28 Des 2013

Wanita Haid Yang Tidak Memegang Qur'an Adalah Ibadah

Tidak membaca Qur'an bagi wanita saat haid itu adalah ibadah, dan jika wanita haid nekat baca Qur'an maka justru maksiat dan dosa...

Saat ini mulai banyak hal2 maksiat tapi dibungkus dalam bentuk ibadah, salah satunya membolehkan wanita haid pegang Qur'an saat haid...

Yg aku herankan, yg punya pendapat wanita haid boleh pegang Qur'an adl yg selama ini jargonnya Manhaj Salaf. Sementara salaf melarang itu

Mayoritas ulama salaf sejak zaman sahabat Nabi melarang wanita pegang & baca Qur'an saat haid. Paling banter membolehkan baca tanpa pegang

Bukti nyata bahwa pendapat baru yg bilang boleh pegang Qur'an bagi wanita haid adl menimbulkan perdebatan baru & menabrak mayoritas berabad2

Apa selama 1400 tahun jutaan Ulama bahkan seukuran Imam Syafii begitu bodoh sehingga yg berpendapat baru itu mengaku paling mendekati benar?

Benar apa yg dikatakan Nabi, kategori pendapat2 baru yg menabrak pendapat mayoritas berabad2 adl Sufaha-ul Ahlam, ahdatsul Asnan... Botol

Maka, tidak memegangnya wanita haid kepada Qur'an adl ibadah, dan jika nekat memegang maka justru maksiat dan dosa

Benarkah Banser NU Mengamankan Gereja Saat Misa Menyalahi Syariat?

Selamat pagi teman2, hari ini umat kristiani sedang merayakan hari Natal dan kita ummat Islam dilelahkan dg perdebatan2 seputar Natal

Secara logika cukup aneh, wong mereka yg merayakan tapi kita yg teributkan. Hal ini tak terjadi seperti sekarang sebelum kurun 6 thn lalu

Ini belum ditambah hujatan sebagian golongan ke semisal Banser NU yg mengamankan beberapa gereja saat Misa

Aku tidak tahu, hujatan ini dilancarkan apa sebab saking nggak senengnya ke NU atau apa sebab melanggar syariat

Jika tidak suka dg NU, maka bukan bahasan, namanya orang nggak seneng apa aja yg dilakuin walau baik ya tetap nggak seneng

Tapi jika menghujat atas dasar tudingan bahwa yg dilakukan Banser NU itu menyalahi syariat, maka ini saatnya mempreteli hal itu

Apa benar ataukah salah Banser NU mengamankan Misa? Sebab ada dialog seperti ini (yg cukup tidak logis & tak sesuai kaidah mantiq)

Bagaimana hukum menjaga orang berzina? Haram... Berat mana dosa zina dg dosa syirik? Berat syirik...

Berarti bagaimana hukum menjaga keamanan orang berbuat kesyirikan? Lebih haram..." ... Dialog yg muqoddimah sughro & kubro tdk nyambung

Dan tentu saja menghasilkan natijah (kesimpulan dialog) yg kacau dan tidak atas dasar dalil. Sangat tertolak secara ilmiah

Karena jika memaksakan logika dlm dialog itu bisa jadi Rasulullah berdosa besar sebab beliau mengijinkan pendeta2 nasrani Najran...

 ...untuk melakukan ritualnya di Masjid Nabawi. Ketahuan sekali pengarang dialog tadi tidak memahami sejarah Nabi dg baik

Soal Banser NU menjaga keamanan Misa jika boleh diperkuat dg dalil akan sangat bisa kita baca dg jelas di QS. Al-Hajj ayat 40

Bahwa permasalahannya adl bukan mensetujui misa itu secara akidah, namun mengamankan manusianya. Dan kemanusiaan adl inti dari...

 ...segala hal yg diatur dan ditetapkan dalam syariah. Jadi kalau boleh pinjam istilah, justru Banser NU ini sedang tathbiq syariah

Maka menyalahkan atau menghujat Banser NU sebab menjaga misa jika dipelajari lebih dalam adl bukan soal benar tidak secara hukum

Tetapi lebih pada ketidaksukaan klasik kepada organisasi berbasis orang2 pesantren ini. Tidak lebih tidak kurang & jg tdk suudzon...

Hanya saja dibungkus dg isu berbau SARA yg memang disukai oleh para pengacau keamanan itu yg sudah berani pakai atribut jubah & jenggot

Alhasil, kembali kepada bahasan Syar'i mengamankan2 ini, jika kita mempelajari sikap Nabi pada non yg tidak memerangi adalah...

