanpa hikmah dijamin dakwah bakal mentah
jadikan dakwah kita mampu merangkul siapapun... bukan dakwah namanya kalau caranya sambil ndengkul2... bakal kabur yg didakwahi
memisahkan dakwah dan hikmah artinya turut serta mempercepat laju roda kiamat... ingat ini baik2
banyak yg tak sadar bahwa sikap memisahkan dakwah dan hikmah adalah bagian "naqdhu qororil ilm wal i'tiqod" yg merupakan tanda kiamat
sebab pemisahan dakwah dan hikmah (sengaja atau tidak sengaja) artinya terang2an melakukan penentangan terhadap ayat dakwah itu sendiri
oke.. bagus lah semangat berdakwah, tapi isi dulu diri kita dengan ilmu, dengan adab (tata krama),dg dzauq (kepekaan) untuk modal dakwah itu
ajaklah siapapun kepada kebaikan, sebisamu, seukuran ilmumu, tapi pakailah cara mengajak yg bijak, yg baik dan menghargai, jangan lupa ini
dan saat mengajak kepada kebaikan jangan sekalipun terlintas perasaan bahwa diri kita baik dan yg kita ajak/ingatkan itu buruk.. salah fatal
maka inti utama sebelum dakwah, sesederhana apapun, meski mengajak sholat saat adzan tiba, adalah Tata Hati Tata Niat.. aktifkan ini..
semoga mencerahkan... selamat jadi agen dakwah yg baik dan dicintai siapapun... barakallah fikum :)
Jangan Mudah Memvonis Syirik
Berita di Indosiar, ada "tokoh spiritual" di Jombang, menuliskan rajah lafaz Arab di pensil2 para siswa UN agar sukses ujian. Ini syirik!
cepat betul bilang syirik, sudah dipikir? @ismawan: ada "tokoh spritual" mnuliskn rajah Arab di pnsil2 siswa UN agar skses ujian.Ini syirik!
jangan mudah dan jangan sembarang mensyirikkan orang tanpa tahu substansi masalah, bisa syirik sendiri tanpa sadar @ismawan
@GaulPeduliSyam @awyyyyy jadi menurut anda amalan menuliskan rajah di pensil dan air mineral dgn keyakinan rajah itu melancarkan jawab soal, itu boleh?
pahami dulu bagaimana proses yg menuliskan rajah itu dan apa arahan dia pada para peserta UN @ismawan
rajah sendiri tidak mutlak syirik, jika tidak mengandung sesuatu yg bertentangan dg syariat semisal pendiskreditan ayat suci @ismawan
penggunaan ayat2 suci sebagai perlindungan yg dituliskan atau sebagai media seperti itu sudah ada prakteknya sejak zaman salaf @ismawan
yg melancarkan jawaban adalah tetap pada anak itu belajar apa tidak, doa pada pensil (atau bacaan2) adl pengkuat batin dan mental @ismawan
jadi dudukkan dulu masalahnya, cari kebenaran berita dan lengkapnya bagaimana, bukan asal syirak syirik, mau ngapling surga? @ismawan
membaca doa di air mineral juga diajarkan Nabi, dan itu tak sebatas pada orang sakit saja..ada keluasan eksplorasi slama bkn ibadah @ismawan
@GaulPeduliSyam @awyyyyy indosiar sebutkan tokoh itu menulis rajah di pensil 2B yg dipakai para siswa agar lancar jwb soal. Menurut anda ini tidak syirik?
kalau pengen tahu rajah ayat di zaman salaf, coba lihat koleksi pedang para sahabat Nabi di museum Topkapi, Turki.. penuh rajah @ismawan
cek langsung ke tokohnya apa motif dia, bukan Indosiar.. tabayyun dulu dong yg bener .. al-khobar yahtamil kadzib was sidiq @ismawan
agar lancar jawab soal sebab yakin dg bantuan kekuatan doa (sama dg doa yg kamu sarankan di twitmu), hanya dia pakai media pensil @ismawan
so jangan langsung main syirik2an gitu.. kamu merasa bener sendiri gitu dg bilang dia syirik? udah tanya kyai tadi belum? @ismawan
kebetulan saja @pritada: @ismawan tapi pak, disini konteks beritanya, anak2 itu pas bisa jawab, jd percaya itu krn dukun yg nulis tadi
kasusnya bisa sama jadi syirik umpama kamu minum panadol dan yakin yg menyembuhkan pusingmu itu panadol @pritada @ismawan
@GaulPeduliSyam @awyyyyy jadi menurut anda, bawa pensil dgn rajah dgn keyakinan bahwa rajah itu membantu jawab ujian itu boleh? Itu hanya media? BAHAYA PAK!
jadi diarahkan.. bukan disyirikkan jika memang kalian anggap itu salah .. caranya siapa itu main syirik2an @pritada @ismawan
@pritada @awyyyyy @ismawan betul. Makanya itulah gunanya setiap mg ke pengajian. Dan yg kyk gitu ga usah masuk media
coba kalau disyirikkan gt sudah berapa orang yg kalian keluarkan dari dairoh (lingkaran) Islam..berat konsekwensinya @pritada @ismawan
sekarang ni apa media masih bisa dipercaya gitu aja? jangan mudah percaya media, cross check dulu laaa @pritada @ismawan
@GaulPeduliSyam @pritada @awyyyyy sekrng pensil dan air mineral jadi "media" alias toghut disembah agar lancarkan ujian.Besok batu dan pohon. Na'uudzubiLLAH
bukan, sama kayak minum obat, jelas? @ismawan: rajah di pensil dg nawaitunya pakai pensil berrajah itu lancar ujiannya,syirik atau bukan?
yg bahaya itu kamu, sudah mensyirikkan orang tanpa klarifikasi berita dulu.. yg cerdas jadi muslim, jangan main hakim sendiri @ismawan
itu namanya su'udzon dengan muslim yg lain, benahi hatimu, busuk itu, bisa menghancurkan amalmu, naudzu billah @ismawan @pritada
@pritada @awyyyyy @ismawan mencegah agar org lain tidak syirik itu namanya mengingatkan pak bukan su'udzan. Hati2 ah su'udzan juga
mengingatkan itu yg santun dengan cara mengarahkan bukan dengan bahasa memvonis, perlu belajar lagi tata bahasa yg bagus @pritada @ismawan
sebaiknya tidak usah main putar2 kata mbak, tidak sehat itu namanya @pritada @ismawan
@pritada @awyyyyy @ismawan saya cm bicara di inti masalah pak. Ok kita tutup saja. Pendapat kita boleh beda kan? Salam
alaikumsalam... moga bisa menjadi muslim yg semakin baik, bukan yg merasa baik @pritada @ismawan
cepat betul bilang syirik, sudah dipikir? @ismawan: ada "tokoh spritual" mnuliskn rajah Arab di pnsil2 siswa UN agar skses ujian.Ini syirik!
jangan mudah dan jangan sembarang mensyirikkan orang tanpa tahu substansi masalah, bisa syirik sendiri tanpa sadar @ismawan
@GaulPeduliSyam @awyyyyy jadi menurut anda amalan menuliskan rajah di pensil dan air mineral dgn keyakinan rajah itu melancarkan jawab soal, itu boleh?
pahami dulu bagaimana proses yg menuliskan rajah itu dan apa arahan dia pada para peserta UN @ismawan
rajah sendiri tidak mutlak syirik, jika tidak mengandung sesuatu yg bertentangan dg syariat semisal pendiskreditan ayat suci @ismawan
penggunaan ayat2 suci sebagai perlindungan yg dituliskan atau sebagai media seperti itu sudah ada prakteknya sejak zaman salaf @ismawan
yg melancarkan jawaban adalah tetap pada anak itu belajar apa tidak, doa pada pensil (atau bacaan2) adl pengkuat batin dan mental @ismawan
jadi dudukkan dulu masalahnya, cari kebenaran berita dan lengkapnya bagaimana, bukan asal syirak syirik, mau ngapling surga? @ismawan
membaca doa di air mineral juga diajarkan Nabi, dan itu tak sebatas pada orang sakit saja..ada keluasan eksplorasi slama bkn ibadah @ismawan
@GaulPeduliSyam @awyyyyy indosiar sebutkan tokoh itu menulis rajah di pensil 2B yg dipakai para siswa agar lancar jwb soal. Menurut anda ini tidak syirik?
kalau pengen tahu rajah ayat di zaman salaf, coba lihat koleksi pedang para sahabat Nabi di museum Topkapi, Turki.. penuh rajah @ismawan
cek langsung ke tokohnya apa motif dia, bukan Indosiar.. tabayyun dulu dong yg bener .. al-khobar yahtamil kadzib was sidiq @ismawan
agar lancar jawab soal sebab yakin dg bantuan kekuatan doa (sama dg doa yg kamu sarankan di twitmu), hanya dia pakai media pensil @ismawan
so jangan langsung main syirik2an gitu.. kamu merasa bener sendiri gitu dg bilang dia syirik? udah tanya kyai tadi belum? @ismawan
kebetulan saja @pritada: @ismawan tapi pak, disini konteks beritanya, anak2 itu pas bisa jawab, jd percaya itu krn dukun yg nulis tadi
kasusnya bisa sama jadi syirik umpama kamu minum panadol dan yakin yg menyembuhkan pusingmu itu panadol @pritada @ismawan
@GaulPeduliSyam @awyyyyy jadi menurut anda, bawa pensil dgn rajah dgn keyakinan bahwa rajah itu membantu jawab ujian itu boleh? Itu hanya media? BAHAYA PAK!
jadi diarahkan.. bukan disyirikkan jika memang kalian anggap itu salah .. caranya siapa itu main syirik2an @pritada @ismawan
@pritada @awyyyyy @ismawan betul. Makanya itulah gunanya setiap mg ke pengajian. Dan yg kyk gitu ga usah masuk media
coba kalau disyirikkan gt sudah berapa orang yg kalian keluarkan dari dairoh (lingkaran) Islam..berat konsekwensinya @pritada @ismawan
sekarang ni apa media masih bisa dipercaya gitu aja? jangan mudah percaya media, cross check dulu laaa @pritada @ismawan
@GaulPeduliSyam @pritada @awyyyyy sekrng pensil dan air mineral jadi "media" alias toghut disembah agar lancarkan ujian.Besok batu dan pohon. Na'uudzubiLLAH
bukan, sama kayak minum obat, jelas? @ismawan: rajah di pensil dg nawaitunya pakai pensil berrajah itu lancar ujiannya,syirik atau bukan?
yg bahaya itu kamu, sudah mensyirikkan orang tanpa klarifikasi berita dulu.. yg cerdas jadi muslim, jangan main hakim sendiri @ismawan
itu namanya su'udzon dengan muslim yg lain, benahi hatimu, busuk itu, bisa menghancurkan amalmu, naudzu billah @ismawan @pritada
@pritada @awyyyyy @ismawan mencegah agar org lain tidak syirik itu namanya mengingatkan pak bukan su'udzan. Hati2 ah su'udzan juga
mengingatkan itu yg santun dengan cara mengarahkan bukan dengan bahasa memvonis, perlu belajar lagi tata bahasa yg bagus @pritada @ismawan
sebaiknya tidak usah main putar2 kata mbak, tidak sehat itu namanya @pritada @ismawan
@pritada @awyyyyy @ismawan saya cm bicara di inti masalah pak. Ok kita tutup saja. Pendapat kita boleh beda kan? Salam
alaikumsalam... moga bisa menjadi muslim yg semakin baik, bukan yg merasa baik @pritada @ismawan
Kyai Harus Berwawasan Luas
Jadi Kyai itu paling tdk kudu ngerti secara umum informasi soal politik,artis, sepakbola dan hal duniawi lainnya, biar tidak mudah dibohongi
jadi kalau ada orang yg dipandang ngerti agama kok bicarain bola, entertainment dan hal2 fadhi lainnya, jangan langsung apriori
bagi mereka hal2 seperti itu hanya tasliyah (bahasa mudahnya, refreshing) dan sama sekali tidak nyantol di hati, itu konsep dari Zuhud
Dalam bahasa kami, "dadi kyai kui yo kudu iso nukang"... jadi tetap kerja sendiri secara mandiri.. mencontoh Nabi
sama halnya Nabi yg sangat memahami kebudayaan saat itu, maka mereka yg meneruskan jejaknya juga harus paham budaya masanya masing2
jangan dipaksa ustadz/kyai suruh bicara agama terus... hidupnya ini juga di dunia... bukan di planet lain...
Jadi jangan cepat2 menjudge negatif, ustadz kok bicarain artis. Beda halnya kalau ustadznya nyebur jadi artis, nah ini lain lagi ceritanya
itupun kita masih disuruh berhusnuddzon... mungkin gini mungkin gitu
maka dari poin ini, ada hal penting yg harus kita pahami dan kita bangun dg baik dalam diri kita.. berhusnuddzon dg sesama muslim
jangan cepet-cepet bilang, "waaa pencitraan,", "waaa bela diri,", "waaaa, konspirasi,"... yah.. suudzon (negatif thinking) lagi coy
harus kita akui, saking banyaknya fitnah yg menyerbu kita, sampai-sampai sinyal husnuddzon dalam diri kita sangat lemah
banyak di antara kita merasa paling benar, merasa paling baik... tak sadar jika semua pahala hangus sebab "merasa".. Ujub! astaghfirullah
kita lupa sama sekali akan konsep yg diajarkan Imam Abu Hamid al-Ghozali dalam proses menjaga hati, anggap orang lain lebih baik dari kita
Kita terlalu konsentrasi pada klaim pemurnian aqidah, klaim penegakan syariah, tapi kita lupa membenahi hati kita
apa fungsi pemurnian aqidah, apa fungsi penegakan syariah jika hati kita busuk? apa tdk ingat hadits Nabi soal hati baik tubuh jg ikut baik?
Aqidah tak akan murni, Syariah tak akan tegak selama hati kita busuk... renungkan itu baik-baik... tanamkan dalam2 di benak kita masing2
maka inti pemurnian aqidah, inti penegakan syariah adalah dari pembenahan hati... ibda' bi nafsik... mulai dari dirimu
selamat pagi tweeps.. moga Allah memberi kita anugerah agar kita mau merenungi kebusukan hati kita :)
selama kita masih suka buruk sangka, selama kita merasa paling benar... maka selamanya kita tak akan sampai pada cita-cita besar kita :)
latih diri kita untuk berhusnuddzon pada sesama saudara muslim, latih diri kita untuk legawa menyikapi perbedaan dg baik dan lembut
karena kita tidak pernah tahu akhir kita.. apakah husnul khotimah, atau malah su'ul khotimah, naudzu billah
kita hanya bisa untuk terus berharap semoga husnul khotimah. Karena orang yg yakin dirinya bakal husnul khotimah,justru malah su'ul khotimah
Allahumma inna nas-aluka arrusyda was sadad, wal khoiro wal madad... bi jahi Nabiyyika al-Mujtaba... Amiiiiin
jadi kalau ada orang yg dipandang ngerti agama kok bicarain bola, entertainment dan hal2 fadhi lainnya, jangan langsung apriori
bagi mereka hal2 seperti itu hanya tasliyah (bahasa mudahnya, refreshing) dan sama sekali tidak nyantol di hati, itu konsep dari Zuhud
Dalam bahasa kami, "dadi kyai kui yo kudu iso nukang"... jadi tetap kerja sendiri secara mandiri.. mencontoh Nabi
sama halnya Nabi yg sangat memahami kebudayaan saat itu, maka mereka yg meneruskan jejaknya juga harus paham budaya masanya masing2
jangan dipaksa ustadz/kyai suruh bicara agama terus... hidupnya ini juga di dunia... bukan di planet lain...
Jadi jangan cepat2 menjudge negatif, ustadz kok bicarain artis. Beda halnya kalau ustadznya nyebur jadi artis, nah ini lain lagi ceritanya
itupun kita masih disuruh berhusnuddzon... mungkin gini mungkin gitu
maka dari poin ini, ada hal penting yg harus kita pahami dan kita bangun dg baik dalam diri kita.. berhusnuddzon dg sesama muslim
jangan cepet-cepet bilang, "waaa pencitraan,", "waaa bela diri,", "waaaa, konspirasi,"... yah.. suudzon (negatif thinking) lagi coy
harus kita akui, saking banyaknya fitnah yg menyerbu kita, sampai-sampai sinyal husnuddzon dalam diri kita sangat lemah
banyak di antara kita merasa paling benar, merasa paling baik... tak sadar jika semua pahala hangus sebab "merasa".. Ujub! astaghfirullah
kita lupa sama sekali akan konsep yg diajarkan Imam Abu Hamid al-Ghozali dalam proses menjaga hati, anggap orang lain lebih baik dari kita
Kita terlalu konsentrasi pada klaim pemurnian aqidah, klaim penegakan syariah, tapi kita lupa membenahi hati kita
apa fungsi pemurnian aqidah, apa fungsi penegakan syariah jika hati kita busuk? apa tdk ingat hadits Nabi soal hati baik tubuh jg ikut baik?
Aqidah tak akan murni, Syariah tak akan tegak selama hati kita busuk... renungkan itu baik-baik... tanamkan dalam2 di benak kita masing2
maka inti pemurnian aqidah, inti penegakan syariah adalah dari pembenahan hati... ibda' bi nafsik... mulai dari dirimu
selamat pagi tweeps.. moga Allah memberi kita anugerah agar kita mau merenungi kebusukan hati kita :)
selama kita masih suka buruk sangka, selama kita merasa paling benar... maka selamanya kita tak akan sampai pada cita-cita besar kita :)
latih diri kita untuk berhusnuddzon pada sesama saudara muslim, latih diri kita untuk legawa menyikapi perbedaan dg baik dan lembut
karena kita tidak pernah tahu akhir kita.. apakah husnul khotimah, atau malah su'ul khotimah, naudzu billah
kita hanya bisa untuk terus berharap semoga husnul khotimah. Karena orang yg yakin dirinya bakal husnul khotimah,justru malah su'ul khotimah
Allahumma inna nas-aluka arrusyda was sadad, wal khoiro wal madad... bi jahi Nabiyyika al-Mujtaba... Amiiiiin
Strategi Dalam Dakwah
Dasar dakwah itu memang menyampaikan pesan-pesan syariat sekaligus merangkul target dakwah kita
Akan tetapi dakwah tidak asal menyampaikan. Perlu strategi, khususnya fleksibelitas, karena target dakwah itu berbeda-beda komunitas
Ada yang bisa dinasehati secara terbuka, ada yg bisa dikritik langsung, ada yang pakai pendekatan, ada yang pakai giringan agak lama, dll
Dan semua itu harus tetap dg bahasa yang halus, atau jika mengkritik dan menyindir menggunakan kalimat umum
Suatu kesalahan dan kegagalan bagi agen dakwah jika dia menggunakan kata kasar, sehingga targetnya lari, apalagi menyalahkan
Jika seseorang merasa menjadi agen dakwah namun targetnya lari sebab cara dia yg tidak simpatik, maka dia mesti introspeksi, belum layak
Strategi dakwah perlu dipelajari sendiri secara khusus, sebab sangat berhubungan sekali dg ilmu psikologi
Tentu saja agen dakwah yg baik adalah yg bisa diterima semua kalangan namun tetap bisa menjaga muru'ah-nya
Sangat berbeda lho antara jaga muru'ah dg jaga image... kalau ada agen dakwah jaim, dia masih perlu dimentor dg ajaran Ihsan
Istilah mudahnya, agen dakwah itu membaur tapi tidak tercampur, mewarnai dan tidak terwarnai
Sebab agama ini tidak sekedar "ballighu", tapi juga harus bisa "ud'u ila sabili Robbika" bil hikmah
Baguslah siapapun didoktrin untuk mempunyai jiwa militan dalam agama, semangat menyampaikan..tapi doktrin jg cara menyampaikan yg santun
Alhasil agen dakwah yg baik adalah yg mampu menempatkan diri di tengah2... agen dakwah yg terlalu ke kanan, kerap ditinggal orang
Agen dakwah harus mampu mengakomodir semua kalangan, maka tentu yg baik adalah yg netral dan tidak menabrak arus kecenderungan umum
Agen dakwah berpartai? bolehlah, tapi bisa dipastikan dakwahnya tidak akan bisa diterima loyalis dan simpatisan partai lain.. terbatas..
Akan tetapi dakwah tidak asal menyampaikan. Perlu strategi, khususnya fleksibelitas, karena target dakwah itu berbeda-beda komunitas
Ada yang bisa dinasehati secara terbuka, ada yg bisa dikritik langsung, ada yang pakai pendekatan, ada yang pakai giringan agak lama, dll
Dan semua itu harus tetap dg bahasa yang halus, atau jika mengkritik dan menyindir menggunakan kalimat umum
Suatu kesalahan dan kegagalan bagi agen dakwah jika dia menggunakan kata kasar, sehingga targetnya lari, apalagi menyalahkan
Jika seseorang merasa menjadi agen dakwah namun targetnya lari sebab cara dia yg tidak simpatik, maka dia mesti introspeksi, belum layak
Strategi dakwah perlu dipelajari sendiri secara khusus, sebab sangat berhubungan sekali dg ilmu psikologi
Tentu saja agen dakwah yg baik adalah yg bisa diterima semua kalangan namun tetap bisa menjaga muru'ah-nya
Sangat berbeda lho antara jaga muru'ah dg jaga image... kalau ada agen dakwah jaim, dia masih perlu dimentor dg ajaran Ihsan
Istilah mudahnya, agen dakwah itu membaur tapi tidak tercampur, mewarnai dan tidak terwarnai
Sebab agama ini tidak sekedar "ballighu", tapi juga harus bisa "ud'u ila sabili Robbika" bil hikmah
Baguslah siapapun didoktrin untuk mempunyai jiwa militan dalam agama, semangat menyampaikan..tapi doktrin jg cara menyampaikan yg santun
Alhasil agen dakwah yg baik adalah yg mampu menempatkan diri di tengah2... agen dakwah yg terlalu ke kanan, kerap ditinggal orang
Agen dakwah harus mampu mengakomodir semua kalangan, maka tentu yg baik adalah yg netral dan tidak menabrak arus kecenderungan umum
Agen dakwah berpartai? bolehlah, tapi bisa dipastikan dakwahnya tidak akan bisa diterima loyalis dan simpatisan partai lain.. terbatas..
10 Sep 2014
Politik Bermoral Dengan Menjalankan Keadilan
Jika politik dijalankan dengan moral mungkin wajah bangsa ini berbeda dengan yang sekarang...
tapi dalam catatan sejarah, sangat sedikit penguasa yang menjalankan politik bermoral kecuali bisa dihitung dg jari
sejarah politik dinasti2 yg menisbatkan diri pada Islam dan mengatasnamakan khilafah pun sangat penuh warna darah
mungkin khilafah utsmaniyyah saja yg agak bersih dari darah, namun tak lepas dari wanita di beberapa penguasanya... kelemahan yg lain
saat pergantian dinasti ummayyah ke abbasiyyah, yg terekam sejarah, seluruh raja umawi dibongkar kuburannya dan dipancang mayatnya, dendam
keadilan hanya ada pada beberapa khalifah(khususnya khalifah empat dan umar bin abdul aziz),itupun musuh2 politik mereka bajingan luar biasa
dinasti Mameluk, atau daulah ayyubiyah, pergantian penguasanya seolah ada ritual tetap, kudeta berdarah oleh penguasa berikutnya
Hanya Beybars dan Barsbay saja yang sukses memimpin dinasti mameluk sampai wafat normal, selebihnya terbunuh oleh penggantinya
membaca buku tipis Tarikhul Khulafa' cukup menggambarkan bagaimana membawa nama agama untuk kepentingan keji politik
apalagi kalau mau masuk ke kitab2 raksasa semisal Bidayah wan Nihayah, Al-Kamil fit Tarikh... lebih gila lagi
dan politik Indonesia saat ini, jika dibandingkan dg yg ada di kitab2 sejarah itu, masih "cukup" aman dan lugu, tapi korup luar biasa
kalau tidak mau melompat jauh ke budaya bangsa lain, silakan pelajari sejarah kerajaan2 di negara kita masa penjajahan, politik2nya
jika ada yg tanya, bagaimana menjalankan politik dg agama/moral? cukup sederhana, terapkan keadilan (prakteknya yg sulit)
sebab jika seorang pejabat itu menerapkan keadilan, maka semua syariat pun otomatis jalan...
tetapi jika ada yang menuntut penerapan syariat sementara keadilan tidak jalan, maka tuntutan itu selamanya hanya akan berupa teriakan
makanya di hadits dijelaskan bahwa di antara 7 kelompok yg nanti berhak mendapat layanan VIP naungan Arsy, adalah pemimpin yang adil
tapi dalam catatan sejarah, sangat sedikit penguasa yang menjalankan politik bermoral kecuali bisa dihitung dg jari
sejarah politik dinasti2 yg menisbatkan diri pada Islam dan mengatasnamakan khilafah pun sangat penuh warna darah
mungkin khilafah utsmaniyyah saja yg agak bersih dari darah, namun tak lepas dari wanita di beberapa penguasanya... kelemahan yg lain
saat pergantian dinasti ummayyah ke abbasiyyah, yg terekam sejarah, seluruh raja umawi dibongkar kuburannya dan dipancang mayatnya, dendam
keadilan hanya ada pada beberapa khalifah(khususnya khalifah empat dan umar bin abdul aziz),itupun musuh2 politik mereka bajingan luar biasa
dinasti Mameluk, atau daulah ayyubiyah, pergantian penguasanya seolah ada ritual tetap, kudeta berdarah oleh penguasa berikutnya
Hanya Beybars dan Barsbay saja yang sukses memimpin dinasti mameluk sampai wafat normal, selebihnya terbunuh oleh penggantinya
membaca buku tipis Tarikhul Khulafa' cukup menggambarkan bagaimana membawa nama agama untuk kepentingan keji politik
apalagi kalau mau masuk ke kitab2 raksasa semisal Bidayah wan Nihayah, Al-Kamil fit Tarikh... lebih gila lagi
dan politik Indonesia saat ini, jika dibandingkan dg yg ada di kitab2 sejarah itu, masih "cukup" aman dan lugu, tapi korup luar biasa
kalau tidak mau melompat jauh ke budaya bangsa lain, silakan pelajari sejarah kerajaan2 di negara kita masa penjajahan, politik2nya
jika ada yg tanya, bagaimana menjalankan politik dg agama/moral? cukup sederhana, terapkan keadilan (prakteknya yg sulit)
sebab jika seorang pejabat itu menerapkan keadilan, maka semua syariat pun otomatis jalan...
tetapi jika ada yang menuntut penerapan syariat sementara keadilan tidak jalan, maka tuntutan itu selamanya hanya akan berupa teriakan
makanya di hadits dijelaskan bahwa di antara 7 kelompok yg nanti berhak mendapat layanan VIP naungan Arsy, adalah pemimpin yang adil
Bebaskan Pikiranmu dari Suatu Belenggu
Di antara pendidikan cara berpikir yg kami terima adalah kaidah "Harrir aqlak min quyudil mustholahat".
Bebaskan pikiranmu dari belenggu istilah, dari belenggu kata-kata
Karena sebenarnya belenggu istilah dan belenggu kata-kata ini yang sering menggebug cara berpikir kita dengan cukup kuat
Tak cuma menggebug, tetapi memenjarakannya, sebab bertentangan langsung dengan naluri alamiah dan nurani kita sendiri
Semisal istilah atau penggambaran sebagian saudara muslim yang masih ingin menuruti nafsunya bahwa syariat ini mengekang
Dia, dengan ketakutan nafsunya yang luar biasa menggambarkan seolah-olah syariat ini sesuatu yang sangat seram
Dan tentu saja itu otak-atik pikiran dia yang dikontrol dengan baik oleh nafsu, padahal aslinya syariat justru membebaskan
Karena saat kita mengikuti jalur syariat dengan baik, kita justru menemukan ketenangan yang luar biasa
Lantas apa yang kita cari dalam hidup ini jika bukan ketenangan? Pemikiran yang aneh-aneh justru sejatinya menimbulkan ketidaktenangan
Sebab dia di samping capek menghadapi serbuan sana sini, dia juga capek bertempur dengan nurani dirinya sendiri
Misal lain, istilah "semua agama sama" atau "semua agama benar". Itu menurut otak-atik pikirannya saja, permainan kata-kata, tak lebih
Sebab nuraninya, nalurinya, wijdan dasar dia akan tetap mengatakan bahwa tidak semua agama sama dan hanya satu yang benar
Apapun jenis agama orang itu. Coba tanyakan orang Kristen, Hindu, Budha; bagi mereka ya agama mereka sendiri yg benar, yg lain salah
Jadi terlihat betul ada ketidaksinkronan antara nurani dan pikiran. Ini secara psikologi cukup menyakitkan... Menyiksa diri sendiri
Dan hanya orang edan saja yang suka menyiksa diri, "menikmati hidup" dalam tekanan dan ketidakbebasan yg diciptakannya sendiri
Pada akhirnya, ikuti arahan syariat dengan baik, dengan benar, maka kita akan menemukan kebebasan dalam jiwa kita. Ketenangan abadi.
Catat, aturan syariat tidak membelenggu, tetapi membebaskan. Tanamkan hal ini baik-baik dalam benak kita :) Wallahul Musta'an
Bebaskan pikiranmu dari belenggu istilah, dari belenggu kata-kata
Karena sebenarnya belenggu istilah dan belenggu kata-kata ini yang sering menggebug cara berpikir kita dengan cukup kuat
Tak cuma menggebug, tetapi memenjarakannya, sebab bertentangan langsung dengan naluri alamiah dan nurani kita sendiri
Semisal istilah atau penggambaran sebagian saudara muslim yang masih ingin menuruti nafsunya bahwa syariat ini mengekang
Dia, dengan ketakutan nafsunya yang luar biasa menggambarkan seolah-olah syariat ini sesuatu yang sangat seram
Dan tentu saja itu otak-atik pikiran dia yang dikontrol dengan baik oleh nafsu, padahal aslinya syariat justru membebaskan
Karena saat kita mengikuti jalur syariat dengan baik, kita justru menemukan ketenangan yang luar biasa
Lantas apa yang kita cari dalam hidup ini jika bukan ketenangan? Pemikiran yang aneh-aneh justru sejatinya menimbulkan ketidaktenangan
Sebab dia di samping capek menghadapi serbuan sana sini, dia juga capek bertempur dengan nurani dirinya sendiri
Misal lain, istilah "semua agama sama" atau "semua agama benar". Itu menurut otak-atik pikirannya saja, permainan kata-kata, tak lebih
Sebab nuraninya, nalurinya, wijdan dasar dia akan tetap mengatakan bahwa tidak semua agama sama dan hanya satu yang benar
Apapun jenis agama orang itu. Coba tanyakan orang Kristen, Hindu, Budha; bagi mereka ya agama mereka sendiri yg benar, yg lain salah
Jadi terlihat betul ada ketidaksinkronan antara nurani dan pikiran. Ini secara psikologi cukup menyakitkan... Menyiksa diri sendiri
Dan hanya orang edan saja yang suka menyiksa diri, "menikmati hidup" dalam tekanan dan ketidakbebasan yg diciptakannya sendiri
Pada akhirnya, ikuti arahan syariat dengan baik, dengan benar, maka kita akan menemukan kebebasan dalam jiwa kita. Ketenangan abadi.