 ...membiarkan mereka dg ritual2nya. Bahkan saat perang pun Nabi berpesan untuk jangan membunuh yg sedang ibadah di rumah2 ibadah

... Makanya sering saya katakan bahwa mereka yg mengaku muslim namun beraksi membakar/meledakkan tempat ibadah artinya melawan Qur'an

Dan secara spesifik pada ayat 40 di QS. AlHajj tadi.

Lagi pula tak ada satupun dalil di Qur'an atau Sunnah memerintahkan membakar gereja misalkan. Yg ada malah perintah membakar masjid yg..

 ..sengaja didirikan untuk memecah belas semisal kasus masjid dhiror di Madinah

Pada akhirnya, saat kita kita sangat butuh sekali belajar Syama-il Nabi, ilmu khusus yg membahas perilaku2 keseharian beliau

Ilmu yg secara spesifik membahas bagaimana interaksi sosial beliau dg sesama, dg non muslim, dg lingkungan, dg semesta

Agar kita mengerti dg baik bagaimana cara beliau menerapkan syariat. Sebab kebanyakan muslim saat ini kasarnya hanya tahu teks UU-nya sj

Tapi tidak tahu bagaimana kebijakan Nabi dlm menerapkan UU itu... Dan ini hanya ada di Syama-il, bukan di Siroh Nabi yg masih umum

Seperti yg aku twitkan semalam, ternyata sangat banyak orang Islam yg tidak tahu peristiwa kontak Nabi dg Pendeta2 Kristen Najran

Atau pesan2 khusus beliau bagaimana menyikapi Kristen Koptik. Atau lupa tak ingat sejarah beliau berhubungan Baik dg Kristen Abbesinia

Atau bagaimana interaksi sosial beliau dg keluarga besar istri beliau, Ibunda Shofiyyah yg 100% klan Yahudi itu

Kita masih perlu bersama mempelajari Islam ini dg baik. Sebab saat ini kesannya (gara2 ulah beberapa orang) Islam ini isinya keras mulu

Maka kalau mengajak orang berislam kaffah (pinjem istilah) so pelajari jg dg baik sisi2 rahmat yg dominan dalam Islam

Pelajari bagaimana Syama-il Nabi. Sebab qudwah terbaik untuk penerapan Syariah ya Nabi sendiri, bukan dipaham2i sendiri

Maka pada akhirnya, tak ada sedikitpun kesalahan dari muslim yg menjaga keamanan non muslim yg menjalankan ritualnya

Karena malah bisa jadi yg non itu malah tertarik kepada Islam sebab ritual dia dijaga. Trenyuh hatinya kok ada yg sebaik ini

Dan ini juga cara dakwah yg lain. Jangan dikira dakwah itu hanya dg lisan, ngajak2 orang pakai dalil, ceramah2 saja...

Tapi dakwah itu juga bisa bil hal (dg sikap) tanpa harus berkata2, dan justru ini dakwah yg cukup kuat sebab praktek, bukan teori

Semoga mencerahkan dan semoga menambah ilmu. Tak elok saat orang lain lagi syahdu dg ritualnya kita malah bengkerengan nggak jelas

Lagian buktinya malah di antara kita sesama saudara muslim ada rasa tidak enak satu sama lain gara2 debat2 kayak gini

Dan ini seharusnya tidak terjadi sebab Nabi sangat tidak menginginkan antara sesama muslim saling bertengkar, nggak jelas lagi

Wes, ga usah ngributno wong Natalan, ben mereka bernatalan dan kita sebagai muslim jalan terus dg kewajiban2 kita sbagai muslim. Salam

Wajah Asli Islam

Ilmu itu tabiatnya panas, pendinginnya adalah dzikir kepada Allah...

Untuk menjadi muslim yg baik, agamis yang perfect, harus memahami dg baik 4 pokok agama: Islam, Iman, Ihsan, dan pengetahuan tanda2 kiamat

Selama ini orang-orang yang agamis terlalu konsentrasi kepada Islam dan Imannya saja, dan kurang memperhatikan Ihsan, jadinya kaku

Orang yg agamis banyak yg kurang bijak dalam bersikap sebab kurang begitu mendalami Pokok agama yg ketiga, yaitu Ihsan

Semakin dalam dan luas seseorang mempelajari Islam, maka akan semakin lapang hatinya menerima banyak perbedaan

Islam itu tidak seram, kenapa begitu ketakutan jika disebut2 kata syariat Islam. Lebay itu.