Catat, aturan syariat tidak membelenggu, tetapi membebaskan. Tanamkan hal ini baik-baik dalam benak kita :) Wallahul Musta'an
Dauroh Dai Yg Terjun ke Politik
Kayaknya sangat perlu diadakan Dauroh Kajian Ihya' Ulumiddin Juz III Buat para Ustadz dan Kyai yang terjun ke dunia Politik
Atau kalau Ihya' terlalu berat, diadakan Dauroh kajian Ad-Da'wah At-Taammah, bahwa duit rakyat itu terbuat dari api, bukan kertas
kalau para ustadz dan kyai tidak sanggup menahan godaan duit rakyat, kembali saja ke masjid, madrasah, pesantren... mempersiapkan kader saja
perlu menteladani Imam Abu Hanifah yang sampai digebugi Raja sebab tidak mau terjun ke politik dan menjadi pejabat public
Untuk urusan politik, serahkan ahlinya... para ustadz dan kyai mendidik ruh dan moral para ahli itu, bukan terjun sendiri... nyasar ntar
perlu juga membaca sejarah bahwa agama dan politik sering kali bertolak belakang. tinggal kuat-kuatan iman saja bagi para pelakunya
Kurang apa orang sekaliber Abdul Malik bin Marwan, sebelum jadi khalifah dia menguasai fiqih, ahli hadits, belajar dari para tabi'in terbaik
tapi saat jadi Khalifah, terang-terangan dia menutup al-Qur'an seraya bilang "Ini adalah akhir perjanjian antara aku dan kamu"
masih di masa salaf sholih ini, banyak sahabat Nabi juga... Abdul Malik bilang seperti itu, Hadza akhiru ahdi baini wa bainak
apalagi para ustadz sekarang yang terjun ke politik, ndak ada sekukunya Abdul Malik bin Marwan ilmu agamanya...
contoh lain, Hajjaj bin Yusuf, hapal qur'an bolak balik ini orang, dahi juga gosong. Tapi politiknya kejam luar biasa, membunuh adalah hobi
jika ada yang bilang, lantas siapa yang memperjuangkan Islam jika tak ada mereka di dunia politik? Hanya kalimat legalisir kepentingan saja
Banyak hal kita baca, kita pelajari, namun tak semuanya kita ingat.Baru teringat jika ada momentum. Nah saat itu baru tahu rasa ilmu manfaat
Pesan Jendral TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu kepadaku: "Doakan bangsamu, kita kekurangan orang yang mau berdoa untuk bangsa kita."
Pesan khusus Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliky, untuk kami, seluruh muridnya, "Jangan terjun langsung di dunia politik."
Atau kalau Ihya' terlalu berat, diadakan Dauroh kajian Ad-Da'wah At-Taammah, bahwa duit rakyat itu terbuat dari api, bukan kertas
kalau para ustadz dan kyai tidak sanggup menahan godaan duit rakyat, kembali saja ke masjid, madrasah, pesantren... mempersiapkan kader saja
perlu menteladani Imam Abu Hanifah yang sampai digebugi Raja sebab tidak mau terjun ke politik dan menjadi pejabat public
Untuk urusan politik, serahkan ahlinya... para ustadz dan kyai mendidik ruh dan moral para ahli itu, bukan terjun sendiri... nyasar ntar
perlu juga membaca sejarah bahwa agama dan politik sering kali bertolak belakang. tinggal kuat-kuatan iman saja bagi para pelakunya
Kurang apa orang sekaliber Abdul Malik bin Marwan, sebelum jadi khalifah dia menguasai fiqih, ahli hadits, belajar dari para tabi'in terbaik
tapi saat jadi Khalifah, terang-terangan dia menutup al-Qur'an seraya bilang "Ini adalah akhir perjanjian antara aku dan kamu"
masih di masa salaf sholih ini, banyak sahabat Nabi juga... Abdul Malik bilang seperti itu, Hadza akhiru ahdi baini wa bainak
apalagi para ustadz sekarang yang terjun ke politik, ndak ada sekukunya Abdul Malik bin Marwan ilmu agamanya...
contoh lain, Hajjaj bin Yusuf, hapal qur'an bolak balik ini orang, dahi juga gosong. Tapi politiknya kejam luar biasa, membunuh adalah hobi
jika ada yang bilang, lantas siapa yang memperjuangkan Islam jika tak ada mereka di dunia politik? Hanya kalimat legalisir kepentingan saja
Banyak hal kita baca, kita pelajari, namun tak semuanya kita ingat.Baru teringat jika ada momentum. Nah saat itu baru tahu rasa ilmu manfaat
Pesan Jendral TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu kepadaku: "Doakan bangsamu, kita kekurangan orang yang mau berdoa untuk bangsa kita."
Pesan khusus Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliky, untuk kami, seluruh muridnya, "Jangan terjun langsung di dunia politik."
9 Apr 2014
Membawa Nama Agama Dalam Politik
Stelah berakhirnya masa pendidikan 10 tahun di Masyru' al-Maliky & menjelang kepulangan, kami slalu mendapat pesan2 khusus dari Guru kami
Banyak pesan2 khusus yg diarahkan, namun intinya hampir sama, baik pada masa almarhum Abuya S. Muhammad bin Alwy al-Maliky
Atau pada era putra beliau saat ini, Guru Besar kami, Abuya S. Ahmad bin Muhammad al-Maliky, sosok yg pelan namun pasti mulai jadi ikon
Di antara pesan2 khusus itu, yg paling spesifik adl berhubungan dg politik. Beliau berdua selalu berpesan, jika kalian ingin hidup bebas
Ingin dakwah kalian bisa diterima siapapun & masuk di manapun pada kalangan apapun, jangan terjun ke dunia politik praktis
Beliau berdua tidak melarang politik secara umum, namun beliau berdua mengarahkan kami untuk tak terjun di dunia itu dg diri kami
Sebab tentu saja dg beberapa kebijakan di antaranya bahwa kami tak dididik selama itu untuk bermain politik
Istilah Abuya S. Ahmad, jika orangmu, muridmu yg mengerti politik & berpolitik praktis, silakan. Tapi kalian sendiri, jangan
Wilayah itu bukan dunia kalian. Islah (pembenahan) yg kita usung tak hanya terbatas pada dunia "sesempit" politik saja
Dari pesan ini, mayoritas dari alumni Masyru' al-Maliky (yg tergabung dlm organisasi as-Shofwah) tentu tidak terjun di politik praktis
Dan selanjutnya adl kerap kali memilih hiyad (netral) dlm bersikap. Walau tentu saja ada 1-2 yg berpolitik praktis
Bahkan menjadi anggota DPR Pusat (semisal Gus Ubab Maimun Zubair melalui PPP). Atau beberapa jadi anggota DPRD daerah masing2..
Atau jika "terpaksa" berpolitik atau seolah menampakkan keberpihakan pada partai tertentu, maka melihat daerah tinggal masing2
Tentu saja semua itu untuk kepentingan dakwah, sebab dakwah juga punya "politik"-nya sendiri, tidak asal Firman Allah-Sabda Nabi saja
Semisal yg tinggal di tengah2 masyarakat partai A, maka tentu tak mungkin dia teriak2 ikut partai B, bisa2 nggak masuk lagi dakwahnya
Dan aku pribadi, sebagai sarjana dari Masyru' al-Maliky tentu saja berusaha semampu mungkin menjalankan pesan Guru2 Besar kami
Salah satunya adl dg cara netral, siapapun dari partai apapun selama itu ingin berteman & baik dg saya, maka dia saya rangkul
Makanya beberapa waktu lalu (bagi yg perhatian) saat ada partai tertentu minta doa, aku jawab bahwa semua partai aku doakan
Selama itu untuk kemaslahatan Indonesia. Atau ada yg mention aku bahwa bangsa ini butuh kader2 partainya, aku jawab...
...bahwa bangsa ini membutuhkan kader terbaik dari semua partai. Sebab Indonesia bukan milik satu partai saja
Perihal dlm beberapa tempo aku menyebut nama tokoh, bukan lantas itu menunjukkan bahwa kami mendukung tokoh itu ..
Kalau ditanya, secara pribadi sampean dukung partai apa? Aku jawab, Luber, bukankah begitu asas pemilu? Ntah kalau udah diubah KPU
Dari sini pula, sebagai praktek atas kenetralan, dan sebagai bukti keuniversalan dakwah, aku berusaha untuk bisa baik dg siapapun
Yg berbeda2 sudut pandang politiknya, walau antar mereka terjadi saling kritik dan saling serang. Itu urusan mereka, bukan urusanku
Atau semisal agen2 dari pihak yg saling serang itu mengingatkan aku untuk tidak dekat dg pihak tertentu, aku dengar, terima kasih tentu
Tapi berhubung aku tidak ada urusan politis baik dari pihak A, B, atau C, maka aku tetap dekat dg semua pihak yg saling panas2an itu
Semisal terus terang saja, aku dekat dg dua akun yg kontra, @PartaiSocmed & @pkspiyungan ... Tapi admin2 keduanya adl sahabat2 baikku
Jika agen2 kedua saling propaganda soal politik, dg cara apa saja, bahkan pakai bawa2 agama, ya itu urusan mereka
Tugasku secara pribadi di dunia dakwah adl berusaha membenahi sebisanya dan menunjukkan, gini lho yg pas itu dlm syariat
Makanya aku sempat sebal saat ada yg minta dukungan hanya sebab politik tapi pakai propaganda bawa2 agama atau membenturkan dg agama
Kayak ada yg minta dukungan menolak partai tertentu sebab tidak mengusung syariat Islam misalkan.. Atau warning aliran2 tertentu
Atau permohonan dukungan menolak partai tertentu sebab alasan kadernya suka poligami
Oke, sah2 saja mau minta dukungan pakai modus atau alasan tertentu, tapi tak perlu membenturkan/menyampurkan nama suci syariat...
Ke dalam kepentingan yg jelas sekali politis. Sebab itu malah akan menimbulkan fitnah baru tersendiri yg dampaknya lebih tidak baik..
Dari sini pula aku sempat bertanya2, katanya melarang mencampuradukkan agama dg politik, lha ini mengajak anti partai tertentu...
Sebab alasan yg dasarnya dilegalkan dlm syariat, semisal poligami. Ini sama dg mencampuradukkan hanya saja caranya lain
Oke deh, tak simpatik atau benci dg partai tertentu, tapi tak perlu membentur2kan dg syariat. Urusannya berbeda lagi ini
Atau kadang muncul pertanyaan, lho bukannya syariat masuk pada semua aspek kehidupan, artinya tak terpisah jg dg politik...
Betul itu, tak salah, tapi bukan dijadikan sebagai alat untuk menggapai kepentingan terbatas partaimu & orang2mu saja
Sebab Islam itu milik siapa saja. Bukan milik orang2 yg berjenggot saja, bersarung saja, berjilbab saja...
Makanya kadang dlm hati sendiri aku bertanya2, kenapa partai2 yg mengklaim berasas "Islam" tidak bergabung jadi satu partai saja?
Jika memang bener niatnya "memperjuangkan" nilai2 Islam agak syariat "dipraktekkan" di nusantara ini (sesuai jargon2 partai2 itu)
Pada akhirnya, jika melihat fenomena seperti ini, maka pilihlah partai yg mantap di hatimu. Sebab hati kecil tak pernah berbohong
Kalau bisa, tidak golput. Tak apalah golput dg catatan nantinya tak menghujat2 partai yg menang atau pemimpin yg terpilih
Wong namanya golput ya berarti nggak A nggak B. Aneh kalau golput tapi nanti marah2 ke yg terpilih, salah siapa nggak milih
Akhir kultwit, sekedar meramaikan TL dan menggunakan hak kebebasan berpendapat. Tak masalah kan? ;)
Moga Pemilu berjalan lancar, amin
Banyak pesan2 khusus yg diarahkan, namun intinya hampir sama, baik pada masa almarhum Abuya S. Muhammad bin Alwy al-Maliky
Atau pada era putra beliau saat ini, Guru Besar kami, Abuya S. Ahmad bin Muhammad al-Maliky, sosok yg pelan namun pasti mulai jadi ikon
Di antara pesan2 khusus itu, yg paling spesifik adl berhubungan dg politik. Beliau berdua selalu berpesan, jika kalian ingin hidup bebas
Ingin dakwah kalian bisa diterima siapapun & masuk di manapun pada kalangan apapun, jangan terjun ke dunia politik praktis
Beliau berdua tidak melarang politik secara umum, namun beliau berdua mengarahkan kami untuk tak terjun di dunia itu dg diri kami
Sebab tentu saja dg beberapa kebijakan di antaranya bahwa kami tak dididik selama itu untuk bermain politik
Istilah Abuya S. Ahmad, jika orangmu, muridmu yg mengerti politik & berpolitik praktis, silakan. Tapi kalian sendiri, jangan
Wilayah itu bukan dunia kalian. Islah (pembenahan) yg kita usung tak hanya terbatas pada dunia "sesempit" politik saja
Dari pesan ini, mayoritas dari alumni Masyru' al-Maliky (yg tergabung dlm organisasi as-Shofwah) tentu tidak terjun di politik praktis
Dan selanjutnya adl kerap kali memilih hiyad (netral) dlm bersikap. Walau tentu saja ada 1-2 yg berpolitik praktis
Bahkan menjadi anggota DPR Pusat (semisal Gus Ubab Maimun Zubair melalui PPP). Atau beberapa jadi anggota DPRD daerah masing2..
Atau jika "terpaksa" berpolitik atau seolah menampakkan keberpihakan pada partai tertentu, maka melihat daerah tinggal masing2
Tentu saja semua itu untuk kepentingan dakwah, sebab dakwah juga punya "politik"-nya sendiri, tidak asal Firman Allah-Sabda Nabi saja
Semisal yg tinggal di tengah2 masyarakat partai A, maka tentu tak mungkin dia teriak2 ikut partai B, bisa2 nggak masuk lagi dakwahnya
Dan aku pribadi, sebagai sarjana dari Masyru' al-Maliky tentu saja berusaha semampu mungkin menjalankan pesan Guru2 Besar kami
Salah satunya adl dg cara netral, siapapun dari partai apapun selama itu ingin berteman & baik dg saya, maka dia saya rangkul
Makanya beberapa waktu lalu (bagi yg perhatian) saat ada partai tertentu minta doa, aku jawab bahwa semua partai aku doakan
Selama itu untuk kemaslahatan Indonesia. Atau ada yg mention aku bahwa bangsa ini butuh kader2 partainya, aku jawab...
...bahwa bangsa ini membutuhkan kader terbaik dari semua partai. Sebab Indonesia bukan milik satu partai saja
Perihal dlm beberapa tempo aku menyebut nama tokoh, bukan lantas itu menunjukkan bahwa kami mendukung tokoh itu ..
Kalau ditanya, secara pribadi sampean dukung partai apa? Aku jawab, Luber, bukankah begitu asas pemilu? Ntah kalau udah diubah KPU
Dari sini pula, sebagai praktek atas kenetralan, dan sebagai bukti keuniversalan dakwah, aku berusaha untuk bisa baik dg siapapun
Yg berbeda2 sudut pandang politiknya, walau antar mereka terjadi saling kritik dan saling serang. Itu urusan mereka, bukan urusanku
Atau semisal agen2 dari pihak yg saling serang itu mengingatkan aku untuk tidak dekat dg pihak tertentu, aku dengar, terima kasih tentu
Tapi berhubung aku tidak ada urusan politis baik dari pihak A, B, atau C, maka aku tetap dekat dg semua pihak yg saling panas2an itu
Semisal terus terang saja, aku dekat dg dua akun yg kontra, @PartaiSocmed & @pkspiyungan ... Tapi admin2 keduanya adl sahabat2 baikku
Jika agen2 kedua saling propaganda soal politik, dg cara apa saja, bahkan pakai bawa2 agama, ya itu urusan mereka
Tugasku secara pribadi di dunia dakwah adl berusaha membenahi sebisanya dan menunjukkan, gini lho yg pas itu dlm syariat
Makanya aku sempat sebal saat ada yg minta dukungan hanya sebab politik tapi pakai propaganda bawa2 agama atau membenturkan dg agama
Kayak ada yg minta dukungan menolak partai tertentu sebab tidak mengusung syariat Islam misalkan.. Atau warning aliran2 tertentu
Atau permohonan dukungan menolak partai tertentu sebab alasan kadernya suka poligami
Oke, sah2 saja mau minta dukungan pakai modus atau alasan tertentu, tapi tak perlu membenturkan/menyampurkan nama suci syariat...
Ke dalam kepentingan yg jelas sekali politis. Sebab itu malah akan menimbulkan fitnah baru tersendiri yg dampaknya lebih tidak baik..
Dari sini pula aku sempat bertanya2, katanya melarang mencampuradukkan agama dg politik, lha ini mengajak anti partai tertentu...
Sebab alasan yg dasarnya dilegalkan dlm syariat, semisal poligami. Ini sama dg mencampuradukkan hanya saja caranya lain
Oke deh, tak simpatik atau benci dg partai tertentu, tapi tak perlu membentur2kan dg syariat. Urusannya berbeda lagi ini
Atau kadang muncul pertanyaan, lho bukannya syariat masuk pada semua aspek kehidupan, artinya tak terpisah jg dg politik...
Betul itu, tak salah, tapi bukan dijadikan sebagai alat untuk menggapai kepentingan terbatas partaimu & orang2mu saja
Sebab Islam itu milik siapa saja. Bukan milik orang2 yg berjenggot saja, bersarung saja, berjilbab saja...
Makanya kadang dlm hati sendiri aku bertanya2, kenapa partai2 yg mengklaim berasas "Islam" tidak bergabung jadi satu partai saja?
Jika memang bener niatnya "memperjuangkan" nilai2 Islam agak syariat "dipraktekkan" di nusantara ini (sesuai jargon2 partai2 itu)
Pada akhirnya, jika melihat fenomena seperti ini, maka pilihlah partai yg mantap di hatimu. Sebab hati kecil tak pernah berbohong
Kalau bisa, tidak golput. Tak apalah golput dg catatan nantinya tak menghujat2 partai yg menang atau pemimpin yg terpilih
Wong namanya golput ya berarti nggak A nggak B. Aneh kalau golput tapi nanti marah2 ke yg terpilih, salah siapa nggak milih
Akhir kultwit, sekedar meramaikan TL dan menggunakan hak kebebasan berpendapat. Tak masalah kan? ;)
Moga Pemilu berjalan lancar, amin
Waktunya Mempelajari Kepribadian Nabi
kemarin sore aku kedatangan tamu yg sangat istimewa, sahabat sekaligus saudara, akhuna Ustadz @salimafillah http://t.co/OuFxHisSGj (*copas link ke address bar untuk view photo)
kami banyak berbincang seputar fenomena yg terjadi saat ini; problem2 umum yg dialami ummat, baik skala internasional ataupun dlm negeri
apa solusi yg dibutuhkan oleh kaum muslimin di tengah berkecamuknya berbagai macam fitnah pemikiran yg tumpah luar biasa ini
momentum yg pas saat kami berbincang adl, ustadz @salimafillah datang dari Madinah, sementara aku baru hendak ke madinah. Now, otw
sebenarnya permasalahan yg dialami ummat Islam saat ini di belahan dunia manapun begitu pelik. Belum ditambah jauhnya kaum muslimin...
...dari dasar2 ajaran dlm agama yg dipeluknya. Mayoritas mengerti Islam hanya mengikut, tak banyak menerima maklumat ttg agamanya sendiri
lebih dari itu bahkan banyak yg tak mengerti bagaimana dan seperti apa Nabinya sendiri, kecuali hanya sebatas nama saja
dalam keadaan memprihatinkan seperti ini, mayoritas umat yg jauh dari taklimat2 dlm agamanya digiring pada fitnah2 pemikiran membingungkan
diseret ke dalam perdebatan2 yg tak seharusnya mereka berada pada wilayah itu sementara soal thoharoh (bersuci) dan sholat saja...
.. Masih belum menguasai dg baik. Apalagi hal2 yg lain yg berhubungan dg hukum, sejarah dan sebagainya...
umat yg tak paham banyak perihal seluk beluk dlm agama dijerumuskan dg banyak tipuan2 yg nampak manis namun ternyata jebakan mematikan
dalam majlis2 diskusi kami, sering kami bertukar pikiran, dari mana kita mulai melakukan pembenahan terhadap kerusakan2 yg disengaja ini?
dan setelah lama melakukan scan, memang banyak cara, namun di antara cara yg sangat tepat saat ini adl mengenalkan kembali kepada ummat...
..tentang pribadi Rasulullah, bagaimana karakter beliau, keseharian2nya, ilmu yg populer dg nama "Syama-il"..
Syama-il bukanlah sekedar Siroh (sejarah) Nabi biasa yg umum kita kenal dan beredar luas di semua lapisan ummat
Sirah Nabawiyyah (Sejarah Nabi) yg bukunya cukup banyak sekali itu, lebih bertutur ttg peristiwa2 yg terjadi di zaman Beliau S.a.w.
semisal kelahiran, pertumbuhan, masa hendak jadi Nabi, masa awal2 Islam, masa perkembangan Islam, ekspedisi2 militer hingga wafat beliau..
adapun Syama-il adl ilmu yg khusus membahas pribadi beliau. Mulai dari akhlak mulia beliau, keseharian semisal cara berpakaian...
cara beliau makan, apa kesukaan2 beliau mulai dari jenis menu makanan, pakaian, kendaraan. Bagaimana cara bersikap beliau jika ada masalah
alhasil, Syama-il secara spesifik adl membahas kepribadian Nabi. Nah dari mempelajari syama-il ini diharapkan ummat meniru & mengikuti...
...kepribadian sekaligus tatacara berpikir beliau terutama dlm menerapkan dan mempraktekkan syariat. Ini juga yg disebut dg Hadyun Nabawi
dg syama-il setiap muslim bisa tahu bagaimana cara Nabi mempraktekkan Qur'an & Sunnah
jadi bukan dg mempraktekkan Qur'an-Sunnah lewat dipaham2 sendiri (akhirnya malah kacau), tapi lewat bagaimana Nabi menerapkannya
dan itu hanya ada di Syama-il. Hanya saja saat ini kajian2 Syama-il belum cukup populer. Padahal ini kategori ilmu yg sangat penting
Sekedar catatan, banyak kekerasan mengatasnamakan Islam adl sebab tidak mengertinya si pelaku kekerasan tadi dg Syama-il Nabi
karena bisa dipastikan, bahwa muslim yg mengerti Syama-il Nabi dg baik, dia akan muncul sebagai sosok muslim yg santun & tegas dlm 1 waktu
oke, dalami ketauhidan, tafsir, hadits, siroh, fikih, tasawwuf, tapi jangan tertinggal, dalami juga ilmu Syama-il Nabi ...
sedalam dan seluas apapun ilmu2 keislaman seseorang tapi dia tak mengerti tentang Syama-il Nabi, artinya dia hanya masih jasad tanpa ruh
karena ada keindahan rohani tersendiri saat seseorang mampu menghadirkan kepribadian Nabi dlm sgala tindak tanduk kesehariannya
khususnya bagaimana cara interaksi Nabi kepada sesama baik wanita, anak2, orang awam, non muslim, jg interaksi beliau dg semesta...
semoga kita semakin dekat dg Rasulullah. Setidaknya jika belum bisa tahu karakter pribadinya,kita perbanyak untuk membaca shalawat padanya
karena dg membiasakan diri (terlebih memperbanyak) baca sholawat, kita telah menumbuhkan benih2 cinta di hati kita pada Rasulullah
dan benih cinta pada Rasulullah inilah yg sangat penting, karena jika cinta pada Rasulullah telah sepenuhnya masuk dlm jiwa kita...
...artinya jaminan keselamatan hidup dunia akhirat telah ada di tangan kita. Apapun yg terjadi.
akhir kultwit, saatnya menata diri dan jiwa kembali. Waktunya mengkonsentrasikan cinta pada Rasulullah. Moga Allah Memudahkan. Salam
kami banyak berbincang seputar fenomena yg terjadi saat ini; problem2 umum yg dialami ummat, baik skala internasional ataupun dlm negeri
apa solusi yg dibutuhkan oleh kaum muslimin di tengah berkecamuknya berbagai macam fitnah pemikiran yg tumpah luar biasa ini
momentum yg pas saat kami berbincang adl, ustadz @salimafillah datang dari Madinah, sementara aku baru hendak ke madinah. Now, otw
sebenarnya permasalahan yg dialami ummat Islam saat ini di belahan dunia manapun begitu pelik. Belum ditambah jauhnya kaum muslimin...
...dari dasar2 ajaran dlm agama yg dipeluknya. Mayoritas mengerti Islam hanya mengikut, tak banyak menerima maklumat ttg agamanya sendiri
lebih dari itu bahkan banyak yg tak mengerti bagaimana dan seperti apa Nabinya sendiri, kecuali hanya sebatas nama saja
dalam keadaan memprihatinkan seperti ini, mayoritas umat yg jauh dari taklimat2 dlm agamanya digiring pada fitnah2 pemikiran membingungkan
diseret ke dalam perdebatan2 yg tak seharusnya mereka berada pada wilayah itu sementara soal thoharoh (bersuci) dan sholat saja...
.. Masih belum menguasai dg baik. Apalagi hal2 yg lain yg berhubungan dg hukum, sejarah dan sebagainya...
umat yg tak paham banyak perihal seluk beluk dlm agama dijerumuskan dg banyak tipuan2 yg nampak manis namun ternyata jebakan mematikan
dalam majlis2 diskusi kami, sering kami bertukar pikiran, dari mana kita mulai melakukan pembenahan terhadap kerusakan2 yg disengaja ini?
dan setelah lama melakukan scan, memang banyak cara, namun di antara cara yg sangat tepat saat ini adl mengenalkan kembali kepada ummat...
..tentang pribadi Rasulullah, bagaimana karakter beliau, keseharian2nya, ilmu yg populer dg nama "Syama-il"..
Syama-il bukanlah sekedar Siroh (sejarah) Nabi biasa yg umum kita kenal dan beredar luas di semua lapisan ummat
Sirah Nabawiyyah (Sejarah Nabi) yg bukunya cukup banyak sekali itu, lebih bertutur ttg peristiwa2 yg terjadi di zaman Beliau S.a.w.
semisal kelahiran, pertumbuhan, masa hendak jadi Nabi, masa awal2 Islam, masa perkembangan Islam, ekspedisi2 militer hingga wafat beliau..
adapun Syama-il adl ilmu yg khusus membahas pribadi beliau. Mulai dari akhlak mulia beliau, keseharian semisal cara berpakaian...
cara beliau makan, apa kesukaan2 beliau mulai dari jenis menu makanan, pakaian, kendaraan. Bagaimana cara bersikap beliau jika ada masalah
alhasil, Syama-il secara spesifik adl membahas kepribadian Nabi. Nah dari mempelajari syama-il ini diharapkan ummat meniru & mengikuti...
...kepribadian sekaligus tatacara berpikir beliau terutama dlm menerapkan dan mempraktekkan syariat. Ini juga yg disebut dg Hadyun Nabawi
dg syama-il setiap muslim bisa tahu bagaimana cara Nabi mempraktekkan Qur'an & Sunnah
jadi bukan dg mempraktekkan Qur'an-Sunnah lewat dipaham2 sendiri (akhirnya malah kacau), tapi lewat bagaimana Nabi menerapkannya
dan itu hanya ada di Syama-il. Hanya saja saat ini kajian2 Syama-il belum cukup populer. Padahal ini kategori ilmu yg sangat penting
Sekedar catatan, banyak kekerasan mengatasnamakan Islam adl sebab tidak mengertinya si pelaku kekerasan tadi dg Syama-il Nabi
karena bisa dipastikan, bahwa muslim yg mengerti Syama-il Nabi dg baik, dia akan muncul sebagai sosok muslim yg santun & tegas dlm 1 waktu
oke, dalami ketauhidan, tafsir, hadits, siroh, fikih, tasawwuf, tapi jangan tertinggal, dalami juga ilmu Syama-il Nabi ...
sedalam dan seluas apapun ilmu2 keislaman seseorang tapi dia tak mengerti tentang Syama-il Nabi, artinya dia hanya masih jasad tanpa ruh
karena ada keindahan rohani tersendiri saat seseorang mampu menghadirkan kepribadian Nabi dlm sgala tindak tanduk kesehariannya
khususnya bagaimana cara interaksi Nabi kepada sesama baik wanita, anak2, orang awam, non muslim, jg interaksi beliau dg semesta...
semoga kita semakin dekat dg Rasulullah. Setidaknya jika belum bisa tahu karakter pribadinya,kita perbanyak untuk membaca shalawat padanya
karena dg membiasakan diri (terlebih memperbanyak) baca sholawat, kita telah menumbuhkan benih2 cinta di hati kita pada Rasulullah
dan benih cinta pada Rasulullah inilah yg sangat penting, karena jika cinta pada Rasulullah telah sepenuhnya masuk dlm jiwa kita...
...artinya jaminan keselamatan hidup dunia akhirat telah ada di tangan kita. Apapun yg terjadi.
akhir kultwit, saatnya menata diri dan jiwa kembali. Waktunya mengkonsentrasikan cinta pada Rasulullah. Moga Allah Memudahkan. Salam
Sudahkah Para Agen Dakwah Memahami Fiqhud Da'wah & Fiqhud Da'i?
Malam jumat adalah malam yang sangat tepat untuk berkontemplasi, terutama bagi mereka yang menempatkan diri sebagai agen dakwah
Apakah sudah menata niatnya dengan baik? apa dakwah sudah benar2 Lillah tidak sebab salam tempel atau dibiayai pihak tertentu?
Apa dalam dakwah telah dengan cukup baik menerapkan konsep 2 in 1? In uridu illal ishlah, dan In ajriya Alallah?
Apa dalam cara dakwahnya telah benar? tidak sekedar "ballighu anni walau ayat"?
Apa sebagai agen dakwah telah paham dengan baik apa itu Fiqhud Da'wah dan apa itu Fiqhud Da'i?
Sebab tabiat asli dakwah adalah merangkul, tidak membuat orang kabur gara2 cara dakwah yang salah...
Da'wah harus sepenuhnya disampaikan dengan cara yang santun, penuh kasih sayang dan cinta
Dakwah (dengan cara apapun, lisan, pena, perilaku) tetap dg cara menjaga hati bahwa yg kita ajak adalah lebih baik dari kita
Jika seorang agen dakwah merasa dirinya lebih baik daripada yang didakwahi, maka dakwah gagal dalam detik itu juga
Fiqhud da'wah adalah mengajak kepada Jalan kebaikan dengan cara yang bijak, nasehat baik, atau diskusi/debat yang santun
Jika saat dakwah dalam agen dakwah tersebut terbayang angka di rekening,maka dia harus tahu dakwahnya tidak akan masuk hati yg didakwahi
Seorang agen dakwah harus tahu dengan baik bagaimana momentum Nabi dalam menghadapi suatu masalah, praktek beliau atas teks2 syariat
Fiqhud Da'i adalah memahami dengan baik bahwa Nabi adalah panutan, bagi yang dakwahnya murni mengharap akhirat
Seorang agen dakwah harus tahu dengan baik bahwa posisi Nabi adalah panutan, bukan analagi (qiyas) atau persamaan
Menyamakan diri dengan Nabi (atau berkata: apa kamu merasa lebih baik dari Nabi) adl kesalahan terfatal seorang agen dakwah
Seorang agen dakwah juga harus tahu bahwa penyampaian yg kasar, cenderung menyalahkan malah akan membuat yg didakwahi alergi dan kabur
Karena pada dasarnya Islam itu santun, yang membuatnya terlihat seram adalah perilaku sebagian agennya yg tak paham fiqh da'wah & da'i
Maka jika ada yang berslogan "Nahnu du'at qobla kulli syai", yang pertama harus dia ketahui adalah bagaimana cara jadi du'atnya itu
Seorang agen dakwah juga harus menata hati dg baik bahwa dakwah itu tidak ditentukan dg kuantitas, tetap kualitas.