Islam itu tak bertentangan sama sekali dg logika. Andai nampak bertentangan, itu hanya kepahaman kita yg belum sampai saja

Islam itu mudah dan sederhana, yang membuatnya terkesan repot adalah lagi2 ulah oknum yg salah dalam menyampaikannya

Islam itu fleksibel, yang membuatnya terlihat kaku adalah ulah oknum yang salah dalam menyampaikannya

Tawassul, Birokrasi Langit

Jika kita bijak menilai, sebenarnya di antara titik permasalahan pemahaman yg dialami sebagian orang adalah salah menempatkan sesuatu.

Semisal masa-il furu'iyyah (permasalahan parsial) yg wilayahnya pada fiqih dijadikan perdebatan sbagai masa-il ushuliyyah pd wlyh aqidah

Hubungannya dg kultwit soal ziarah kubur kemarin adalah tawassul, sebab ada pertanyaan bagaimana jika saat ziarah minta pada yg mati?

Sempat aku jawab singkat bahwa meminta tetap pada Allah, adapun menyebut nama pemilik kubur hanya birokrasi. Yg kita kenal dg tawassul

Nah sebagian orang salah dalam memahami tawassul ini, runyamnya kesalahan pemahaman ini membuatnya menjudge org lain kafir sbb tawassul

Maka masalah perlu didudukkan dengan baik bahwa apa sih sebenarnya tawassul itu?

Tawassul itu seseorang meminta pd Allah hanya saja melalui perantara. Semisal duhai Nabi,aku meminta pada Allah untuk Mengabulkan hajatku

Dari susunan kata dalam tawassul ini kita bisa tahu bahwa sebenarnya tawassul adalah salah satu cara saja untuk berdoa

Artinya, tujuan utama adalah tetap kepada Allah, bukan kepada yang ditawassuli. Yg ditawassuli itu hanya perantara saja untuk mempercepat

Itu yg kemarin aku maksud dg birokrasi. Semisal kita mau menghadap Bupati, kita bisa lewat ajudannya dulu. atau sekpri-nya

Artinya orang ini yg bertawassul pada dasarnya tetap meminta pada Allah.

Berbeda lagi jika yg bertawassul ini memintanya pada yg punya kuburan dan berkeyakinan bahwa yg dikubur ini bisa memberi,ini tentu salah

Semisal yg terjadi pada sebagian orang awam yg memberikan sesajen, maka saat seperti ini praktik syirik telaj terjadi

Adapun tawassul yg benar yg seperti diajarkan Nabi adalah seperti yg sudah aku jelaskan di atas

Dan berhubung tawassul itu hanyalah salah satu tata cara berdoa, maka tentu ia bukan sesuatu yg harus atau pasti

Artinya, berdoa dg tawassul boleh dan baik, tidak tawassul juga tidak masalah dan baik. Jadi tidak ada yg perlu diributkan.

Soal kekhawatiran sebagian orang bahwa jangan2 nanti yg berziarah itu meminta kepada kuburan, menurutku ini tak lebih dari suudzon...

Kenapa kita mesti mengkhawatirkan orang lain selama dia muslim? sudah aku katakan bahwa orang Islam tak ada ceritanya nyembah kuburan

Maka kekhawatiran seperti itu tidak perlu. Soalnya kalau khawatir kok malah menyesatkan dan mengkafir2kan? hasil dari hati yg membusuk

Perihal cara dan dalil tawassul sendiri bertebaran di kitab2 hadits, salah satunya di Bukhori soal kisah 3 orang yg terjebak di gua

Maka sebenarnya ribut soal tawassul adalah hanya karena tidak memahami substansi tawassul dan suudzon berlebihan yg tak perlu saja

Semoga mencerahkan dan tak perlu galau lihat orang tawassul dg Nabi atau para Wali... mereka hanya perantara saja, bukan yg dimintai

Kesalahpahaman Mengenai Dalil Hadits 'Ziarah Kubur' - Bag. 3

Jika kita bijak menilai, sebenarnya di antara titik permasalahan pemahaman yg dialami sebagian orang adalah salah menempatkan sesuatu.

Semisal masa-il furu'iyyah (permasalahan parsial) yg wilayahnya pada fiqih dijadikan perdebatan sbagai masa-il ushuliyyah pd wlyh aqidah

Hubungannya dg kultwit soal ziarah kubur kemarin adalah tawassul, sebab ada pertanyaan bagaimana jika saat ziarah minta pada yg mati?