Kalau seorang da'i matanya tersangkut jumlah angka ummat atau angka follower, maka dakwahnya tidak akan pernah masuk hati yg didakwahi
Kata Nabi pada S. Ali, satu orang saja bisa kamu tuntun pada jalan cahaya itu lebih baik dari harta termahal apapun
Maka seorang agen dakwah harus selalu menancapkan kuat2 dalam benaknya kalimat "Tata hati tata niat".
Selamat malam jumat, moga hari kita ke depannya lebih baik lagi...
Apakah sudah menata niatnya dengan baik? apa dakwah sudah benar2 Lillah tidak sebab salam tempel atau dibiayai pihak tertentu?
Apa dalam dakwah telah dengan cukup baik menerapkan konsep 2 in 1? In uridu illal ishlah, dan In ajriya Alallah?
Apa dalam cara dakwahnya telah benar? tidak sekedar "ballighu anni walau ayat"?
Apa sebagai agen dakwah telah paham dengan baik apa itu Fiqhud Da'wah dan apa itu Fiqhud Da'i?
Sebab tabiat asli dakwah adalah merangkul, tidak membuat orang kabur gara2 cara dakwah yang salah...
Da'wah harus sepenuhnya disampaikan dengan cara yang santun, penuh kasih sayang dan cinta
Dakwah (dengan cara apapun, lisan, pena, perilaku) tetap dg cara menjaga hati bahwa yg kita ajak adalah lebih baik dari kita
Jika seorang agen dakwah merasa dirinya lebih baik daripada yang didakwahi, maka dakwah gagal dalam detik itu juga
Fiqhud da'wah adalah mengajak kepada Jalan kebaikan dengan cara yang bijak, nasehat baik, atau diskusi/debat yang santun
Jika saat dakwah dalam agen dakwah tersebut terbayang angka di rekening,maka dia harus tahu dakwahnya tidak akan masuk hati yg didakwahi
Seorang agen dakwah harus tahu dengan baik bagaimana momentum Nabi dalam menghadapi suatu masalah, praktek beliau atas teks2 syariat
Fiqhud Da'i adalah memahami dengan baik bahwa Nabi adalah panutan, bagi yang dakwahnya murni mengharap akhirat
Seorang agen dakwah harus tahu dengan baik bahwa posisi Nabi adalah panutan, bukan analagi (qiyas) atau persamaan
Menyamakan diri dengan Nabi (atau berkata: apa kamu merasa lebih baik dari Nabi) adl kesalahan terfatal seorang agen dakwah
Seorang agen dakwah juga harus tahu bahwa penyampaian yg kasar, cenderung menyalahkan malah akan membuat yg didakwahi alergi dan kabur
Karena pada dasarnya Islam itu santun, yang membuatnya terlihat seram adalah perilaku sebagian agennya yg tak paham fiqh da'wah & da'i
Maka jika ada yang berslogan "Nahnu du'at qobla kulli syai", yang pertama harus dia ketahui adalah bagaimana cara jadi du'atnya itu
Seorang agen dakwah juga harus menata hati dg baik bahwa dakwah itu tidak ditentukan dg kuantitas, tetap kualitas.
Kalau seorang da'i matanya tersangkut jumlah angka ummat atau angka follower, maka dakwahnya tidak akan pernah masuk hati yg didakwahi
Kata Nabi pada S. Ali, satu orang saja bisa kamu tuntun pada jalan cahaya itu lebih baik dari harta termahal apapun
Maka seorang agen dakwah harus selalu menancapkan kuat2 dalam benaknya kalimat "Tata hati tata niat".
Selamat malam jumat, moga hari kita ke depannya lebih baik lagi...
Cara Dakwah ke Liberal dan ke Radikal
Saat kultwit soal khilafah tadi sempat ada yg bertanya,kenapa twit2ku selalu nampak keras pada yg militan/fundamental, tp tdk pd liberal?
Dengan Islam kanan (tafrith) aku terkesan begitu keras, sementara dg Islam kiri (ifroth) aku terkesan malah sering bercanda
Sebenarnya ini rahasia dapur, namun sebab amanah ilmu dan metodologi dakwah bil hikmah, maka perlu aku sampaikan meski ringkas
Aku juga sempat menjawab pada yang bertanya tadi bahwa keduanya aku garap namun dengan cara dan metode berbeda
Karena kedua kelompok muslim dg cara pandang yg berbeda ini memerlukan penanganan yg berbeda jg, tidak bisa disamakan
Dan cara ini bukan dari aku, aku hanya mengikut dan meneruskan. Karena cara ini Rasulullah sendiri yang mengajarkan dan menuntunkan
5 Abad berikutnya, cara yg dituntunkan Nabi itu dipopulerkan lagi oleh Imam Ghozali melalui karyanya "Ihya' Ulumiddin"
5 abad berikutnya lagi dipopulerkan kembali oleh Imam Abdullah bin Alawy al-Haddad dalam "Al-Fushul ilmiyyah wal ushul al-hikamiyyah"
5 Abad berikutnya lagi, dipopulerkan kembali oleh Guru Besarku Abuya Sayyid Muhammad bin Alwy al-Maliky dalam dua magnum opus beliau
Yaitu kitab "Mafahim yajib an tushohhah" dan "Manhajus Salaf fi fahmin Nushuh baina annadhoriyyah wa attathbiq".
Sekaligus aku melihat dg mata kepala sendiri bagaimana cara beliau memperlakukan orang liberal dan orang militan/fundamental
Intinya, jika boleh mengungkapkannya dengan perumpamaan, menghadapi orang fundamental itu dg metode "Jewer kuping".
Sebab mereka cara meluruskannya dengan seperti itu, tentu saja setelah di ajak diskusi, sebab karakter mereka cenderung menyerang
Baru jika mereka mau mendengarkan (setelah dijewer), maka metode berikutnya yg lebih lembut baru bisa diterapkan
Mereka dg dibegitukan tidak akan lari sebab secara mental mereka lebih bagus, punya keberanian lebih, hanya caranya salah.
Adapun menghadapi orang liberal atau awam tidak bisa dg cara seperti itu. Jika diumpamakan, harus pakai metode "Elus2 punggung"
Karena jika dikerasi (pakai acara umpat2an lagi) maka mereka akan kabur dan justru menjauh dari kebenaran yg kita sampaikan.
sekedar diketahui, bahwa fenomena banyaknya muslim yg jadi liberal atau malah atheis adalah sebab kesalahan cara penyampaian.
Bahkan ada ulama yg bilang bahwa yg bertanggungjawab atas fenomena ini adalah justru mereka yg mengaku paling beragama (mutadayyin)
Bagaimana orang nggak kabur kalau disalah-salahkan, dikafir2kan? Sementara sejak kecil dia merasa dirinya jg Islam
Maka cara kami adalah menarik tangan yg kabur itu sembari menjewer telinga yg marah2i si kabur tadi. He.. Gini lho yg bener itu.
Dan ini tetap dengan menjaga hati dan moralitas tinggi dan tidak merasa bahwa diri ini paling benar.
Perihal setelah itu kedua kelompok marah2 dan tidak mau dibilangi lagi ya sudah, itu bukan tugas kita. Sudah berbeda kasus lagi.
Dalam istilah S. Ali bin Abi Tholib, "Kun min namathil awsath, yarji'u ilaihil gholi wa yalhaquhu attali".
Dalam berdakwah, jadilah kelompok tengah (moderat), yg jadi tempat kembalinya orang fundamental dan yg diikuti satunya (liberal).
Soal ini Nabi memberi contoh sangat bagus kala ada pemuda yg ingin berzina. Para sahabat sudah mau marah2, tapi sikap Nabi berbeda
Atau saat ada orang desa yang kencing di Masjid, sahabat juga sudah mau ngamuk, namun ditahan Nabi dan beliau memberi contoh elegan
Kalau contoh yg keras saat Nabi membagi hasil rampasan perang dan Nabi dibilang tdk adil, Nabi bentak orang itu.
Jadi semua ada metodenya, dan ini yang dimaksud dg sunnah, yaitu bagaimana cara bersikap Nabi atas sesuatu yg terjadi.
Sepertinya suatu saat perlu aku kultwitkan apa maksud hadits "alaikum bi sunnati wa sunnatil khulafa' arrosyidina min ba'di".
Berpeganglah pada Sunnahku dan sunnah khalifah rasyidah setelahku. Apa maksud kata "sunnah" dalam hadits beliau itu.
Selamat malam, moga menjadi tambahan ilmu sebelum tidur.. Jangan lupa wudhu dan doa sebelum tidur. Salam :)
Kullu syai-in yu'khodzu wa yurodd illa qoulu shohibi hadzal qobr.. Segala sesuatu itu pasti ada pro kontra kecuali sabda Nabi...
Dengan Islam kanan (tafrith) aku terkesan begitu keras, sementara dg Islam kiri (ifroth) aku terkesan malah sering bercanda
Sebenarnya ini rahasia dapur, namun sebab amanah ilmu dan metodologi dakwah bil hikmah, maka perlu aku sampaikan meski ringkas
Aku juga sempat menjawab pada yang bertanya tadi bahwa keduanya aku garap namun dengan cara dan metode berbeda
Karena kedua kelompok muslim dg cara pandang yg berbeda ini memerlukan penanganan yg berbeda jg, tidak bisa disamakan
Dan cara ini bukan dari aku, aku hanya mengikut dan meneruskan. Karena cara ini Rasulullah sendiri yang mengajarkan dan menuntunkan
5 Abad berikutnya, cara yg dituntunkan Nabi itu dipopulerkan lagi oleh Imam Ghozali melalui karyanya "Ihya' Ulumiddin"
5 abad berikutnya lagi dipopulerkan kembali oleh Imam Abdullah bin Alawy al-Haddad dalam "Al-Fushul ilmiyyah wal ushul al-hikamiyyah"
5 Abad berikutnya lagi, dipopulerkan kembali oleh Guru Besarku Abuya Sayyid Muhammad bin Alwy al-Maliky dalam dua magnum opus beliau
Yaitu kitab "Mafahim yajib an tushohhah" dan "Manhajus Salaf fi fahmin Nushuh baina annadhoriyyah wa attathbiq".
Sekaligus aku melihat dg mata kepala sendiri bagaimana cara beliau memperlakukan orang liberal dan orang militan/fundamental
Intinya, jika boleh mengungkapkannya dengan perumpamaan, menghadapi orang fundamental itu dg metode "Jewer kuping".
Sebab mereka cara meluruskannya dengan seperti itu, tentu saja setelah di ajak diskusi, sebab karakter mereka cenderung menyerang
Baru jika mereka mau mendengarkan (setelah dijewer), maka metode berikutnya yg lebih lembut baru bisa diterapkan
Mereka dg dibegitukan tidak akan lari sebab secara mental mereka lebih bagus, punya keberanian lebih, hanya caranya salah.
Adapun menghadapi orang liberal atau awam tidak bisa dg cara seperti itu. Jika diumpamakan, harus pakai metode "Elus2 punggung"
Karena jika dikerasi (pakai acara umpat2an lagi) maka mereka akan kabur dan justru menjauh dari kebenaran yg kita sampaikan.
sekedar diketahui, bahwa fenomena banyaknya muslim yg jadi liberal atau malah atheis adalah sebab kesalahan cara penyampaian.
Bahkan ada ulama yg bilang bahwa yg bertanggungjawab atas fenomena ini adalah justru mereka yg mengaku paling beragama (mutadayyin)
Bagaimana orang nggak kabur kalau disalah-salahkan, dikafir2kan? Sementara sejak kecil dia merasa dirinya jg Islam
Maka cara kami adalah menarik tangan yg kabur itu sembari menjewer telinga yg marah2i si kabur tadi. He.. Gini lho yg bener itu.
Dan ini tetap dengan menjaga hati dan moralitas tinggi dan tidak merasa bahwa diri ini paling benar.
Perihal setelah itu kedua kelompok marah2 dan tidak mau dibilangi lagi ya sudah, itu bukan tugas kita. Sudah berbeda kasus lagi.
Dalam istilah S. Ali bin Abi Tholib, "Kun min namathil awsath, yarji'u ilaihil gholi wa yalhaquhu attali".
Dalam berdakwah, jadilah kelompok tengah (moderat), yg jadi tempat kembalinya orang fundamental dan yg diikuti satunya (liberal).
Soal ini Nabi memberi contoh sangat bagus kala ada pemuda yg ingin berzina. Para sahabat sudah mau marah2, tapi sikap Nabi berbeda
Atau saat ada orang desa yang kencing di Masjid, sahabat juga sudah mau ngamuk, namun ditahan Nabi dan beliau memberi contoh elegan
Kalau contoh yg keras saat Nabi membagi hasil rampasan perang dan Nabi dibilang tdk adil, Nabi bentak orang itu.
Jadi semua ada metodenya, dan ini yang dimaksud dg sunnah, yaitu bagaimana cara bersikap Nabi atas sesuatu yg terjadi.
Sepertinya suatu saat perlu aku kultwitkan apa maksud hadits "alaikum bi sunnati wa sunnatil khulafa' arrosyidina min ba'di".
Berpeganglah pada Sunnahku dan sunnah khalifah rasyidah setelahku. Apa maksud kata "sunnah" dalam hadits beliau itu.
Selamat malam, moga menjadi tambahan ilmu sebelum tidur.. Jangan lupa wudhu dan doa sebelum tidur. Salam :)
Kullu syai-in yu'khodzu wa yurodd illa qoulu shohibi hadzal qobr.. Segala sesuatu itu pasti ada pro kontra kecuali sabda Nabi...
Kontradiksi lucu
Seperti yang sering aku sampaikan, bahwa kesalahan dalam tatacara berpikir, kesalahan memahami teks-teks suci syariat...
...itu selalu menimbulkan kontradiksi baik dengan logika maupun dengan kenyataan, sekaligus kontradiksi dalam perilaku orang itu sendiri
... yang membuatnya akan mati kutu jika argumen tidak ilmiahnya mendapat jawaban-jawaban cerdas seperti percakapan berikut ini :
" Jangan melakukan suatu ibadah yang tidak ada contoh dari Rasulullah SAW"
» Ya Kalau begitu jangan dengar Khutbah Jum'at dengan Bahasa Indonesia
" Semua amalan itu tertolak kalau tidak ada contoh dari Rasulullah SAW"
» Kalau begitu jangan lakukan Shalat Tarawih sebulan penuh di masjid
" Islam itu sudah sempurna, tidak perlu di tambah-tambah lagi"
» Kalau begitu, tidak usah banyak bicara. Karena Islam sudah sempurna, dan tidak perlu lagi di tambah ajaran aneh seperti ide salafimu
" Kubah kuburan wali harus di rubuhkan, karena berpotensi syirik disembah".
» Kenapa hanya kubah kuburan saja yg di rubuhkan, sekalian saja tebang semua pohon didunia, ratakan gunung-gunung...
... sumpal goa-goa, timbun laut, karena semuanya juga berpotensi syirik untuk disembah!
" Salam untuk orang yang telah meninggal dunia kepada Nabi tidak akan sampai"
» Kalau begitu saat shalat tidak usah ucapkan "Assalamu 'alaika ayyuhannabiyu warahmatullahi wabarakatuh",karena Rasul telah lama wafat.
" Tassawuf itu ajaran baru, karena Rasulullah SAW tidak pernah menyebut sufi"
» Kalau begitu tidak usah belajar hadits, karena istilah-istilah muhaddits pun Rasulullah SAW tidak pernah sebut...
...Rasul juga tidak pernah menyebut kata Aqidah. apalagi tauhid dibagi tiga (uluhiyyah, rububiyyah, asma' w sifat) emangnya trinitas :p
" Jangan percaya ulama, ulama itu tidak ada yang maksum, dan yang maksum hanya Rasulullah SAW"
» Kalau begitu tidak usah pakai hadits, karena semua hadits di riwayatkan oleh para ulama
" Maulid itu bid'ah, tidak boleh di lakukan"
» Kalau begitu jika anak kamu lahir tidak usah senyum senang, karena itu bagian dari perayaan kelahiran
"Indonesia ini negara thaghut"
» Kalau begitu tidak usah tinggal di Indonesia. Pergi saja sono ke laut :p
" Sistem pemerintahan di Indonesia ini sistem kufur".