Sempat aku jawab singkat bahwa meminta tetap pada Allah, adapun menyebut nama pemilik kubur hanya birokrasi. Yg kita kenal dg tawassul

Nah sebagian orang salah dalam memahami tawassul ini, runyamnya kesalahan pemahaman ini membuatnya menjudge org lain kafir sbb tawassul

Maka masalah perlu didudukkan dengan baik bahwa apa sih sebenarnya tawassul itu?

Tawassul itu seseorang meminta pd Allah hanya saja melalui perantara. Semisal duhai Nabi,aku meminta pada Allah untuk Mengabulkan hajatku

Dari susunan kata dalam tawassul ini kita bisa tahu bahwa sebenarnya tawassul adalah salah satu cara saja untuk berdoa

Artinya, tujuan utama adalah tetap kepada Allah, bukan kepada yang ditawassuli. Yg ditawassuli itu hanya perantara saja untuk mempercepat

Itu yg kemarin aku maksud dg birokrasi. Semisal kita mau menghadap Bupati, kita bisa lewat ajudannya dulu. atau sekpri-nya

Lalu kenapa seseorang bertawassul? Tentu sebab keyakinan bahwa yg ditawassuli itu orang saleh yg punya link cepat pada Allah Ta'ala

Artinya orang ini yg bertawassul pada dasarnya tetap meminta pada Allah.

Berbeda lagi jika yg bertawassul ini memintanya pada yg punya kuburan dan berkeyakinan bahwa yg dikubur ini bisa memberi,ini tentu salah

Semisal yg terjadi pada sebagian orang awam yg memberikan sesajen, maka saat seperti ini praktik syirik telaj terjadi

Adapun tawassul yg benar yg seperti diajarkan Nabi adalah seperti yg sudah aku jelaskan di atas

Dan berhubung tawassul itu hanyalah salah satu tata cara berdoa, maka tentu ia bukan sesuatu yg harus atau pasti

Artinya, berdoa dg tawassul boleh dan baik, tidak tawassul juga tidak masalah dan baik. Jadi tidak ada yg perlu diributkan.

Soal kekhawatiran sebagian orang bahwa jangan2 nanti yg berziarah itu meminta kepada kuburan, menurutku ini tak lebih dari suudzon...

Kenapa kita mesti mengkhawatirkan orang lain selama dia muslim? sudah aku katakan bahwa orang Islam tak ada ceritanya nyembah kuburan

Maka kekhawatiran seperti itu tidak perlu. Soalnya kalau khawatir kok malah menyesatkan dan mengkafir2kan? hasil dari hati yg membusuk

Perihal cara dan dalil tawassul sendiri bertebaran di kitab2 hadits, salah satunya di Bukhori soal kisah 3 orang yg terjebak di gua

Maka sebenarnya ribut soal tawassul adalah hanya karena tidak memahami substansi tawassul dan suudzon berlebihan yg tak perlu saja

Semoga mencerahkan dan tak perlu galau lihat orang tawassul dg Nabi atau para Wali... mereka hanya perantara saja, bukan yg dimintai

Kesalahpahaman Mengenai Dalil Hadits 'Ziarah Kubur' - Bag. 2

Kemarin dalam kultwitku aku ungkap kesalahan penempatan dalil hadits "laa tusyaddur rihal" sebagai pelarangan ziarah kubur, semisal wali9

Kultwit kali ini masih bahas soal kuburan yang diributkan. Kasihan betul kenapa mesti meributkan kuburan, terlihat sekali kurang kerjaan

Sebagian dari yang melarang ziarah itu berargumen bahwa mereka mengkhawatirkan para peziarah itu nantinya akan menyembah kuburan

Tentu argumen seperti ini tidak beralasan kuat sama sekali sebab berdasar atas prasangka dan praduga buruk yg belum terjadi

Sebab sebodoh-bodohnya orang Islam, tidak ada ceritanya dia akan menyembah kuburan, tetapi pasti tetap menyembah Allah Ta'ala

Su'udzon (penyakit hati) yang terus dipiara ini pada akhirnya justru malah membuat hati orang itu membusuk yg membuatnya suka mengafirkan

Belum juga argumen lain yang salah tempat saat melihat orang mengirim doa pada mayit di kuburan dg dalih bahwa doa/bacaan tidak sampai

Hadits yg dimanipulasi untuk kepentingan tidak betul itu adalah hadits "idza mata ibnu Adam inqotho'a amaluhu illa min tsalats..."

Bahwa jika seseorang itu mati maka pahala amalnya terputus kecuali 3 hal, sedekah jariyah, anak shaleh yg mendoakannya, dan ilmu manfaat

Lagi2 terjadi kesalahan memahami hadits bahkan dalam dua titik sekaligus. Dan kedua2nya sangat teknis sekali. Dari Ushul fiqh dan bahasa

Ya begini akibat tidak belajar ilmu gramatika bahasa Arab dg baik dan ilmu ushul sehingga salah memahami hadits yg menimbulkan fitnah

Pada hadits itu tegas sekali dijelaskan bahwa yg terputus adalah amal perbuatan si yg mati itu, bukan pahala amal perbuatan orang lain

Artinya, pahala amal perbuatan orang lain tetap sampai kepada yang mati juga justru dengan dalil itu sendiri

Sebab pahala yang mengalir dari sedekah jariyah, doa kiriman dr anak saleh,atau ilmu dia yg dimanfaatkan, pelakunya adl orang lain semua

Oke, mungkin belum ngeh soal apa pahala kiriman doa bisa sampai apa tidak. Aku beri satu dalil cukup saja, cukup besar, Haji Badal

Haji Badal adalah haji atas nama orang lain yg sudah mati dan pahalanya deras sampai kepada yg diwakili itu. Apalagi sekedar bacaan

Argumen mentah lain yg selalu saja masih digunakan adalah bahwa hal itu tidak boleh sebab tidak dilakukan salaf...

Catat dengan baik, bahwa kata "Ini tidak pernah dilakukan Nabi", "ini tidak dilakukan salaf", adalah BUKAN DALIL

Karena bukan dalil maka tidak bisa digunakan sebagai bahan argumentasi. Lagi pula dalil itu adalah qur'an, sunnah, ijma' dan qiyas

Secara kaidah, melarang sesuatu itu harus ada dalil jelas yg melarang, sementara mengirim doa pada orang mati tak ada dalil yg melarang

Alasan pelarangan dg menggunakan argumen yg sudah lewat tadi juga tertolak secara ilmiah sbb tak ada indikator pelarangan apapun

Bahkan kata2 "hal ini (mengirim doa pada orang mati) tidak dilakukan salaf" juga tertolak sebab ada data dan fakta bahwa salaf melakukan

Salah satunya adalah periwayatan dari Imam Ahmad bin Hambal, Imam Amir bin Syarohil assya'bi, dari Ibnu Umar

Soal argumen basi "Ini tidak boleh sebab tidak dilakukan Nabi", insya Allah akan aku kultwitkan khusus, sebab sangat teknis sekali.

Alhasil, kiriman doa apapun kepada orang mati dari orang hidup tetap sampai. Bahkan Ibnu Taimiyyah membeber 20 dalil soal kebenaran ini

Akhirnya, tak perlu ragu lagi untuk kirim fatihah, yasin, buat selamatan untuk keluarga kalian yg telah mendahului ke hadirat-Nya

Semoga mencerahkan... in uridu illal islaha mastatho'tu.. wa maa taufiqi illa billah...

Kesalahpahaman Mengenai Dalil Hadits 'Ziarah Kubur' - Bag. 1

Sebenarnya,cukup banyak teks-teks suci dalam syariat yg dipahami salah oleh sebagian orang dan akhirnya menimbulkan fitnah berkepanjangan

Lebih sulit lagi jika pemahaman yang salah terhadap teks itu telah menjadi suatu konsepsi pemikiran. Maka perlu untuk diluruskan

Umumnya, inti permasalahan adalah memahami nash-nash suci itu (Qur'an-Hadits) secara tekstual saja. Dg pemahaman yg tidak sempurna pula

Semisal tidak memahami teknis bahasa, tidak memahami sebab munculnya nash itu. Atau tidak memahami korelasi dg nash yg lainnya

Satu contoh saja, semisal seseorang melarang berziarah kubur, dengan menggunakan hadits salah alamat, "Laa tussyaddur rihal..."

Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori ini lengkapnya "Laa tusyaddur rihal illa ila tsalatsati masajid..."

Bahwa tidak diperkenankan bepergian kecuali ke tiga masjid saja; masjidil haram, masjidi nabawi, dan masjidil aqsha...

Nah hadits ini begitu dipaksakan sebagai dalil pelarangan ziarah kubur...