» Kamu sendiri kuliah di universitas2, sistem pendidikannya dari mana tuh :p
" Aqidah Asy'ariyyah itu sesat"
» Kalau begitu tidak usah pakai kitab-kitab Ibnu Hajar Al Asqalani yang slalu kalian jadikan referensi utama. Ga usah jg Riyadhussolihin
" Imam Syafi’i itu tidak maksum"
» Apa lagi kamu … Ha ha ha …
Nah bagaimana? bersama belajar introspeksi diri dan membenahi tatacara berpikir kita. Biar nggak tabrakan nggak jelas karepe dewe :p
...itu selalu menimbulkan kontradiksi baik dengan logika maupun dengan kenyataan, sekaligus kontradiksi dalam perilaku orang itu sendiri
... yang membuatnya akan mati kutu jika argumen tidak ilmiahnya mendapat jawaban-jawaban cerdas seperti percakapan berikut ini :
" Jangan melakukan suatu ibadah yang tidak ada contoh dari Rasulullah SAW"
» Ya Kalau begitu jangan dengar Khutbah Jum'at dengan Bahasa Indonesia
" Semua amalan itu tertolak kalau tidak ada contoh dari Rasulullah SAW"
» Kalau begitu jangan lakukan Shalat Tarawih sebulan penuh di masjid
" Islam itu sudah sempurna, tidak perlu di tambah-tambah lagi"
» Kalau begitu, tidak usah banyak bicara. Karena Islam sudah sempurna, dan tidak perlu lagi di tambah ajaran aneh seperti ide salafimu
" Kubah kuburan wali harus di rubuhkan, karena berpotensi syirik disembah".
» Kenapa hanya kubah kuburan saja yg di rubuhkan, sekalian saja tebang semua pohon didunia, ratakan gunung-gunung...
... sumpal goa-goa, timbun laut, karena semuanya juga berpotensi syirik untuk disembah!
" Salam untuk orang yang telah meninggal dunia kepada Nabi tidak akan sampai"
» Kalau begitu saat shalat tidak usah ucapkan "Assalamu 'alaika ayyuhannabiyu warahmatullahi wabarakatuh",karena Rasul telah lama wafat.
" Tassawuf itu ajaran baru, karena Rasulullah SAW tidak pernah menyebut sufi"
» Kalau begitu tidak usah belajar hadits, karena istilah-istilah muhaddits pun Rasulullah SAW tidak pernah sebut...
...Rasul juga tidak pernah menyebut kata Aqidah. apalagi tauhid dibagi tiga (uluhiyyah, rububiyyah, asma' w sifat) emangnya trinitas :p
" Jangan percaya ulama, ulama itu tidak ada yang maksum, dan yang maksum hanya Rasulullah SAW"
» Kalau begitu tidak usah pakai hadits, karena semua hadits di riwayatkan oleh para ulama
" Maulid itu bid'ah, tidak boleh di lakukan"
» Kalau begitu jika anak kamu lahir tidak usah senyum senang, karena itu bagian dari perayaan kelahiran
"Indonesia ini negara thaghut"
» Kalau begitu tidak usah tinggal di Indonesia. Pergi saja sono ke laut :p
" Sistem pemerintahan di Indonesia ini sistem kufur".
» Kamu sendiri kuliah di universitas2, sistem pendidikannya dari mana tuh :p
" Aqidah Asy'ariyyah itu sesat"
» Kalau begitu tidak usah pakai kitab-kitab Ibnu Hajar Al Asqalani yang slalu kalian jadikan referensi utama. Ga usah jg Riyadhussolihin
" Imam Syafi’i itu tidak maksum"
» Apa lagi kamu … Ha ha ha …
Nah bagaimana? bersama belajar introspeksi diri dan membenahi tatacara berpikir kita. Biar nggak tabrakan nggak jelas karepe dewe :p
Memaknai Bulan Rajab
Saat ini dalam penanggalan hijriyyah kita telah berada di penghujung bulan jumad attsaniyah 1434. Artinya sebentar lagi kita masuk Rajab
Setelah Rajab, kita berada di Sya'ban dan masuklah Ramadhan. Allahumma barik lana fi Rajab wa sya'ban wa ballighna Ramadhan, amin
Dan sebagai muslim kita tahu bahwa bulan Rajab adalah satu di antara 4 bulan haram yg sakral (yg 3, dzul qo'dah, dzul hijjah, muharram).
Dan arahan dari Nabi, saat bulan haram ini, kita sebagai muslim dianjurkan menghormatinya dan tidak boleh bertengkar
Namun jika diperhatikan (terutama di dunia maya, di aplikasi2 sosmed), kita menemukan sesuatu yg aneh yg selalu berulang tiap tahun
Ironisnya, hal yang "aneh" itu ternyata malah mengusik kesakralan bulan Rajab ini.
Apalagi kalau bukan karena ulah sebagian orang (yg mungkin saking semangatnya berislam) mencoba mengutak atik ritual2 di bulan Rajab.
Sebelumnya kultwit ini tidak hendak menguatkan atau begitu saja menyalahkan pihak manapun. Tapi ingin mendudukkan masalah pd tempatnya
Saat Rajab gini, pasti kita menemukan banyak sekali tulisan2 yg saling bertolak belakang. Dan ujung2nya saling serang. Lagi2 tengkar!
Tulisan pertama banyak mengunggah berbagai macam amalan dengan hadits2 yg cukup asing seputar bulan Rajab. Bahkan ada jg yg palsu.
Amalan cukup umum yg dianjurkan di tulisan pertama ini perihal kesunnahan berpuasa di bulan Rajab.
Tulisan kedua, sebaliknya, langsung begitu saja marah2 dan menyesat2kan yang melakukan bermacam amalan di Rajab, tanpa riset dulu.
Tentu saja yg pro tulisan pertama tidak terima begitu saja amalannya disalah2kan oleh yg pro tulisan kedua.
Tulisan keduapun lagi2 selalu pakai argumen basi. "Ini tidak dilakukan Nabi", "kullu bid'atin dholalah", "man ahdatsa fi amrina"... Dll
Padahal dalil yg mereka pakai untuk menyalahkan yg pertama adalah dalil salah alamat. Jadinya malah ribut.
Yang pertama juga gitu, keukeuh berpegang pada hadits2 wow (yg ada tanggalannya mulai 1-30). Sementara status hadits itu tidak jelas.
Sebenarnya, tidak perlulah tengkar debat kusir seperti itu. Semestinya ingat bahwa ini bulan Rajab, tak elok tengkar2 di Rajab.
Perihal amalan, andai tidak pakai dalil khusus pun sebenarnya tidak masalah, sebab masih cukup banyak dalil umum.
Kayak puasa sunnah, kan bisa kapan saja tanpa harus terikat oleh bulan. Hanya saja jika dilakukan di Rajab, ada nilai plus tersendiri.
Tentu saja nilai plusnya adalah bulan haram itu. So, sangat bagus sekali jika bisa berpuasa sunnah di bulan semisal rajab ini.
Yang tulisan kedua juga begitu, kenapa mesti pakai bid'ah2an segala jika yg berpuasa di bulan rajab itu punya dalil umum?
Dan kenapa juga harus menghalangi orang yang mau berbuat baik dg ditakut2i pakai argumen tdk nyambung "ini tdk dilakukan Nabi"?
So, selama ada dalil umum, tak perlulah melarang2 orang mau beribadah. Lagipula juga sunnah, kamu tdk melakukan pun tidak apa2
Dan bagi yg ingin beramal baik di bulan Rajab, biasakan jg memakai dalil2 yg shahih biar tdak diusili oleh orang2 yg mau ganggu ibadahmu
Maka mumpung Rajab, yg kata Nabi ini bulannya beliau, saatnya berlomba berbuat kebaikan, apapun jenisnya. Fastabiqul khoirot.
Jangan malah bertengkar. Udah nggak dapat pahala, masih diketawain lagi oleh mereka yg ingin kita pecah dalam hal apapun.
Mari istighfar sejenak bersama, menyambut datangnya bulan istighfar, bulan rajab... Astaghfirullah al-adzim
Setelah Rajab, kita berada di Sya'ban dan masuklah Ramadhan. Allahumma barik lana fi Rajab wa sya'ban wa ballighna Ramadhan, amin
Dan sebagai muslim kita tahu bahwa bulan Rajab adalah satu di antara 4 bulan haram yg sakral (yg 3, dzul qo'dah, dzul hijjah, muharram).
Dan arahan dari Nabi, saat bulan haram ini, kita sebagai muslim dianjurkan menghormatinya dan tidak boleh bertengkar
Namun jika diperhatikan (terutama di dunia maya, di aplikasi2 sosmed), kita menemukan sesuatu yg aneh yg selalu berulang tiap tahun
Ironisnya, hal yang "aneh" itu ternyata malah mengusik kesakralan bulan Rajab ini.
Apalagi kalau bukan karena ulah sebagian orang (yg mungkin saking semangatnya berislam) mencoba mengutak atik ritual2 di bulan Rajab.
Sebelumnya kultwit ini tidak hendak menguatkan atau begitu saja menyalahkan pihak manapun. Tapi ingin mendudukkan masalah pd tempatnya
Saat Rajab gini, pasti kita menemukan banyak sekali tulisan2 yg saling bertolak belakang. Dan ujung2nya saling serang. Lagi2 tengkar!
Tulisan pertama banyak mengunggah berbagai macam amalan dengan hadits2 yg cukup asing seputar bulan Rajab. Bahkan ada jg yg palsu.
Amalan cukup umum yg dianjurkan di tulisan pertama ini perihal kesunnahan berpuasa di bulan Rajab.
Tulisan kedua, sebaliknya, langsung begitu saja marah2 dan menyesat2kan yang melakukan bermacam amalan di Rajab, tanpa riset dulu.
Tentu saja yg pro tulisan pertama tidak terima begitu saja amalannya disalah2kan oleh yg pro tulisan kedua.
Tulisan keduapun lagi2 selalu pakai argumen basi. "Ini tidak dilakukan Nabi", "kullu bid'atin dholalah", "man ahdatsa fi amrina"... Dll
Padahal dalil yg mereka pakai untuk menyalahkan yg pertama adalah dalil salah alamat. Jadinya malah ribut.
Yang pertama juga gitu, keukeuh berpegang pada hadits2 wow (yg ada tanggalannya mulai 1-30). Sementara status hadits itu tidak jelas.
Sebenarnya, tidak perlulah tengkar debat kusir seperti itu. Semestinya ingat bahwa ini bulan Rajab, tak elok tengkar2 di Rajab.
Perihal amalan, andai tidak pakai dalil khusus pun sebenarnya tidak masalah, sebab masih cukup banyak dalil umum.
Kayak puasa sunnah, kan bisa kapan saja tanpa harus terikat oleh bulan. Hanya saja jika dilakukan di Rajab, ada nilai plus tersendiri.
Tentu saja nilai plusnya adalah bulan haram itu. So, sangat bagus sekali jika bisa berpuasa sunnah di bulan semisal rajab ini.
Yang tulisan kedua juga begitu, kenapa mesti pakai bid'ah2an segala jika yg berpuasa di bulan rajab itu punya dalil umum?
Dan kenapa juga harus menghalangi orang yang mau berbuat baik dg ditakut2i pakai argumen tdk nyambung "ini tdk dilakukan Nabi"?
So, selama ada dalil umum, tak perlulah melarang2 orang mau beribadah. Lagipula juga sunnah, kamu tdk melakukan pun tidak apa2
Dan bagi yg ingin beramal baik di bulan Rajab, biasakan jg memakai dalil2 yg shahih biar tdak diusili oleh orang2 yg mau ganggu ibadahmu
Maka mumpung Rajab, yg kata Nabi ini bulannya beliau, saatnya berlomba berbuat kebaikan, apapun jenisnya. Fastabiqul khoirot.
Jangan malah bertengkar. Udah nggak dapat pahala, masih diketawain lagi oleh mereka yg ingin kita pecah dalam hal apapun.
Mari istighfar sejenak bersama, menyambut datangnya bulan istighfar, bulan rajab... Astaghfirullah al-adzim
Siapakah Assawad al-A'dzom?
Ummat Islam ini tidak mungkin bisa disatukan, tetapi bisa diselaraskan.
Ummatan wahidah (ummat yg satu) memang iya, tetapi wihdatul ummah (kesatuan ummat) sesuatu yg tidak mungkin. Menunggu Mahdi.
Maka perpecahan ummat ini sebenarnya kepastian. Sebab Allah Ta'ala Menghendaki hal ini, dan Nabi telah menerima pemberitahuan soal hal ini
Yang bisa kita lakukan adalah bukan menghilangkan perpecahan itu, tetapi meminimalisirnya.
Dan arahan Nabi soal ini adalah ikuti kelompok mayoritas dan hindari kelompok minoritas yg selalu punya ciri khas mengajak pada perpecahan
Kelompok minoritas di manapun (dg berbagai jenis pemikiran atau ideologi apapun) selalu mempunyai ciri menyalahkan yg mayoritas
Dan ciri lain mereka dalam menyalahkan adalah selalu dg cara yang tidak pernah santun... Dan jauh dari adab.
Alaikum bis sawad al-a'dzom... Ikuti kelompok mayoritas... Saat ini kelompok mayoritas ini mempunyai ciri khas yg sama di manapun.
Dan ciri khas kelompok mayoritas ini berbentuk perayaan maulid pada momen kelahiran Nabi yg mereka cintai dan kegemaran mereka ziarah kubur
Fakta yg tidak bisa ditolak dan dipungkiri.. Ikuti kelompok mayoritas jika ingin selamat, jangan terpukau dg kata2 manis minoritas
Meski mereka pakai dalil apapun,sebab pada faktanya segenap dalil kelompok2 minoritas slalu mengalami kontradiksi dg perilaku mereka sendiri
Sementara dalil2 suci dalam al-Qur'an dan Assunnah tdk pernah mengalami kontradiksi apapun baik dg logika atau dg kenyataan mayoritas yg ada
Mungkin ada yg bertanya, kenapa ummat ini dikehendaki tidak bersatu? Bahkan saling bunuh? Jawabannya sederhana: sebagai ladang amal.
Sebagai sarana untuk berlomba mengajak kepada kebaikan dan memberikan tantangan pada ummat untuk berbuat yg terbaik.
Nabi pernah berdoa kepada Allah meminta 3 hal; 2 dikabulkan dan 1 tidak. Yg tidak dikabulkan adl saat meminta agar ummatnya tdk pecah belah
Juga sebagai hikmah ilahiyyah untuk menentukan peringkat kita di surga nanti. Karena surga bertingkat2. Ditempati sesuai amal masing2..
Makanya kemarin aku katakan bahwa ummat ini bisa bersatu jika maulid Nabinya sendiri tidak lagi diributkan.
Selama segala hal tentang Nabinya (apa saja) masih ada yg meributkan, maka jangan pernah berharap ummat ini bersatu. Inti utama pada Nabi
Maka sejatinya kelompok2 minoritas dalam tubuh ummat ini adalah masalah, meski mereka mempropagandakan dirinya sebagai solusi...
Catatan, konteks minoritas dan mayoritas ummat ini bukan skala negara. Tetapi skala ummat berjumlah 1 milyar 300 juta. Secara global
Dan kelompok mayoritas ummat ini adalah mereka yg cinta damai, ketenangan dan tidak suka bakar2, rusak2 apalagi bunuh2 dan bom2an
Kelompok mayoritas ummat ini juga yg selalu berjalan lurus saja, tidak suka mengangkat tulisan2 yg potensi fitnah dan polemik.
Ummatan wahidah (ummat yg satu) memang iya, tetapi wihdatul ummah (kesatuan ummat) sesuatu yg tidak mungkin. Menunggu Mahdi.