Padahal "pemaksaan" itu justru menunjukkan kebodohan si pengguna dalil tadi, bahwa dalil disalahgunakan bukan pada tempatnya

Sekaligus menunjukkan ketidakpahaman orang itu akan ilmu nahwu yang sangat penting sekali diterapkan dalam hadits ini...

Memang hal ini sangat teknis sekali, namun ada baiknya aku ungkap secara umum saja... sesuai dg kaidah ilmu gramatika bahasa arab

Hadits di atas adalah bentuk ististna' (pengecualian)... dan dalam bentuk ististna ada yang mengecualikan dan ada yg dikecualikan

Nah antara keduanya, yg dikecualikan (mustatsna) dan sumber pengecualian (mustatsna minhu) itu harus satu kategori.. tidak boleh yg lain

Semisal, tak satupun murid yg datang kecuali Andi.. tentu nggak nyambung jika dicontohkan tak satupun murid yg datang kecuali kucing

Nah dalam hadits "Laa tusyaddur rihal", ada kata yang tersembunyi, dan kata tersebut masuk mustasna minhu (sumber pengecualian)

Berhubung yg dikecualikan Nabi itu 3 masjid, artinya kategori sumber pengecualiannya juga masjid..tidak mungkin yg lain, apalagi kuburan

Maka jika hadits tadi digunakan sebagai dalil pelarangan ziarah kubur, artinya trjadi penyalahgunaan dalil dan sengaja bohong pada Nabi!

Sementara orang yang berani bohong pada Nabi secara otomatis dia telah memesan tiket satu tempat duduk di neraka.. HR. Bukhori

Maka kata yg trsembunyi di hadits tadi adalah bukan "kuburan",sbb sangat bertentangan dg kaidah bahasa arab yg tdk mngkin dilakukan Nabi

Oke, bisa jadi sebagian orang mengasumsikan bahwa kata tersembunyi itu adalah "tempat". Tidak boleh pergi ke manapun kecuali 3 masjid

Asumsi inipun tertolak secara ilmiah sebab bisa2 kita tidak boleh pergi belajar, berdagang, rekreasi dan sebagainya.. impossible

Maka satu-satunya kata tersembunyi yg benar adalah "masjid" itu sendiri. Bukan kuburan atau yg lain

Jadi maksud hadits itu, tidak perlu kita berniat untuk sholat di masjid kota ini, kota itu, bernadzar ke sana, sebab semua masjid sama

Artinya beribadah di masjid manapun pahalanya 1 saja. Kecuali masjidil haram (100 ribu), masjid Nabawi (1000), dan masjid aqsho (500)

Dan pemahaman lain dari hadits ini juga artinya di sana tidak ada pelarangan ziarah kubur, boleh2 saja, tak masalah

Malah di hadits lain ada anjuran untuk berziarah kubur sebab ia adalah salah satu aplikasi reminder terhadap akhirat

Selamat malam minggu, moga tercerahkan.. in uridu illal islaha maa istatho'tu.. wa maa taufiqi illa billah

Besok insya Allah aku ungkap hadits/ayat yg lain yg mengalami kesalahan pemahaman, dan pemahaman yg salah itu perlu dilurusukan

Apa Yang Sebenarnya Dicari? Kebenaran Atau Keributan?

Ada sebuah fenomena yang sebenarnya telah cukup lama aku pribadi mencoba merenunginya

Sebenarnya, segala hal yang diangkat ke permukaan menjadi suatu pro kontra di negara ini, itu untuk mencari kebenaran, apa cuma ribut?

Semisal soal natal dan tahun baru, aku tidak melihat kebanyakan orang mencari kebenaran boleh tidaknya, tapi pada ributnya


Sekarang soal wanita naik motor ngangkang atau nyamping, juga menjadi permasalahan yang sama

Kenapa sekarang baru diributkan? kenapa tidak dari dulu? seolah motor baru ada kemarin sore saja

Kapan kita bisa dewasa berpikir jika hal yang hubungannya kepada pilihan pribadi, diributkan, didebatkusirkan?

Lebih bodoh lagi jika sampai membawa-bawa nama agama untuk melegalkan apa yang menjadi maunya.

Lagi pula mencari sampai elek sekalipun tak akan ada dalil yang membahas soal ngangkang atau nyamping

Kenapa begitu mudahnya seseorang saat ini membawa-bawa nama agama pada hal yang agama sendiri tidak meributkannya?

Kalau misalkan argumennya sebab lebih kepada adab atau tatakrama suatu daerah (yg masing-masing tak sama), masih mending lah

Justru membawa nama agama bukan pada tempatnya, menyitirnya untuk suatu kepentingan adalah bentuk kekejian yang luar biasa

Orang seperti ini adalah justru pembohong terbesar dan orang paling kurang ajar dan berani pada Allah dan Rasulnya

Jadi sebenarnya substansi masalah adalah bukan pada ngangkang atau nyamping...tapi lebih pada pokoknya ribut dan ramai saja, tidak lebih

Kurang kerjaan betul...sekaligus menunjukkan kualitas berpikir atau menerapkan teori yang masih menyedihkan (atau mengharukan?)

Hindarkan diri kita dari pusaran fitnah yang tak jelas seperti ini, Wallahu yubarik fina wa fikum

Maulid Sebagai Ungkapan Rasa Suka Cita

Boleh dibilang, saat ini mayoritas ummat Islam sedang berbahagia dengan hari kelahiran Nabinya, Maulid, momentum yg cukup indah

Maulid, adalah ungkapan sukacita, ungkapan cinta ummat kepada Nabinya, Nabi yang menuntun mereka dg penuh kasih sayang dan cinta

Maka, karena sebagai bentuk ungkapan cinta, sebagai salah satu media, maulid adalah aplikasi terbaik dan maulid bukan bid'ah

Bid'ah, adalah sesuatu yang baru dan bersangkut paut dengan peribadatan. Sementara maulid tidak ada sangkut paut dg ibadah

Jadi yang bilang maulid itu bid'ah, sebab tidak ada di zaman Nabi atau tidak dilakukan Nabi, perlu belajar lagi apa itu bid'ah

Tak seorangpun muslim menyatakan bahwa maulid itu ibadah. Hadir maulid cukup bagus, dianjurkan, tak hadir maulid pun tak jadi masalah

Sebab sekali lagi, dan catat ini baik-baik, perayaan maulid itu bukan ibadah dan maulid hanya bentuk ungkapan rasa cinta

Bukankah kita bebas berekspresi apa saja sebagai bentuk ungkapan rasa cinta kepada sosok yang kita cinta? maulid adalah bentuk dari itu

Lagipula agenda acara dalam maulid rata-rata adalah seremoni baca Qur'an, baca sejarah Nabi, ceramah agama, doa dan makan-makan

Apakah ada dari rentetan acara dalam maulid itu yg bertentangan dg syariat? Bahkan semua berdalil cukup kuat

Maka orang yang begitu tidak suka perayaan maulid hanya punya tiga kemungkinan saja

Alergi kepada Nabi sendiri (Jelas munafik ini), atau belum mengerti substansi maulid sebab minimnya ilmu agama, atau hanya ikut-ikutan

Maka jika tidak suka maulid, aku sarankan untuk diam, daripada berbicara yg justru bisa terjebak pada tidak suka terhadap Nabi

Ingat, cinta Nabi tidak sekedar klaim menjalankan sunnahnya saja, tapi cinta Nabi adalah juga cinta pribadinya, dan maulid untuk itu

Lagipula, melarang perayaan maulid pada saat yang sama justru melarang banyak kebaikan dalam satu waktu yang sama

Jika di sana masih ada yang keukeuh berdalih bahwa maulid tidak boleh sebab tidak ada dalil, maka tunjukkan dalil pelarangan maulid

Sebab aturan main pelarangan dalam syariat kita cukup jelas. Pelarangan membutuhkan dalil shorih. Sementara pelarangan maulid, tidak ada

Akhirnya, Happy Mawlid semuanya, saatnya mengisi seluruh hati kita dengan sosok agung yang kita cinta, Sosok Nabi Muhammad tercinta

Bersama kami ungkapkan seluruh rasa cinta kami untukmu Duhai Junjungan, Shallallah alaika Ya Sayyidi Ya Rasulallah

jumlah kaum muslimin sekitar 1.300.000.000 orang, yang merayakan maulid lebih dari 1.200.000.000 orang, yg ribut nggak sampai 20 juta saja

Survey membuktikan, dari 20 juta yg nggak mau maulid itu, kalau diberi makanan dari maulidan, juga tetep aja dimakan. Kasihan betul, lapar