Maka perpecahan ummat ini sebenarnya kepastian. Sebab Allah Ta'ala Menghendaki hal ini, dan Nabi telah menerima pemberitahuan soal hal ini
Yang bisa kita lakukan adalah bukan menghilangkan perpecahan itu, tetapi meminimalisirnya.
Dan arahan Nabi soal ini adalah ikuti kelompok mayoritas dan hindari kelompok minoritas yg selalu punya ciri khas mengajak pada perpecahan
Kelompok minoritas di manapun (dg berbagai jenis pemikiran atau ideologi apapun) selalu mempunyai ciri menyalahkan yg mayoritas
Dan ciri lain mereka dalam menyalahkan adalah selalu dg cara yang tidak pernah santun... Dan jauh dari adab.
Alaikum bis sawad al-a'dzom... Ikuti kelompok mayoritas... Saat ini kelompok mayoritas ini mempunyai ciri khas yg sama di manapun.
Dan ciri khas kelompok mayoritas ini berbentuk perayaan maulid pada momen kelahiran Nabi yg mereka cintai dan kegemaran mereka ziarah kubur
Fakta yg tidak bisa ditolak dan dipungkiri.. Ikuti kelompok mayoritas jika ingin selamat, jangan terpukau dg kata2 manis minoritas
Meski mereka pakai dalil apapun,sebab pada faktanya segenap dalil kelompok2 minoritas slalu mengalami kontradiksi dg perilaku mereka sendiri
Sementara dalil2 suci dalam al-Qur'an dan Assunnah tdk pernah mengalami kontradiksi apapun baik dg logika atau dg kenyataan mayoritas yg ada
Mungkin ada yg bertanya, kenapa ummat ini dikehendaki tidak bersatu? Bahkan saling bunuh? Jawabannya sederhana: sebagai ladang amal.
Sebagai sarana untuk berlomba mengajak kepada kebaikan dan memberikan tantangan pada ummat untuk berbuat yg terbaik.
Nabi pernah berdoa kepada Allah meminta 3 hal; 2 dikabulkan dan 1 tidak. Yg tidak dikabulkan adl saat meminta agar ummatnya tdk pecah belah
Juga sebagai hikmah ilahiyyah untuk menentukan peringkat kita di surga nanti. Karena surga bertingkat2. Ditempati sesuai amal masing2..
Makanya kemarin aku katakan bahwa ummat ini bisa bersatu jika maulid Nabinya sendiri tidak lagi diributkan.
Selama segala hal tentang Nabinya (apa saja) masih ada yg meributkan, maka jangan pernah berharap ummat ini bersatu. Inti utama pada Nabi
Maka sejatinya kelompok2 minoritas dalam tubuh ummat ini adalah masalah, meski mereka mempropagandakan dirinya sebagai solusi...
Catatan, konteks minoritas dan mayoritas ummat ini bukan skala negara. Tetapi skala ummat berjumlah 1 milyar 300 juta. Secara global
Dan kelompok mayoritas ummat ini adalah mereka yg cinta damai, ketenangan dan tidak suka bakar2, rusak2 apalagi bunuh2 dan bom2an
Kelompok mayoritas ummat ini juga yg selalu berjalan lurus saja, tidak suka mengangkat tulisan2 yg potensi fitnah dan polemik.
1 Feb 2014
Konfirmasi Atas Informasi
Bisa dibilang, bahwa kesalahan umum yg banyak dialami bangsa ini adl terlalu cepat bereaksi atas suatu informasi tanpa cek kevalidannya
Sehingga akhirnya yg terjadi tentu saja kekacauan (jika informasinya negatif) dan kekaguman berlebihan (jika informasinya positif).
Kalau positif sih mending, keadaan pasti aman terkendali. Kalau negatif? Pasti yg trjadi adl fitnah bahkan bisa berlarut & berkepanjangan
Padahal arahan syariah semestinya saat kita menerima suatu informasi, apapun itu, kita jangan seketika itu berkomentar. Apalagi reaksi
Kita harus memastikan validitas kabar itu, dari mana, siapa yg bawa, agar kita tidak terjebak pada hal2 yg nantinya membuat sesal saja
Kaidah kehidupan terbesar dan paling dasar soal itu adalah tentu saja Al-Qur'an 49:6
Bahwa jika ada suatu informasi datang kepadamu, pastikan kebenarannya terlebih dahulu.Siapapun yg bawa. Apalagi kalau yg bawa orang fasiq
Kekacauan dan pertengkaran yg sering kita lihat di sosmed juga dunia nyata saat ini adalah disebabkan cepatnya respon dan reaksi itu
Belum lagi memang di sana ada pihak yg ingin memancing keributan dg sengaja mensetting kekacauan itu (faudho khollaqoh).
Padahal segala kekacauan jika tidak jelas mana yg benar dan mana yg salah, dua kelompok saling tuding, itu artinya terjadi fitnah.
Dan sikap terbaik kita saat terjadi fitnah (sebagaimana yg diajarkan syariah) adalah menepi.. Cukup jadi penonton.
Karena fitnah itu tidak pandang bulu, memakan siapa saja, yg paling sholeh dan yg paling preman sekaligus
Dalam peribahasa Arab dikatakan bahwa "Al-khobar kal ghubar", berita/informasi itu seperti debu.
Nah filosofinya, jika debu itu tertiup angin dan masuk mata, maka pasti membuat kelilipan, atau masuk hidung pasti membuat alergi
Artinya, kabar/informasi yg tidak jelas itu pasti mengganggu.
Dalam suatu hadits dikatakan bahwa kehancuran ummat ini ada pada 3 hal: meributkan takdir, fanatisme buta dan ...
. ... Tidak memastikan kebenaran dalam memforward suatu informasi/berita (adamut tatsabbut fir riwayah)
Sebab ketiga hal tadi sangat jelas sekali ujungnya menimbulkan pertikaian. Masih untung kalau cuma adu mulut, kalau bunuh2an?
Maka tentu dalam hal ini yg kita harus hati2 dalam bersikap adalah media. Apalagi jika sudah bersangkut paut dengan politik.
Ada jg hal lain yg kita mesti ekstra hati2, infotainment. Terutama jika topik beritanya adl perselingkuhan. Usahakan jaga mulut di sini.
Karena jika tidak berhati2, justru seseorang bisa terjebak dlm beberapa dosa besar sekaligus. Tanpa ia sadari. Tahu2 rekening dosa penuh
Pertama, ghibah (nggosip). Oke mungkin kita berdalih tdk terlibat pembicaraan on air. Tapi dg mendengar saja sudah tercatat dosa.
Kedua, yg rawan, jika perselingkuhan itu gosipnya mengarah ke perzinahan, sementara pemirsa langsung menjudge dan mengolok2 pelaku
Kalaupun bener zina, apa hak dia mengolok pelaku zina itu? Bahkan Nabi mewarning, jika seseorang mengolok saudaranya yg melakukan dosa..
..maka dia tidak akan mati sampai melakukan dosa itu sendiri. Nah kan? Hukum karma yg seram.
Dan kalau ternyata dia tidak terbukti zina, maka si komentator ini terjebak dalam Qodhf, menuduh orang yg tidak zina dg berzina.
Dan Qodhf sendiri adalah satu di antara 7 daftar dosa besar yang menghancurkan pelaku sekaligus seluruh amalnya.
Dalam hukum pidana syariah, semestinya orang yg melakukan Qodhf ini digebug 80x
Jika dipikir2, banyak bencana dan kekacauan yg dialami bangsa kita ini bisa jadi dari dosa kolektif semacam ini.
Bersumber dari ketiadaan ricek atas akurasi suatu informasi. Apalagi kalau informasinya sengaja dipotong sana-sini. Pemlintiran berita.
Bagi yg mempelajari Fiqh Tahawwulat (ilmu syariaj yg mempelajari dan menganalisa tanda2 zaman), fenomena ini masuk kategori..
.. Alamat Qiyamah Sughro, atau tanda umum dekatnya hari kehancuran. Istilahnya "al-Lakhbathoh fil i'lam", kekacauan informasi.
Akhirnya, sikap terpenting yg harus kita lakukan dalam keseharian kita adalah memastikan terlebih dulu kebenaran suatu informasi.
Pelajari baik2 satu persatu, jangan cepat merespon atau bereaksi sementara objek/informasi yg kita terima tak sepenuhnya dipahami.
Akhir twit, kata temanku, "berita2 tu ndak ada yg bener, hoax semua,yg bener cuma berita olahraga doang, 1-0 ya 1-0, nggak mungkin 10-0"
Sehingga akhirnya yg terjadi tentu saja kekacauan (jika informasinya negatif) dan kekaguman berlebihan (jika informasinya positif).
Kalau positif sih mending, keadaan pasti aman terkendali. Kalau negatif? Pasti yg trjadi adl fitnah bahkan bisa berlarut & berkepanjangan
Padahal arahan syariah semestinya saat kita menerima suatu informasi, apapun itu, kita jangan seketika itu berkomentar. Apalagi reaksi
Kita harus memastikan validitas kabar itu, dari mana, siapa yg bawa, agar kita tidak terjebak pada hal2 yg nantinya membuat sesal saja
Kaidah kehidupan terbesar dan paling dasar soal itu adalah tentu saja Al-Qur'an 49:6
Bahwa jika ada suatu informasi datang kepadamu, pastikan kebenarannya terlebih dahulu.Siapapun yg bawa. Apalagi kalau yg bawa orang fasiq
Kekacauan dan pertengkaran yg sering kita lihat di sosmed juga dunia nyata saat ini adalah disebabkan cepatnya respon dan reaksi itu
Belum lagi memang di sana ada pihak yg ingin memancing keributan dg sengaja mensetting kekacauan itu (faudho khollaqoh).
Padahal segala kekacauan jika tidak jelas mana yg benar dan mana yg salah, dua kelompok saling tuding, itu artinya terjadi fitnah.
Dan sikap terbaik kita saat terjadi fitnah (sebagaimana yg diajarkan syariah) adalah menepi.. Cukup jadi penonton.
Karena fitnah itu tidak pandang bulu, memakan siapa saja, yg paling sholeh dan yg paling preman sekaligus
Dalam peribahasa Arab dikatakan bahwa "Al-khobar kal ghubar", berita/informasi itu seperti debu.
Nah filosofinya, jika debu itu tertiup angin dan masuk mata, maka pasti membuat kelilipan, atau masuk hidung pasti membuat alergi
Artinya, kabar/informasi yg tidak jelas itu pasti mengganggu.
Dalam suatu hadits dikatakan bahwa kehancuran ummat ini ada pada 3 hal: meributkan takdir, fanatisme buta dan ...
. ... Tidak memastikan kebenaran dalam memforward suatu informasi/berita (adamut tatsabbut fir riwayah)
Sebab ketiga hal tadi sangat jelas sekali ujungnya menimbulkan pertikaian. Masih untung kalau cuma adu mulut, kalau bunuh2an?
Maka tentu dalam hal ini yg kita harus hati2 dalam bersikap adalah media. Apalagi jika sudah bersangkut paut dengan politik.
Ada jg hal lain yg kita mesti ekstra hati2, infotainment. Terutama jika topik beritanya adl perselingkuhan. Usahakan jaga mulut di sini.
Karena jika tidak berhati2, justru seseorang bisa terjebak dlm beberapa dosa besar sekaligus. Tanpa ia sadari. Tahu2 rekening dosa penuh
Pertama, ghibah (nggosip). Oke mungkin kita berdalih tdk terlibat pembicaraan on air. Tapi dg mendengar saja sudah tercatat dosa.
Kedua, yg rawan, jika perselingkuhan itu gosipnya mengarah ke perzinahan, sementara pemirsa langsung menjudge dan mengolok2 pelaku
Kalaupun bener zina, apa hak dia mengolok pelaku zina itu? Bahkan Nabi mewarning, jika seseorang mengolok saudaranya yg melakukan dosa..
..maka dia tidak akan mati sampai melakukan dosa itu sendiri. Nah kan? Hukum karma yg seram.
Dan kalau ternyata dia tidak terbukti zina, maka si komentator ini terjebak dalam Qodhf, menuduh orang yg tidak zina dg berzina.
Dan Qodhf sendiri adalah satu di antara 7 daftar dosa besar yang menghancurkan pelaku sekaligus seluruh amalnya.
Dalam hukum pidana syariah, semestinya orang yg melakukan Qodhf ini digebug 80x
Jika dipikir2, banyak bencana dan kekacauan yg dialami bangsa kita ini bisa jadi dari dosa kolektif semacam ini.
Bersumber dari ketiadaan ricek atas akurasi suatu informasi. Apalagi kalau informasinya sengaja dipotong sana-sini. Pemlintiran berita.
Bagi yg mempelajari Fiqh Tahawwulat (ilmu syariaj yg mempelajari dan menganalisa tanda2 zaman), fenomena ini masuk kategori..
.. Alamat Qiyamah Sughro, atau tanda umum dekatnya hari kehancuran. Istilahnya "al-Lakhbathoh fil i'lam", kekacauan informasi.
Akhirnya, sikap terpenting yg harus kita lakukan dalam keseharian kita adalah memastikan terlebih dulu kebenaran suatu informasi.
Pelajari baik2 satu persatu, jangan cepat merespon atau bereaksi sementara objek/informasi yg kita terima tak sepenuhnya dipahami.
Akhir twit, kata temanku, "berita2 tu ndak ada yg bener, hoax semua,yg bener cuma berita olahraga doang, 1-0 ya 1-0, nggak mungkin 10-0"
Membahas Soal Ijma, Jumhur Dan Pendapat Mayoritas
Beberapa kali dalam kultwitku aku membahas suatu topik sembari menyebut kata "Mayoritas".
Semisal suara mayoritas (voice majority, Jumhur) kala membahas madzhab fiqih, atau kelompok mayoritas (assawad al-a'dzom) soal tasawwuf
Yg membuatku sedikit terkejut adalah pernyataan bahwa "mayoritas belum tentu benar", atau "suara mayoritas tidak mewakili kebenaran".
Kalimat ini, bisa jadi benar. Namun bagi pemerhati bahasa,kalimat ini masih sangat nisbi sekali,jadi harus dijelaskan mayoritas yg gmana?
Sebelumnya yg harus tweep ketahui, jika aku sebut kata mayoritas (yg aku nukilkan dari referensi2 valid), maka harus dipaham bahwa...
...mayoritas di sini adalah mayoritas ummat ini secara global sedunia, bukan mayoritas di suatu negara saja, atau mayoritas ummat lain.
Maka kata "mayoritas belum tentu benar", atau "suara mayoritas (ummat islam sedunia) belum tentu benar", jika digunakan sbagai argumen..
... Untuk menyalahkan mayoritas dalam ummat ini (secara global), maka tentu saja salah dan tidak benar.
Karena suara mayoritas ummat ini telah mendapatkan jaminan perlindungan dari syariat (hasonah/ishmah syar'iyyah)
Dan itu terdapat dalam Qur'an 4:115 dan hadits Nabi yg berbunyi "laa tajtami'u ummati ala dholalah". (HR. Tirmidzy).
Bahwa mayoritas ummatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan. Di hadits lain ada tambahan, Yadullah ma'al jamaah..
Bahwa perlindungan dan rahmat Allah terdapat dalam kebersamaan. Makanya di hadits lain Nabi bilang "alaikum bis sawad al-a'dzom".
Arti bebasnya, ikut kelompok mayoritas dalam ummat ini, jangan yg minoritas, dilempar ke neraka nanti (man syaddza syuddza fin nar)
Maka jika ada kelompok minoritas (yg kecenderungannya selalu membuat pecah, suka geger, suka menyalahkan), apapun jenis minoritas itu..
..menggunakan argumen "mayoritas belum tentu benar", untuk menyalahkan kelompok mayoritas dalam ummat ini...
...artinya dia melakukan kesalahan dalam beberapa hal sekaligus; pertama dia menabrak ayat dan hadits yg menjamin suara mayoritas ummat
Kedua, jelas sekali bahwa banyak hadits2 dan ayat penting yg tidak dipahami dg baik olehnya (gitu ngajaknya kembali ke qur'an & sunnah)
Ketiga, sangat jelas dia tidak paham Ushul fiqh (khususnya bab Ijma'), dan jelas sekali dia tidak paham ilmu Fiqh Tahawwulat
Maka tentu saja jika argumen itu digunakan untuk menjegal dalil2 mayoritas, sejak awal telah tertolak secara ilmiah.