Nabi bilang, laa yajtami'u ummati ala dholalah. Ummatku tak akan berkumpul dalam kesesatan

apakah masuk akal jumlah 1 milyar 200 juta muslim itu berkumpul melakukan kesesatan? yg 20 juta ini kayaknya lupa dg hadits tadi

kalau lebih dari satu milyar muslim sesat, dan hanya 20 juta yang bener, surga ntar kosong, mau dikapling sendiri kayaknya

dari 51 negara Islam yang tergabung di OKI, semuanya menjadikan Maulid sebagai hari nasional. Hanya Saudi saja yg ketinggalan kereta

perasaan juga ribut maulid ini belum ada 30 tahunan terakhir. sementara perayaan maulidan usianya 1000 tahun lebih

apa selama kurun waktu 1000 tahun itu ummat goblog semua gt? dan sekarang yg ngributin maulid lebih pinter dari jutaan ulama 1000 tahun?

dari jutaan literatur yg ditulis para ulama selama 13 abad, tak satupun kitab yg meributkan maulid. Hanya baru orang keminter akhir2 ni saja

umpama ada paling sebiji saja, biasanya berupa fatwa yang nyelip, dan itu hanya Ibnu Taimiyyah saja. Sensasi di zamannya.

masuk akal yakni selama 13 abad, atau okelah kurangi 3 abad, para ulama kita yg agung dan digdaya ilmunya itu, bodoh semua?

kayak yang 20 juta ini, menganggap sesat an-Nawawi dan Ibn Hajar al-Asqollani, tapi kitab2 karya keduanya jd referensi utama mereka. Malu2in

alhasil, anti maulid hanya sebab 3 hal saja: alergi Nabi (orang munafik ini), nggak tahu substansi maulid, atau norok buntek (ikut2an) aja

Ketenangan Jiwa Dengan Membaca Shalawat

Di antara keindahan hidup dan ketenangan jiwa adalah saat Allah Memberi inspirasi pada kita untuk membaca shalawat pada Nabi

Kesediaan membaca shalawat (apapun teksnya) adalah tanda kecintaan seseorang kepada Sang Junjungan

Shalawat, adalah pujian tertinggi ummat kepada Sang Junjungan tanpa sampai mengkultuskannya. Berapa puluh ribupun dia membacanya

Mungkin, bacaan dan dzikir apapun masih membutuhkan ikhlas agar diterima. Tetapi shalawat, tidak harus ikhlas, ia PASTI diterima

Sekali saja kita baca shalawat, Shallallah Ala Muhammad, kita telah dapat 10 pahala, naik 10 tingkat kebaikan, dan terhapus 10 dosa

10 kali baca shalawat, Shallallah 'ala Muhammad 10x, kita dapat 100 poin pahala, naik 100 peringkat klasemen, hilang 100 dosa

100 kali kita baca shalawat, Shallallah 'ala Muhammad 100x, kita berhak atas pertolongan dari Nabi kelak pada hari kiamat

Dan seseorang yang mendapat pertolongan Nabi, tak ada hadiah terbesar baginya kecuali surga...

Bagaimana jika seseorang dalam kesehariannya membaca ribuan atau sampai puluhan ribu shalawat?

Lagipula sebenarnya membaca shalawat pada Nabi adalah perintah sunnah yang tercantum abadi dalam alqur'an ... al-ahzab ayat 56

Kesukaan seseorang membaca shalawat pun bisa menjadi tanda khusus (yg tidak diperhatikan orang), bahwa akidah orang itu, selamat

Sebab hanya orang-orang moderat (wasathi) saja yang selama ini terlihat begitu gemar bershalawat, yg lain.. masih ada alergi

Bukan judgement, namun fakta bahwa kecintaan seseorang bershalawat adalah sinyalemen bahwa dia total menerima apa yg dibawa Nabi

Seseorang yg gemar bershalawat pun tak pernah keberatan jika Sang Junjungan dipuji setinggi-tingginya, selama tidak dikultuskan

Seseorang yg gemar bershalawat tak ada sedikitpun di hatinya pikiran mengkritisi Nabinya atau ajaran-ajaran agungnya.

Seseorang yang gemar bershalawat tidak akan pernah mempermasalahkan apapun aktivitas yg berhubungan dg penghormatan Sang Junjungan..

Artinya, menilai seseorang itu moderat atau tidak, salah satunya bisa dilihat dengan kebiasaannya, suka baca shalawat apa tidak.

Usahakan minimal sehari semalam kita baca shalawat 100x, meski dengan teks shalawat terpendek, Shallallah Ala Muhammad, hanya 30 detik

Pujilah Nabimu sepuasmu, asal tidak seperti cara orang Kristen memuji Nabi Isa, sampai menuhankannya

Akhirnya, yuk bershalawat, Shallallah alaika Ya Sayyidi Ya Rasulallah :)