Sayangnya argumen2 palsu ini (termasuk argumen "ini tidak dilakukan Nabi") begitu gencar diracunkan pada tatacara berpikir ummat.
Akhirnya tentu yg timbul adalah perpecahan dan kekacauan, belum lagi dalil salah tempat yg mereka pakai semisal hadits "Ghuroba' "..
Gimana tweeps? Sangat teknis sekali ya? Tapi ini harus dipahami dg baik sebab banyak hal2 pemicu keraguan yg saat ini ditebar di mana2
Maka perisai dan senjata ilmu adalah segalanya. Atau kalau tidak punya, ikuti saja ulama2/kyai tua di tempatmu..
Mereka itu dari generasi yg masih belum ada kekacaubalauan informasi seperti saat ini. Meski dibilang jadul, paling selamat ikut mereka.
Moga mencerahkan... Selamat malam..
Semisal suara mayoritas (voice majority, Jumhur) kala membahas madzhab fiqih, atau kelompok mayoritas (assawad al-a'dzom) soal tasawwuf
Yg membuatku sedikit terkejut adalah pernyataan bahwa "mayoritas belum tentu benar", atau "suara mayoritas tidak mewakili kebenaran".
Kalimat ini, bisa jadi benar. Namun bagi pemerhati bahasa,kalimat ini masih sangat nisbi sekali,jadi harus dijelaskan mayoritas yg gmana?
Sebelumnya yg harus tweep ketahui, jika aku sebut kata mayoritas (yg aku nukilkan dari referensi2 valid), maka harus dipaham bahwa...
...mayoritas di sini adalah mayoritas ummat ini secara global sedunia, bukan mayoritas di suatu negara saja, atau mayoritas ummat lain.
Maka kata "mayoritas belum tentu benar", atau "suara mayoritas (ummat islam sedunia) belum tentu benar", jika digunakan sbagai argumen..
... Untuk menyalahkan mayoritas dalam ummat ini (secara global), maka tentu saja salah dan tidak benar.
Karena suara mayoritas ummat ini telah mendapatkan jaminan perlindungan dari syariat (hasonah/ishmah syar'iyyah)
Dan itu terdapat dalam Qur'an 4:115 dan hadits Nabi yg berbunyi "laa tajtami'u ummati ala dholalah". (HR. Tirmidzy).
Bahwa mayoritas ummatku tidak akan berkumpul dalam kesesatan. Di hadits lain ada tambahan, Yadullah ma'al jamaah..
Bahwa perlindungan dan rahmat Allah terdapat dalam kebersamaan. Makanya di hadits lain Nabi bilang "alaikum bis sawad al-a'dzom".
Arti bebasnya, ikut kelompok mayoritas dalam ummat ini, jangan yg minoritas, dilempar ke neraka nanti (man syaddza syuddza fin nar)
Maka jika ada kelompok minoritas (yg kecenderungannya selalu membuat pecah, suka geger, suka menyalahkan), apapun jenis minoritas itu..
..menggunakan argumen "mayoritas belum tentu benar", untuk menyalahkan kelompok mayoritas dalam ummat ini...
...artinya dia melakukan kesalahan dalam beberapa hal sekaligus; pertama dia menabrak ayat dan hadits yg menjamin suara mayoritas ummat
Kedua, jelas sekali bahwa banyak hadits2 dan ayat penting yg tidak dipahami dg baik olehnya (gitu ngajaknya kembali ke qur'an & sunnah)
Ketiga, sangat jelas dia tidak paham Ushul fiqh (khususnya bab Ijma'), dan jelas sekali dia tidak paham ilmu Fiqh Tahawwulat
Maka tentu saja jika argumen itu digunakan untuk menjegal dalil2 mayoritas, sejak awal telah tertolak secara ilmiah.
Sayangnya argumen2 palsu ini (termasuk argumen "ini tidak dilakukan Nabi") begitu gencar diracunkan pada tatacara berpikir ummat.
Akhirnya tentu yg timbul adalah perpecahan dan kekacauan, belum lagi dalil salah tempat yg mereka pakai semisal hadits "Ghuroba' "..
Gimana tweeps? Sangat teknis sekali ya? Tapi ini harus dipahami dg baik sebab banyak hal2 pemicu keraguan yg saat ini ditebar di mana2
Maka perisai dan senjata ilmu adalah segalanya. Atau kalau tidak punya, ikuti saja ulama2/kyai tua di tempatmu..
Mereka itu dari generasi yg masih belum ada kekacaubalauan informasi seperti saat ini. Meski dibilang jadul, paling selamat ikut mereka.
Moga mencerahkan... Selamat malam..
Mengenang Mbah Surip (Sebuah Dialog Imanjiner)
Suatu hari, pada Agustus 2009, seseorang tampak bersedih atas kematian seniman yang sedang naik daun, musiknya sedang booming di mana2
apalagi yang judulnya "Tak Gendong Ke Mana-Mana".
Namun kesedihan itu sedikit terusik ketika seseorang melihatnya dan mempertanyakan hal yang sedang disedihkannya itu.
"Kamu sedih ya atas matinya Mbah Surip?" Tanya orang yang baru datang tadi. "Iya." Jawabnya
"Bagaimana kamu bersedih atas orang yang hidupnya selalu berkubang dalam dosa, pergaulannya kayak gitu?" Kejar orang tadi.
Sejenak dia terdiam lalu menjawab, "Suatu hari saat Nabi sedang berbincang dg sahabatnya, tiba2 ada serombongan pengusung jenazah lewat..
. ..Nabi segera berdiri menghormati jenazah itu. Sementara para sahabat tetap duduk sambil bilang, "Ya Rasul, itu jenazahnya orang Yahudi."
Rasul membalas, "Bukannya dia manusia?". Nah, aku jawab pertanyaanmu, bukankah Mbah Surip juga manusia?"
" Kamu tahu nggak? Mereka itu, para artis itu, seniman itu, semuanya ke Neraka!" Kata orang tadi ketus.
" Hah? A'udzubillah, apakah kamu sudah berani berkata mendahului Allah? Apa kamu tidak tahu Rasul pernah bercerita...
. .. bahwa konon ada orang bilang: Demi Allah, Allah tidak akan Mengampuni orang itu!" Kemudian Allah Membalas: ...
" Siapa yang berani bersumpah mendahului-Ku bahwa aku tidak akan Memaafkan seseorang, maka -ketahui- bahwa Aku telah ampuni orang itu..
... dan Aku gugurkan semua pahala amalmu!". Hati-hati dengan kata-katamu yang bisa menggugurkan pahala amalmu sendiri."
"Bagaimana mungkin Allah Mengampuni orang seperti mereka yang sudah tersesat masih menyesatkan lagi?" Masih saja dia bersikukuh.
" Allah Mengampuni siapapun Yang dikehendaki-Nya, Dia Kuasa atas segala sesuatu, Dia Maha Pengampun Penyayang Pengasih...
. ... Melakukan apapun yang dikehendaki. Lagipula kamu apa tahu dan apa bersama dia saat dia terbaring sakit? Siapa tahu dia bertaubat...
... yang justru karena taubat itu dosanya diampuni Allah semua. Siapa tahu juga dia diam-diam punya perbuatan baik...
.. yang bisa menolongnya di alam baka sana. Kamu tahu kan bgaimana kisah seorang PSK yg dosanya diampuni Allah sbb mmberi minum anjing?"
"Ah, kamu ini, sudah, cukup, nanti semua orang bisa saja seenaknya bilang kalau mereka melakukan dosa dan Allah Maha Pengampun."
"Siapa yg bilang gitu,kita mesti mmbedakan antara interaksi seorang pendosa dg Tuhannya, & interaksi seorang pendosa dg manusia lainnya.
. .. Seorang pendosa sudah semestinya mencela dirinya sendiri dan menyesali perbuatannya sepanjang waktu,..
adapun sikap orang lain terhadap orang yang berbuat dosa adalah mengasihani, mendekati, memberi perhatian agar dia sadar dari salahnya..
.. Bukan malah mencelanya. Seperti halnya Nabi tetap berinteraksi sosial dengan orang-orang yang salah dan banyak dosa..
bukankah pernah datang pada beliau seorang pemabuk, lantas ada sahabat yang melaknatnya, apa yang dibilang Nabi?
"Jangan laknat dia, sesungguhnya dia Cinta Allah, Cinta Nabi-Nya". Nah bgaimana Nabi bisa bilang pemabuk itu Cinta Allah, Cinta beliau?
.. Coba renungkan, ambil hikmah dibalik sikap Nabi itu. Jangan hanya mencontoh beliau dalam soal merawat jenggot sama pakai jubah saja..
.. tapi contoh juga bagaimana kasih sayang beliau, akhlak beliau, dan bagaimana cara beliau berinteraksi dengan makhluk Allah." Urainya
" Loh, kamu menghina jenggot saya ya?" si pengkritik tadi nampaknya tersinggung dg kata jenggot
" Siapa yg hina jenggotmu? Jangan sampai kita menghina sunnah Nabi. Tapi aku bilang, semestinya kamu mengikuti Nabi dlm keseluruhannya..
... tidak cuma penampilan saja, jenggot, bawahan cingkrang, sehingga malah membuatmu lupa dari hal-hal batin".
" Memelihara jenggot itu wajib, bukan sunnah!" orang itu tampaknya marah, topiknya udah beralih.
" Mas, aku tahu ia wajib, dan meski seperti itu tema bahasan kita saat ini bukan jenggot, tapi lebih dari itu."..
"Kamu kira dalam syariat ini ada hal sekunder yang tidak penting ya?!" Orang tadi semakin muntab.
" Laa haula wa laa quwwata illa billah, kayaknya Mas ini memang nggak ingin diskusi ya? Maunya debat dan tengkar melulu...
.. Maaf, aku undur diri dulu, tampak jelas sekali perbedaan prioritas prinsip masing-masing dari kita. Sampai jumpa di waktu mendatang".
" Justru saya yang semestinya pamit, nggak pantas saya berbicara dengan orang berdagu plontos kayak kamu ini!" Balas orang tadi ketus.
"Oke, Jazakumullah." Dan percakapan itu berakhir begitu saja.
[ Dialog fiktif ] ... Ya Allah, ampuni seluruh kaum muslimin dan muslimat, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Penyayang ...
apalagi yang judulnya "Tak Gendong Ke Mana-Mana".
Namun kesedihan itu sedikit terusik ketika seseorang melihatnya dan mempertanyakan hal yang sedang disedihkannya itu.
"Kamu sedih ya atas matinya Mbah Surip?" Tanya orang yang baru datang tadi. "Iya." Jawabnya
"Bagaimana kamu bersedih atas orang yang hidupnya selalu berkubang dalam dosa, pergaulannya kayak gitu?" Kejar orang tadi.
Sejenak dia terdiam lalu menjawab, "Suatu hari saat Nabi sedang berbincang dg sahabatnya, tiba2 ada serombongan pengusung jenazah lewat..
. ..Nabi segera berdiri menghormati jenazah itu. Sementara para sahabat tetap duduk sambil bilang, "Ya Rasul, itu jenazahnya orang Yahudi."
Rasul membalas, "Bukannya dia manusia?". Nah, aku jawab pertanyaanmu, bukankah Mbah Surip juga manusia?"
" Kamu tahu nggak? Mereka itu, para artis itu, seniman itu, semuanya ke Neraka!" Kata orang tadi ketus.
" Hah? A'udzubillah, apakah kamu sudah berani berkata mendahului Allah? Apa kamu tidak tahu Rasul pernah bercerita...
. .. bahwa konon ada orang bilang: Demi Allah, Allah tidak akan Mengampuni orang itu!" Kemudian Allah Membalas: ...
" Siapa yang berani bersumpah mendahului-Ku bahwa aku tidak akan Memaafkan seseorang, maka -ketahui- bahwa Aku telah ampuni orang itu..
... dan Aku gugurkan semua pahala amalmu!". Hati-hati dengan kata-katamu yang bisa menggugurkan pahala amalmu sendiri."
"Bagaimana mungkin Allah Mengampuni orang seperti mereka yang sudah tersesat masih menyesatkan lagi?" Masih saja dia bersikukuh.
" Allah Mengampuni siapapun Yang dikehendaki-Nya, Dia Kuasa atas segala sesuatu, Dia Maha Pengampun Penyayang Pengasih...
. ... Melakukan apapun yang dikehendaki. Lagipula kamu apa tahu dan apa bersama dia saat dia terbaring sakit? Siapa tahu dia bertaubat...
... yang justru karena taubat itu dosanya diampuni Allah semua. Siapa tahu juga dia diam-diam punya perbuatan baik...
.. yang bisa menolongnya di alam baka sana. Kamu tahu kan bgaimana kisah seorang PSK yg dosanya diampuni Allah sbb mmberi minum anjing?"
"Ah, kamu ini, sudah, cukup, nanti semua orang bisa saja seenaknya bilang kalau mereka melakukan dosa dan Allah Maha Pengampun."
"Siapa yg bilang gitu,kita mesti mmbedakan antara interaksi seorang pendosa dg Tuhannya, & interaksi seorang pendosa dg manusia lainnya.
. .. Seorang pendosa sudah semestinya mencela dirinya sendiri dan menyesali perbuatannya sepanjang waktu,..
adapun sikap orang lain terhadap orang yang berbuat dosa adalah mengasihani, mendekati, memberi perhatian agar dia sadar dari salahnya..
.. Bukan malah mencelanya. Seperti halnya Nabi tetap berinteraksi sosial dengan orang-orang yang salah dan banyak dosa..
bukankah pernah datang pada beliau seorang pemabuk, lantas ada sahabat yang melaknatnya, apa yang dibilang Nabi?
"Jangan laknat dia, sesungguhnya dia Cinta Allah, Cinta Nabi-Nya". Nah bgaimana Nabi bisa bilang pemabuk itu Cinta Allah, Cinta beliau?
.. Coba renungkan, ambil hikmah dibalik sikap Nabi itu. Jangan hanya mencontoh beliau dalam soal merawat jenggot sama pakai jubah saja..
.. tapi contoh juga bagaimana kasih sayang beliau, akhlak beliau, dan bagaimana cara beliau berinteraksi dengan makhluk Allah." Urainya
" Loh, kamu menghina jenggot saya ya?" si pengkritik tadi nampaknya tersinggung dg kata jenggot
" Siapa yg hina jenggotmu? Jangan sampai kita menghina sunnah Nabi. Tapi aku bilang, semestinya kamu mengikuti Nabi dlm keseluruhannya..
... tidak cuma penampilan saja, jenggot, bawahan cingkrang, sehingga malah membuatmu lupa dari hal-hal batin".
" Memelihara jenggot itu wajib, bukan sunnah!" orang itu tampaknya marah, topiknya udah beralih.
" Mas, aku tahu ia wajib, dan meski seperti itu tema bahasan kita saat ini bukan jenggot, tapi lebih dari itu."..
"Kamu kira dalam syariat ini ada hal sekunder yang tidak penting ya?!" Orang tadi semakin muntab.
" Laa haula wa laa quwwata illa billah, kayaknya Mas ini memang nggak ingin diskusi ya? Maunya debat dan tengkar melulu...
.. Maaf, aku undur diri dulu, tampak jelas sekali perbedaan prioritas prinsip masing-masing dari kita. Sampai jumpa di waktu mendatang".
" Justru saya yang semestinya pamit, nggak pantas saya berbicara dengan orang berdagu plontos kayak kamu ini!" Balas orang tadi ketus.
"Oke, Jazakumullah." Dan percakapan itu berakhir begitu saja.
[ Dialog fiktif ] ... Ya Allah, ampuni seluruh kaum muslimin dan muslimat, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Penyayang ...
Langganan:
Postingan (Atom)